Rumput Liar

Rabu, 22 November 2017

Maiyahan ke 5: Titik Kesempurnaan


Kesempatan langka bisa foto kayak gini, haha

Ya Allah ya mannanu ya kariim
Ya Allah ya rohmmanu ya rokhim
Ya Allah ya fattakhu ya khalim
Ya Allah ya rohmanu ya rokhim

Ya Allah dzakirna mimma nasina
Ya Allah ‘allimna ma jahilna
Dunyaa majnuunun wa nas malnguunun
Hunaka jahilun hunna majhulun

Innaka syafiuna min khoufi ‘adzabillah
wa anta roja’unaa lidhaf’i jaamiil balwaa
Ya tohaa khabibunaa fi aydika nasibuna
Anta yasin nasibuna tusallimu khayatana

Butira air langit menyerbu  bumi Yogyakarta sejak sore. Posisiku di kampus hendak ke Amplaz bertemu denga teman dari Jakarta. Baru setelah maghrib pamit, shalat maghrib dan otw Pandes. Jangan bertanya soal macet. Jalan solo beserta hingga area kota selalu padat dengan kendaraan apalagi ditambah jam pulang beserta dibumbui hujan. Wah nikmat suasana malam jogja kali ini bisa ku teguk mesra. Entah jadi maiyahan atau tidak yang jelas aku tetap bertandang ke tempat Mbak Tari.
Beruntungnya, saat menginjak jam maiyahan hujan tidak terlalu deras. Mungkin memahami niat baik kami yang hendak mengadu dan nyuwun ilmu kepada sang empunya jagat raya ini. Sampai di majlis, kami mendengar suara simbah guru, kami kaget.
“Wah wis munggah to,” kami saling melempar tanya. Padahal jam 20.00 belum genap melingkar di jam tanganku.

Pertanyaan kami terjawab saat sampai di dalam majliis area panggung. Belum ada siapapun di atas panggung. Suara itu hanya rekaman. Kami lungguh di samping kanan kamera. Selang beberapa saat salah satu pegiat maiyah munggah dan memimpin membacakan surat Yusuf.

Suasana semakin ramai. Pelungguhan kami memang basah, merembas dari bawah, barangkali itu sisa – sisa hujan sore tadi. Usai ngaji, panggung diisi oleh band indie membawakan beberapa lagu. Baru setelah itu kiai kanjeng mengambil alih. Membuka acara dengan mengajak bershalawat. Kami berdiri. Beberapa lampu dimatikan. Intro lagu itu membisikiku tentang lagu tersebut. “Embaaak, aku suka. Suka banget. Ini favoritku, sohibul baiti,” bisikku tapi lumayan keras dengan nada riang.

Ya lagu shohibul baiti selalu membawa kesyahduan tersendiri. Aku menutup mata. Menelanjangi diri dari urusan dunia untuk menyatu dengan sang empunya diri. Sangat syahdu. Selesai dengan itu kami lungguh dan mulai belajar dzikiran. Teks lengkapnya sudah ku tulis di awal tulisan ini.
Pada dasarnya aku tak pernah percaya dengan kebetulan. Tapi sungguh dzikir di awal ini adalah salah satu yang ku cari. Aku pernah mendengarnya dari Kiai Budi Harjono Semarang di video. Alhamdulillah pas sekali.  Cukup lama jamaah maiyah diajak dzikir dan menghafal isi dzikir tersebut. Baru sekitar jam setengah 12an, mbah Nun munggah bersama tamu dan beberpa sesepuh maiyah. “Saya mau tanya dulu, gimana posisi tempat dudukmu? Aman?,” mbah Nun bertanya.

Sebagian jamaah menjawab aman sebagian lainnya menjawab banjir. Mbah Nun ngendiko tentang kesempurnaan. Bahwa manusia memili kesempurnaannya masing – masing. Contoh angka 5, kesempurnaan angka 5 ya 5. Buka 4 atau 6. “Maka hidup itu memang harus sempurna. Sempurnanya setiap orang berbeda – beda. Pass dengan presisinya sendri. Disinilah letak gunanya ilmu. Ilmu adalah alat untuk mencari passnya yang diinginkan Allah,” terang mbah Nun.

Kemudian disusul dengan berbagai nasehat dan butiran – butiran hikmah mengenai berbagai persoalan. Otakku ini barangkali memang bebal sehingga hanya beberapa hal yang nyresep ning ati. Tapi ini saja sudah alhamdulillah dapat ku pahami. hehe

Malam ini selain ada Kyai Muzammil, ada juga tamu, seorang peneliti. Lupa engga tak tulis namanya. Duh. Beliau meneliti tentang sejarah dan kekayaan bumi yang menurut asumsinya ada banyak hal yang disembunyikan sejarah. Setiap yang angker pasti ada sesuatu yang disembunyikan di dalamnya. Menariknya kyai Muzammil mengaitkan hal ini dengan apa yang dialaminya. Beliau bertemu dengan guru cak Nun, Umbu Landu Paringgi. Umbu menyampaikan rencananya untuk mempertemukan cak Nun dengan salah satu ahli yang mengetahui tentang kekayaan Indonesia pada 27 mei mendatang. Namun belum juga dipertemukan orang tersebut sudah meninggal. “Allah memberikan kunci rahasia kekayaan bumi kepada Rasulullah. Tapi kanjeng nabi tidak memberi tahu kunci – kunci tersebut. Karena khawatir akan terjadi perpecahan hanya karena harta. Jangan – jangan Allah memanggil orang yang mengetahui  rahasia ini karena alasan hal ini pula” ungkap kyai Muzammil.

Di tengah  acara, gerimis mulai menyapa kembali. Kenapa kau menghindar dari rintik – rintik hujan, seadngkan Allah memberikan rizki di setiap butirnya. “Dadi nek udan ojo do lungo. Tetep lungguh di tempat,” ucap mbah Nun sambil dibarengi tawa.

Tamu yang lain adalah Pak Eko, seorang dokter. Beliau menangani kanker dan sedang mencoba pengetahun mengenai pengobatan berbasis individu. Intinya adalah setiap orang dapat kembali sehat dengan penyembuhan yang berbeda – beda. Walaupum gejala yang diderita sama. Selain itu juga dibahas mengenai makna puasa dalam surat Al-Baqarah ayat 183. Puasa tidak hanya menahan makan dan minum tapi juga menahan dari makanan atau dzat yang membahayakan tubuh. “Dari sinilah terlihat puasa dapat menyembuhkan berbagai penyakit karena berpuasa dari dzat yang merusak. Karena itu di dalam Al Qur’an menyuruh kita berpuasa agar kita sehat.

Ada banyak hal yang disampaikan mbah Nun dan para pemantik lainnya. Hingga sampai pada sesi tanya jawab. Ada yang bertanya tentang kesurupan dari segi kedokteran. Hal ini memancing kru kiai kanjeng bercerita tentang pengalaman mereka seputar kesurupan. Ada juga orang asal Cirebon yang curhat terlebih dahulu dan meminta saran untuk perjalanan hidupnya kedepan. Ada pula yang bertanya ihwal mimpinya bertemu cak Nun. Ah diskusi makin gayeng saja. Aku suasana terkadang sunyi mendengar pemaparan atau kadang terbahak karena statmen dan celetukan dari berbagai pihak yang ada di majlis maiyah.

Sudah ya, capek juga nulis tentang malem pitulasan. Lain kali akan ku selipkan notes di hapeku agar lebih banyak poin – poin penting yang dapat meresap juga di hati dan dapat terimplementasi dikehidupan kita. Aamiin. Sekali lagi ilmu iku kelakone kanti laku.

Saptosari, 19 November 2017.

Dapat tempat duduk di tengah. Alhamdulillah..

Minggu, 05 November 2017

Maiyahan ke 4: Menciptakan diri

Suasana menginjak tengah malam, yang di depan geser. Yang belakang ke depan. hehe


Kamis, 02 November 2017 Pukul 19.00 Aku masih menikmati makan malam sambil diskusi mengenai Rencana Program Kerja (RPK) tugas kuliah. Padahal mbak Tari  (teman Maiyahan) sudah menunggu di kediamannya, Pandes. Aku mulai gelisah, antara budal atau stay at home. Ingin sekali membaca pesan mbak Tari, “Ya udah kalau emang masih lama rapatnya, ngga usah berangkat. Aku ngga apa2 berangkat sendirian,” tapi nyatanya, tidak . Sudah kadung janji, ya sudah berangkat. Kurang lebih pukul 19.30 aku sampai  di rumah yang ku tempati. Ambil jaket, charger Hp lalu cuss ke Pandes.

Suasana sudah sangat ramai. Mbah Nun sudah munggah ke panggung. Rasanya beda. Tentu saja beda. Ini adalah majlis masyarakat desa. Mbah Nun diminta mengisi acara dalam rangka perayaan hari jadi desa Guwosari Pajangan, Bantul. Acaranya di Balai desa. Mbah-mbah bersama anak dan cucunya sudah duduk manis digaris depan. Sebelah kiri duduk rapi para pemuda berkopyah Maiyah. Aku berbisik pada mbak Tari mengenai suasana ngaji yang amat sangat jauh berbeda dengan suasana di majlis Mocopat Syafaat atau majlis Maiyah lainnya. “Ya jelas beda. Ini kan majlisnya masyarakat desa. Yang datang kesini bukan semuanya orang Maiyah. Jadi berbeda dengan keadaan Mocopat Syafaat. Mereka sudah rutin dan tau harus bagaimana berlaku,” ucapnya.

Mbah Nun menerangkan berbagai konsep mengenai kerukunan, agama, politik dan lain sebagainya. Tak lupa juga mbah Nun menyampaikan mengenai majlis ini. Majlis ini adalah majlis mencari kebenaran. Bukan pembenaran “Jangan mengandalkan kebenaran tapi kita harus mengandalkan kebijakan,” papar Mbah Nun.

Ada banyak hal yang dipaparkan Mbah Nun. Kyai Muzammil juga turut serta menyampaikan keluasan ilmunya pada saat tanya jawab berlangsung. Ya momen itu semakin terlihat ke-maiyahannya saat menjelang tengah malam. Diskusi tentang makna Mujasima, Syahid dan pembahasan menganai mendidik anak. Dua dari pemabahasan disitu cukup berat. Berat untuk menuliskannya disini. Maklum lah, ilmuku iseh kelas teri. Mbok menowo nek tak jelaske keliru. hehe

Berbicara tentang mendidik anak tidak bisa terlepas dari dunia pendidikan. Hal ini juga termasuk kedalam bab-bab keresahan hatiku. Pendidikan sejatinya ada di tangan kedua orangtuanya. Karena merekalah yang menjadi role model nyata bagi anak – anaknya. Itu sih hanya hasil analisaku. Mungkin akan menjadi salah satu tulisanku di masa yang akan datang. Kapan, Far? Entahlah.

Si penanya memulai diskusi dengan mengungkit statmen Mas Sabrang mengenai kesalah pahaman  pendidikan di Indonesia. Bahwa pendidikan pada saat ini hanya menjadikan anak sebagai perpustakaan bukan belajar berpikir. Kemudian bertanya jalan  keluar dari masalah tersebut. Beliau seorang bapak dari dua orang anak. Mbah Nun menjawab bahwa sesuatunya tergantung kecondongan hatimu. “Yang penting hatimu, batinmu bagaimana dengan anakmu. Jangan lupa bahwa yang mendidik anakmu adalah Allah itu sendiri. Allamal insaana maa’lam ya’lam” kata Mbah Nun.

Disusul penjelasan dari Kyai Muzammil mengenai ilmu pengetahuan. Beliau ngendiko bahwa ada 2 jenis ilmu pengetahuan. Pertama ilmu fardu ‘ain yaitu ilmu mengenai hal -  hal yang sekarang dijalani. Contohnya ilmu menjadi anak ya haris tau menjadi anak itu seperti apa. Kedua ilmu fardu kifayah yaitu ilmu yang tidak semua orang harus tau. “Ini bergantung pada bakat masing – masing setiap orang,” ungkap Kyai Muzammil.

Mbah Nun juga menyampaikan tentang makna dari surat apa ya, aku lali. Intinya, mengingat Tuhan dalam keadaan apapun. Baik itu pada waktu duduk, berdiri ataupun berbaring. Hal ini juga diselaraskan dengan bagaimana “menciptakan dirimu sendiri dalam keadaan apapun”. Aku menengok rumah pemahamanku bahwa hal tersebut berkaitan dengan “memposisikan diri” ataupun menggali fokus. Misalnya, Aku susah menulis kalau dalam keadaan ramai atau bersama teman-temaku. Bawaannya pengen ngobrol, hehe. Nah ini berarti Aku belum bisa menerapkan konsep “menciptakan diri”. Padahal orang zaman baheula tidak tergoyahan karena situasi dan kondisi apapun.

Mbah Nun juga menyampaikan bahwa orang itu harus tekun. Beliau menceritakan bagaimana aktifitas menulisnya. Berbicara tentang skenario film Rayya, Cahaya di atas Cahaya, yang ditulisnya di atas pesawat menggunakan hanphone. Duh, jadi malu. Aku masih bergantung pada mood. Parah !
Malam itu juga ada sesi dimana para remaja masjid untuk turut bersholawatan di atas panggung. Syahdu sekali. Diakhir sesi mas Doni dan temannya menghibur para jamaah dengan dialog ora nggenah tapi gayeng tenan. Serru dan gokil abis !


Acara selesai jam 1 dini hari. Lalu dilanjutkan doa bersama dan kami berkesempatan untuk menyalami mbah Nun beserta para pengisi acara. Alhamdulillah ala kulli hal.

Embakku pendekar. Ini foto diambil sore sebelum berangkat Maiyahan di kantor Rifka Annisa

Aku dan Diriku yang lain

Pikiranku melayang jauh entah ke negeri mana
Tentangku, duniaku, hidup ku dan segala sesuatu yang ada di sekelilingku
Kadang, aku bertanya,
Apakah aku terlalu banyak berpikir?
Terlalu banyak bertanya?
Aku tau jawabanmu,
Keseimbangan.
Seperti biasa, ucapan selalu selancar kilat.
Sedangkan laku bak “kebo kebelet”
Sulit berjalan di dalam tanah berlumpur
Aku ingin melakukan ini dan itu
Merasakan ini dan itu
Tapi semuanya terpaku pada dinding besar bernama “kekhawatiran”
Ah bukan hanya itu,
Semuanya terbentur pada “kekalahanmu” melawan dirimu sendiri.
Tuhan, didik aku untuk belajar mengenalmu.


Yogyakarta, 03 November 2017

Senin, 23 Oktober 2017

Margi ing kaleresan

Kami menunggu berjam-jam di lobi itu. Tak kunjung ku temui wajah teduh itu. Wajah yang selalu dinanti – nanti kehadirannya. Beruntung, kami terhubung dengan salah satu panitia. Baik hatinya, luhur budinya. Beliau meminta kami menunggu di bawah saja.

Satu jam berlalu. Tanda – tanda itu mulai tampak saat breakfast. Kami hanya menatap jauh. Melihat gerak gerik laku lampahnya. Berharap dapat melantunkan tujuan kami. Sekalipun hanya seperempat atau seperlima waktu yang ada. Tak apa.

Menunggu lagi. Kami disapa dengan hangat oleh para rombongan. Ada ibu – ibu sepuh dan mbak – mbak yang begitu ramah. Sebagian lainnya bapak – bapak  yang berbaik hati mengarahkan untuk ini dan itu. Mereka saling mengenalkan satu sama lain. Mengajak lainnya mengenal kami. (Ini hal yang jarang ku temui)

Mereka berlomba bertanya kepada kami. Silih berganti. Saling berlomba mengarahkan dan memberi saran. Kami lagi – lagi merasa diuwongke.

Hal yang dapat kami lakukan hanya terus memperhatikan. Berharap ada kode – kode  menuju tujuan yang ditunggu. Saat kami saling melongok, tangan mbak yang baik hati itu melambai. Meminta kami untuk segera bergabung disana.

Kami duduk di bawah. Bergantian mendapat blessing.Wajah teduhnya dapat kami saksikan langsung. Kami kira tujuan awal kami sudah selesai. Tapi belum katanya. Nanti setelah chek out. Kami akan menghadap lagi. Menunggu lagi. Lama lagi. Tak apa lah. Mumpung padang rembulane. Mumpung jembar

Seperti momen menunggu yang pertama. Kami lagi – lagi diarahkan oleh banyak orang. Saling berlomba memberi kontribusi. Saling berlomba melihat kepekaan. Kami hanya berdecak kagum, salut. Seperti saudara jauh yang baru bertemu lagi.

Saat itu pun tiba. Kami lungguh. Tak hanya kami bertiga. Banyak yang melihat prosesi itu kemudian langsung bergabung. Seperti yang sudah diarahkan, aku menyentuh pundak kanan guru sekaligus mbakku. Sedangkan beliau menyentuh pundak suaminya yang bersentuhan dengan wajah teduh itu.
Alhamdulillah. Prosesi selesai.

Semoga Allah membalas orang – orang yang berlomba membantu kami.
Aamiin.




23 Oktober 2017

Hotel Grand Inna Garuda, Malioboro – Yogyakarta.

Siapa yang tak mau?

Siapa yang tak mau ?
Berpetualang dengan bertumpuk  buku – buku klasik?
Mengupas persoalan tentang ini dan itu
Menguji analisis ketajaman masing – masing  diri
Sekalipun kau harus menahan rindu dengan bantalmu karena waktu merangkak naik pada kesunyian
Sekalipun kau harus tergopoh – gopoh terbangun untuk melawan diri sendiri ketika fajar masih berselimut
Siapa yang tak mau?
Makan bersama dengan teman – teman sejawat?
Satu nampan  bertiga, berenam  bahkan kadang bersembilan atau lebih,
itu menjadi amunisi para pencari berkah
Siapa yang  tak mau?
Berjamaah melantunkan puji – pujian pada kekasih Allah,  kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Khusuk dalam melafalkan kalimah toyyibah dalam pusaran syahdu melambungkan hingga ke Arsy
Siapa yang tak mau?
Menerima wejangan dari para ulama, para pemilik ilmu, para penyeru ke pada margi ing kaleresan
Lalu mengupas diri untuk menemukan diri yang sejati.
Siapa yang tak mau?
Siapa yang  tak mau?
Siapa yang tak mau?
Jika kahanan tak lagi mampu bersahabat, maka doaku adalah biarlah dzurriyahku yang mewakili diri kelak.
aamiin.


Yogyakarta, 23 Oktober 2017

Sabtu, 21 Oktober 2017

Maiyahan keloro : Posisimu nek endi?

Liat deh, posisinya,,, (wes Far, mbok disyukuri,,hehe)


Sinau bareng Mbah Nun digelar di Masjid Syuhada Yogyakarta, Kamis 28 Septemer 2017. Momen ini dalam rangka memperingati ulang tahun masjid. Alhamdulillah bisa hadir setelah berjuang menenangkan hati dalam keadaan yang serba ‘ngga enak’.

Ditemani sedulurku, Mbak Nia, sekaligus teman baru, mbak Revi. Nyampe sana sudah padat. Tak ada celah. Jadilah lungguh di samping panggung. Tidak terlalu jelas menatap mbah Nun. Tak apalah. Sudah bisa ikut ngaji pun wes syukur Alhamdulillah.

Berbeda dengan majlis Mocopat Syafaat, sinau bareng Cak Nun hanya sampai jam 12 malam. Ini sudah menajadi semacam kontrak. Esoknya mbah Nun mengisi acara di Solo. Meskipun singkat, tapi para  jamaah dapat mengambil poin-poin dalam majlis ini.

Mbah ngendikan mengenai bagaimana memposisikan diri dalam dimensi kebenaran. Seperti yang sering kita dengar mengenai pembagian golongan setelah wafatnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW, bahwa ummat Nabi akan terbagi menjadi 72 golongan. Hanya ada 1 golongan yang benar yaitu para pengikut sunnah Nabu ‘Ahlusunnah wal jamaah’. “Kita noto diri. Kita posisikan sebagai golongan yang bukan orang yang benar itu. Agar kita selalu berusaha memperbaiki diri menjadi yang satu golongan,” tutur Mbah Nun.

Ya, Mbah Nun selalu mengajak kita untuk noto hati dan pikiran. Karena kita selalu diselimuti prasangka benar salah. Merasa paling benar, paling baik, paling alim, paling shalat dan paling-paling lainnya. Aku berlari ke rumah pemahamanku. Mungkin ini juga yang diingatkan oleh sayyidina Ali bin Abi Thalib.

“Jika kau melihat orang lain, pandanglah dia sebagai orang yang lebih baik darimu. Jika dia dalam keadaan buruk, pandanglah bahwa dia akan bertobat dan lebih baik darimu,”
Nasehatnya ngga sesimpel ini sih, tapi ini yang aku ingat. Lucunya sampai sekarangpun belum bisa sepenuhnya aku terapkan. Uangeeel pol !
Mbah Nun menguraikan mengenai menjadi ini dan itu. Lalu muncul pertanyaan, yang paling enak itu jadi apa? Semua terdiam.

“Jadi diri sendiri” aku mendengar lemparan jawaban dari jauh. Dari salah satu jamaah laki-laki.
“Yang paling enak adalah menjadi hamba Allah. Kesadaran diri bahwa kita ini hamba Allah. Maka tak ada yang bisa mengatur kita selain Allah,”terang mbah Nun.

Aku berlari lagi menuju rumah pemahamanku. Ini juga yang pernah disampaikan mbah Nun mengenai perjalanan jauh kiai kanjeng dan Letto. Mereka benar-benar hidup dengan cara Allah. Keluar dari jalur yang biasa dilakukan manusia. Mereka mengikuti jejak-jejak fatwa hati. Semua kembali pada konsep penghambaan diri.

Banyak hal yang disampaikan Mbah Nun. Sayang, barangkali otakku yang bebal. Hanya sedikit yang ku tangkap. Aku menengok layar hpku. Mencontek catatan di layar hp. Hanya sedikit yang ku catat. Tidak terlalu mengurai penjelasan juga. Barangkali  ada hal – hal yang membuatku tak khusuk menyimak. Duh.

Well, ini adalah tulisan paling terlambat. Tapi semangatku untuk mengabadikan perjalanan hidupku masih keukeh ku juga. Ya ini lah yang bisa ku tulis. Maklum saja, memandang leptop selalu teringat pada proposal. Nah, nek gini piye lek nulis liyane. Ora iso blasss.


Yogyakarta, 21 Oktober 2017.







Ini pas pertama kali dateng. Iseh sepi.
                                    

Jumat, 20 Oktober 2017

Paseduluran Maiyah


Pitulasan bulan Oktober

Saya sedih terlalu sedih karena selalu terlambat untuk menuliskan setiap hal yang seharusnya saya tulis. Barangkali bisa dikodo akan saya lakukan. Sekalipun entah deretan huruf itu tak lagi dapat terangkai mampesona.

Aku masih duduk termangu di dalam majlis Mocopat Syafaat di Bantul. Sebelahku ada teman baru, Mbak Tari. Aku baru mengenalnya hari ini. Entah ada tarikan dalam frequensi yang sama hingga kami saling menemukan. Akhirnya, jadilah kami dalam majlis ini.
Ini adalah kali ketiga aku mengikuti majlis maiyah namun ke dua di majlis Mocopat Syafaat. Bagiku yang kehilangan majlis-majlis, momen seperti ini layaknya musafir yang menemukan oase kehidupan.

Kami datang cukup awal. Sekalipun  pelungguhan di depan sudah penuh. Untunglah masih ada celah di tengah. Acara dimulai dengan tadarus surat An-Nisa. Syahdu. Mungkin karena nada dari pelantun di atas panggung membangkitkan suasana. Suarane apik. Sayang ada kaidah membaca yang kurang pas denganku.

Shadakallahul adzim. Berhenti di surat An-Nisa ayat 100. Dibuka oleh para pegiat Maiyah. Aku tak mengenal mereka. Suasana baru menanjak riuh ketika Kyai Muzzamil rawuh di atas panggung. Lalu mengajak diskusi para jamaah Maiyah.
“Kaidah berpikir feqih (maksudnya fiqih) itu ada tiga hal. Ada sebab, syarat, dan mani. Contohnya shalat. Sebabnya sudah masuk waktu, syaratnya ada banyak seperti islam, baligh, berakal sehat dan sebagainya. Lalu mani adalah terhalangnya apa yang dituju karena suatu hal. Contohnya keluar darah haid,”ungkap kyai Muzammil.

Kemudian beliau analogikan dengan pola pikir jaman sekarang yang terlalu saklek dalam memandang setiap perkara. Perihal contoh-contoh ini  lah yang bikin ‘ngakak’ jamaah. Setelah satu jam berlalu, barulah Mbah Nun beserta Bu Via rawuh menyapa jamaah yang mayoritas anak muda ini. Ada sih bapak-bapak dan ibu-ibu tapi bisa diitung dengan jari. Lebih mayoritas lagi laki-laki muda. Perempuan seusia saya sangat sedikit. Hampir 20 % kira – kira segitu.

Sayang, Mas Sabrang tidak ikut hadir malam ini. Berbeda dengan pitulasan bulan kemaren. Mas Sabrang rawuh dengan formasi lengkap personil Letto Band. Tak apa memang. Aku tetap mampu melebur menjadi satu dalam majlis Maiyah ini.

Nomor yang dibawakan kiai kanjeng yang pertama adalah bang-bang wetan. Aku langsung bersorak ria. Ini salah satu lagu favoritku. Suara bu Via yang mendayu-dayu syahdu ditambah alunan musik kiai kanjeng yang mampu menarik diri pada irama asik. Ah pokoe asik tenan !.

Mbah Nun membuka diskusi dengan menyapa pemuda dari Papua. Kemudian meminta mereka bergabung diatas panggung. Ya, tema hari ini sepertinya tentang plurarisme dan keIndonesiaan. Mungkin benar, mereka adalah kaum minoritas di tanah Yogyakarta yang kerap kali mendapat perlakuan diskriminatif. Itu menurut pengalaman mereka. Merefleksikan diri pada pengalaman yang saya alami. Stigma negatif tentang mereka wis kadung nempel karena ulah sebagian dari mereka yang kurang apik. Saya pernah ketakutan di tengah jalan dengan tingkah usil seseorang.  Dia laki - laki berwajah Papua mendekati motorku dengan wajah melotot dan hampir menyerempet motor yang ku kendarai. Dia tak memakai helm sehingga saya ingat betul tatapan menyeramkan itu. Ternyata dia juga melakukan ha yang kepada orang lain di depan saya. Ditambah lagi selentingan tentang mereka dalam suatu wilayah membuat gaduh warga suatu desa di desa tersebut. Stigma ini semakin terpojok dengan mereka yang minoritas di jogja, non muslim.

Mbah Nun memberi saran agar orangtua mereka yaitu pemerintah Papua dan Yogyakarta seharusnya duduk bersama untuk membicarakan banyak hal terjait para perantau ini. “Lah nek moro ning aku, aku ki udu sopo-sopo. Aku ki podo karo sampean. Rakyat biasa,” tambah Mbah Nun.
Rasanya jika aku menuliskan semua hal yang terjadi disana, tak mungkin selesai dalam semalam. Hehe. Ah kadang kata tak mampu melukis rasa. Menjelang akhir sesi, sekitar jam 2 dini hari, hujan turun. Mungkin ia juga ingin di tengah – tengah majlis ilmu ini. Kami yang ada di dalam semakin merapatkan diri agar sedulur maiyah lain dapat ikut merapat, berteduh.

Di sinilah, aku merasa paseduluran yang terasa kental. Kita saling ngemong, saling peka satu sama lain. Tempat dimana aku lungguh mulai dibanjiri air, akibat bocor dari atap. Samping kanan ku mas-mas memberikan bekas cup kopi untuk menampung air. Lalu dari arah belakang memberi plastik agar air tak loncat kanan kiri. Ah. Aku merasa diemong tenan. Apa karena sifatku yang baper? Ah tidak juga. Mbak Tari juga ngemong sedulur maiyah yang lain. Agar tidak kehujanan, tidak basah karena air dan memastikan kita semua nyaman. Mungkin itu sedulur sing tenanan.

Majlis ditutup dengan do’a yang dipimpin pak Kiai Muzammil. Lalu setelah itu aku berkesempatan untuk mencium tangan Mbah Nun. Alhamdulillah. Setelah perjuangan antri berdesakan. Nggak nyaman juga sih. Duh. Tapi bersyukur bisa sowan langsung kepada Mbah Nun.


Yogyakarta, 20 Oktober 2017