Rumput Liar

Tampilkan postingan dengan label Catatan asa ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan asa ku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 November 2017

Aku dan Diriku yang lain

Pikiranku melayang jauh entah ke negeri mana
Tentangku, duniaku, hidup ku dan segala sesuatu yang ada di sekelilingku
Kadang, aku bertanya,
Apakah aku terlalu banyak berpikir?
Terlalu banyak bertanya?
Aku tau jawabanmu,
Keseimbangan.
Seperti biasa, ucapan selalu selancar kilat.
Sedangkan laku bak “kebo kebelet”
Sulit berjalan di dalam tanah berlumpur
Aku ingin melakukan ini dan itu
Merasakan ini dan itu
Tapi semuanya terpaku pada dinding besar bernama “kekhawatiran”
Ah bukan hanya itu,
Semuanya terbentur pada “kekalahanmu” melawan dirimu sendiri.
Tuhan, didik aku untuk belajar mengenalmu.


Yogyakarta, 03 November 2017

Senin, 02 Oktober 2017

Duh Gusti

Duh Gusti
Mugi paringo ing margi kaleresan
Kados margining manungso kang manggih kanikmatan
Sanes margining manungso kang paduko laknati

Duh gusti
Biarkanlah aku menumpahkan asa ini pada hamparan putih ini
Lidahku kelu
Aku tak lagi mampu menata hati dan pikiranku
Gusti
Ada banyak pertanyaan yang bergelayut dalam setiap detik yang berlalu
Kepada siapa aku bertanya
Selain pada-Mu yang maha tau
Gusti
Bawa aku pergi dalam gemerlap ini menuju kesejatian menyatu bersama Mu
Barang kali otakku yang belum sampai
Hingga akhirnya hanya lakuku yang terus ku lakukan.
Meski tanpa makna
Hanya berusaha mencari makna dari setiap gerak gerikku.
Nyuwun tulung gusti.
Papah aku yang terseret ini
Yang tertatih - tatih mencari cahaya itu.
Mencari petunjuk agar diri yang tak bermakna ini memahami mengenai 'kebermaknaan'


Yogyakarta, 02 Oktober 2017

Senin, 04 September 2017

Jatuh cintalah hanya kepada Suamimu, Far.

Ngladon-Tambakan-Jogonalan-Klaten

Aku limbung dalam lautan emosi
Tak dapat ku mengerti diri yang berhadapan dengan sepasang mata itu
Hanya ada letupan emosi tak tentu arah
Membisu bukan jalan yang ku pilih
Pun juga bersuara,
Karena lidah tak bertulang
Hingga hanya terdengar tarikan nafas berat
Ya, pergi dari situasi ini adalah salah satu jalan terbaik.
Perempuan mana yang tak ingin meneguk kasih
Sedang hal itu adalah fitrah dari setiap manusia
Sayang, diri tak pernah benar-benar memahami kasih sempurna
Kasih bermusim atau memang kekal karena dibumbui keridhoan-Nya

Aku tak pernah benar – benar menyapa diri yang peluh akan kasih
Ya, masih harus menyapa diri yang lain
Bernegosiasi tentang ini dan itu
Harus ku akui rindu pada –Nya membawaku melabuhkan kasih pada setiap yang ada
Tapi gustiiiiiiiiiii
Apalah arti dari semua ini
Jika selalu menyesakkan dada setiap saat
Menarik diri yang lain untuk hanya peduli pada sorot mata itu
Ujian kah ini?
Sudah waktunya kah aku menaiki tangga lagi?
Aku menunduk
Memohon menguatkan setiap diri yang terus menerus saling mengalahkan

Jatuh cintalah hanya pada suamimu, Far.

Karena lara takkan kau tanggung sendiri.


Yogyakarta, 4 September 2017

Minggu, 19 Maret 2017

Merindu

Gemericik hujan mengiringi langkah kecil pada peraduan yang dinanti
Senyum sapa, peluk kasih tak luput menghujani diri
Kisah-kisah berduyun mengantri
Menyimak analisa sosok periang yang terpatri
Lagi-lagi alunan lembut dari bilik-bilik tempat sujud menyentuh lembut qalbu ini
Dan kau masih terpatung disana serta melempar pertanyaan
"apakah kau merindu?"

Dalam balutan shubuh
Piyungan, 19 Maret 2017

Kamis, 09 Februari 2017

Nuansa Syahdu itu..

Ba'da shubuh di Pare


Sirahku tertutup bantal. Sengaja aku lakukan untuk menutupi mata dari sinar lampu yang sengaja pula tak ku matikan. Niatnya, aku akan bangun pukul 20.30 karena schedule  malam ini mengedit tulisan yang sudah 70% jadi. Sayang, lelahku merenggut waktu. Aku terbangun pukul 21.50 dengan segenap tenaga mengusir lelah dan malas. Itu juga ku lakukan saat menunggu isya tadi. Selesai dengan yasin, badanku sungguh berat hingga limbung diatas sajadah. Untunglah suara ketuk pintu kamar mengejar lelapku untuk segera terjaga. Hingga akhirnya aku memilih lelap sejenak setelah meyapa piring dan gelas di dapur bekasku yang belum sempat aku bersihkan.
Hari ini aku berusaha  keras untuk membuat hati dan pikiran serta suasana seperti layaknya aku di pesantren dulu. Ya tak dapat dipungkiri bahwa aku sungguh merindukan nuansa syahdu pesantren. Jiwaku seperti terikat dengan nuansa yang menyejukkan jiwa itu. Dimanapun aku berada, aku ingin menciptakan nuansa itu.
Membaca asmaul khusna ketika detik menuju pukul 07.00, mengucap bacaan dzikir setelah shalat, memanjatkan alunan do’a-do’a sebelum membaca al qur’an dan masih banyak lagi serangkaian rutinitas yang aku rindukan. Ah semuanya benar-benar menohokku begitu dalam. Jiwaku merindukan hal ini sejak hariku dikuras untuk bekerja hingga membuatnya kering kerontang. Sungguh menyedihkan hidup bersama jiwa yang mati. Untuk itu, aku tak mau lagi meninabobokan jiwaku. Melalui re-design, akan ku ciptakan setiap hal menjadi nuansa syahdu itu lagi.
Nuansa syahdu itu juga ada di gelapnya malam rumahku di Cirebon. Sekitar pukul 3 pagi, aku akan menikmati alunan syahdu suara istighfar  dari bilik masjid. Suaranya khas. Aku yakin itu suara satu orang bapak-bapak yang mencintai kesyahduan sepertiga malam. Entahlah sekang masih ada atau tidak suara itu. Terakhir ketika libur lebaran kemarin aku tak mendengarnya lagi.
Kota Kediri dan nuansanya itu juga mengikat jiwaku. Kecamatan pare tepatnya. Juli 2016 aku sempat berjabat tangan dengan Pare dan lagi-lagi membuat goresan kenangan tentang nuansa syahdu itu. Setiap menjelang shalat 5 waktu akan selalu terdengar dari bilik-bilik masjid saling bersahutan. Nuansa syahdu itu slalu ada dan menyambut semangatku untuk terus setia dengan proses belajar. Dapatkah aku merasakan hal itu lagi? 
Nuansa syahdu yang selalu di tawarkan Pare, rumahku dan pesatren itu benar-benar mengundang jiwa untuk selalu mengingat sang pencipta.
Ah indahnya jiwa ketika terbelenggu dengan hal itu.

Menjelang tengah malam,
Yogyakarta, 09 Februari 2016


Selasa, 10 Januari 2017

Menembus masa

Moment di Kediri, Juli  2016
Jika masa bisa aku lipat, aku ingin kembali pada peraduan-Mu saja
Sebelum aku mencium aroma sengak dunia fna ini
Tapi aku berada disini, 
Karena itu aku ingin pergi dari satu asa ke asa yang lain
Jiwaku melayang menembus waktu
Aku ingin merasakan seluruh aroma sudut Indonesia
Lalu pergi ke setiap sudut Dunia fana ini
Hingga aku lelah
dan kembali pada peraduan yang abadi

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
11 Januari 2017

Senin, 09 Januari 2017


Saya tidak bermaksud untuk mengeluh disini,
tapi ada rasa yang harus aku taburkan
hingga menjadi serpihan debu yang terbawa angin
Sungguh betapa Allah maha pengasih,
aku menjadi hambanya yang lalai tur dholim
detik begitu cepat berputar, tapi aku masih tetap berdiam diri dalam roda yang sama.
aku ingin berlari ke ujung dunia, namun jarak belum sampai
ijinkan aku menemui titik-titik menuju ke abadian itu lebih cepat
bukan karena aku tak bersyukur
sungguh aku mencintai-Mu dengan jiwa yang lemah ini
biarkan aku menggapaimu lebih dulu
apakah aku lelah?
mungki itu.
Aku ingin pergi membawa setiap asa itu ke hadapanmu,
membawa segenap keraguan itu
dan berharap kembali dengan segemgam optimisme.


Pusat Layanan Difabel
10 Januari 2017