Rumput Liar

Tampilkan postingan dengan label Al Mumtaz. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al Mumtaz. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Maret 2017

Merindu

Gemericik hujan mengiringi langkah kecil pada peraduan yang dinanti
Senyum sapa, peluk kasih tak luput menghujani diri
Kisah-kisah berduyun mengantri
Menyimak analisa sosok periang yang terpatri
Lagi-lagi alunan lembut dari bilik-bilik tempat sujud menyentuh lembut qalbu ini
Dan kau masih terpatung disana serta melempar pertanyaan
"apakah kau merindu?"

Dalam balutan shubuh
Piyungan, 19 Maret 2017

Jumat, 25 November 2016

Penghibur hati


Kok kitab yang dipake nggak kompak ya :)

Saya bukan ustadzah, apalagi seorang guru. Saya hanya seorang yang kebetulan ditugaskan untuk mendampingi proses belajar  mereka. Selama 2 tahun saya berkecimpung di dunia Pesantren Al Mumtaz, mendampingi berbagai karakter santri, baru merekalah yang lebih dekat dengan saya.
Tulisan ini tidak lain untuk menarasikan sebagian kecil kisahku dengan mereka. Yang namanya kisah, tentu ada pahitnya. Biarlah itu menjadi kenangan di hati saya dan mereka. Tanpa perlu saya publikasi di lembar putih ini.
Maghrib itu, menjadi maghrib yang berat bagi saya. Kedua kaki saya serasa terasa nyeri. Ta'lim pun saya lakoni dengan selonjoron. Seperti maghrib sebelumnya, mereka duduk mengelilingiku. Tak disangka mereka yang duduk diposisi yang tepat untuk memijat segera menyentuh lengan dan kaki saya. ahh harunya maghrib itu.
Rasanya nyaman bersama mereka, bercanda tawa untuk mengusir lelah. Walau terkadang saya harus bekerja keras untuk "mengingatkan" mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak.
Tapi itulah  mereka, dengan segala keunikannya, adalah titipan dari Allah untuk mengajari saya apa itu 'sabar'.
Sebagai seorang manusia biasa, saya tidak akan terlepas dari kesalahan. Karena itu ijinkan saya bertutur kata maaf untuk setiap salah saya.
Berdo'a seperti jembatan sebagai pendamping kalian.
Untuk Dek Feti, Hana, Nunik, Nurul, Fitri, Fatimah, Indah dan Mila, temukanah duniamu yang akan mengantarkanmu pada Allah.


Piyungan, 25 November 2016


Jumat, 04 November 2016

Mematahkan Disengagement Theory


Mbah Uti, Saya dan Mbah Kakung

Selesai Ta'lim, saya langsung tancap gas ke ndalem simbah untuk melakukan permintaan Mbah Uti, menemani belanja ke pasar. Karena moment ini adalah first time, saya sampai bertanya pada salah satu santri putri yang biasa mbonceng Mbah Uti ke pasar. Terutama untuk rute yang nyaman. Bukannya tidak bisa, tapi khawatir saya melakukan tindakan yang kurang nyaman. Ibu Saya sering menepuk pundak saya saat menyetir motor. Mungkin dulu saya keterlaluan :).
Belum juga bertemu dengan simbah, pikiran saya lari pada pertanyaan bagaimana perjalanan pulangnya ini. "Ora usah naik motor. Bareng Yazid wae. Mengko angel le nggowo barang akeh," aah lega rasanya. Mbah Uti selalu pengerten. Pak Yazid salah satu putra Mbah Uti yang tinggal tepat di depan rumah simbah. Kali ini memang akan belanja besar untuk acara ahad kliwon besok.

Mobil kami berhenti di belakang pasar Piyungan. Ini agar lebih mudah bolak balik menyimpan barang di mobil. Saya dan simbah memasuki pintu paling ujung pasar. Disini kami disambut oleh ibu-ibu penjual Pisang. Saya yang masih belum fasih berbahasa jawa Jogja hanya diam memperhatikan. Maklum saja jawa Cirebon sangat jauh berbeda dengan bahasa disini. 

Mata saya beredar keseluruh sudut pasar. Ini bukan pertama kalinya saya kesini. Sudah terbiasa berhadapan dengan penghuni pasar yang mayoritas ibu-ibu ini. Setelah saya perhatikan, dari penjual kerupuk di ujung kiri hingga penjual pisang diujung kanan adalah ibu-ibu Lansia. Mereka masih terlihat lihai dalam tawar menawar. Kondisi fisik mereka sudah mendeskripsikan usianya. Tapi saya tidak melihat hambatan mereka saat berintraksi dengan para pembeli. Begitupun dengan Mbah Uti yang masih ingat letak-letak penjual ini dan itu. Tubuhnya masih sigap dalam melakukan banyak aktifitas. Namun namanya Lansia, pasti mengalami beberapa penurunan kondisi fisik. Beliau pernah bercerita tentang penurunan daya tahan tubuhnya.

Memperhatikan mereka mengingatkan saya dengan beberapa teori yang pernah didiskusikan di mata kuliah Lansia dan Disabilitas semester 4 lalu. Seperti ketika saya membatah Disengagement Theory yang dipresentasikan oleh kelompok lain, Lansia dapat diberdayakan. Saat itu, saya juga memaparkan tentang aktivitas Mbah Kakung yang masih aktif berdakwah di masyarakat dan mengajar santri-santri disini. Bahkan saya harus berkali-kali minta maaf atas kesalahan saya karena masalah miskomunikasi yang terjadi. "Kita itu belajar tidak hanya di sekolah atau di kampus. Tapi juga diulang kahanan," Artinya terkadang kita belajar dari lingkungan sekitar. Begitulah Simbah selalu bijak dalam mengahadapi anak-anak disini.

Disengagement Theory cenderung memarginalkan Lansia. Seolah-olah melihat dengan satu mata yang terfokus dengan satu hal. Teori tersebut mendeskripsikan bahwa ketika seseorang pada tahap lansia, ia akan memisahkan diri dengan dunia sosial. Karena itulah lahir konsep pensiun. Melihat aktifitas ibu-ibu lansia di pasar dan kedua simbah tercinta saya ini, saya mengakui adanya fakta dari Activity Theory. Aktifitas yang dilakukan lansia berperan penting terhadap kondisi fisik dan psikologis lansia. Teori tersebut juga menjelaskan bahwa konsep diri yang baik akan lahir jika lansia beraktifitas di dunia sosial.

Masih banyak hal yang ingin saya tulis disini. Ah tapi waktu tak mengijinkan. Saya tidak yakin selepas duhur hingga ahad sore memiliki waktu menulis.

Bantul 05 November 2016