Rumput Liar

Jumat, 26 Mei 2017

Ramadhan (1) : Rindu

Sore sebelum tarawih, masjid dekat rumahku akan ramai dengan puji-pujian yang dilantunkan anak laki-laki yang semangat menyambut Ramadhan. Bergantian memegang mikrofon dan terkadang terdengar gelak tawa.
“Allahumma innaka...............................”
Gimana di Jogja?

Telinga saya masih kering puji-pujian itu. Huh merindu juga.
Besok bimbingan untuk penelitian, nggak bisa nulis panjang kali lebar. (alaaah. alesan !)



Tak Berjudul

Terima kasih telah mengantarkan diri pada pintu
Pintu taman beranjau
Tak memiliki cerobong asap untuk membakar risau
Hanya pilihan menginjak ranjau
Mataku buta karena parau
Pun Tuli sebab kacau
Tapi ranjau tak bertoleransi pada kerisauan
Ia hanya diam dan tetap bergandengan tangan
Mengantarkan siapapun pada tujuan
Tidak
Aku tak akan bertanya lagi
Tentang mengapa harus ada ranjau?
Sebab kau akan lebih dulu mengajak mencicipi jenis ranjau yang berbeda
Saat kita melangkah bersama,
Lalu ranjau biru, hitam dan abu-abu itu berhasil ku lewati
Aku berhenti
Karena ini batasku.
Aku akan memulai dengan arah yang berbeda.
Tidak
Aku tak akan bertanya tentang melati dari setiap ranjau itu
Biarlah hanya untukmu saja.
Cukup aku merasakan ranjau biru, hitam dan abau-abu itu saja
Sungguh aku tak akan bertanya lagi tentang namaku yang berjejer dengan namamu.

Sungguh tidak lagi.

Selasa, 23 Mei 2017

Menuai rasa


"Projek 1 hari satu halaman" mbatinku.
Menulis itu pekerjaan pikiran dan hati. Saat k,eduanya tak akur, tak mungkin satu paragraf terjalin indah. Ya bisa, tapi asal nulis. Asal nyusun. Asal nyeletuk.
Tapi dia bilang "sejelek apapun tulisanmu, tetaplah menulis"
Sehancur apapun rangkaian huruf itu?
"Ya tetaplah menulis,"
Menulis di halaman putih bergaris bukan tipeku. 
Jariku kulino menari diatas tut keyboard.
Jadi disinilah akan ku isi hamparan putih dengan celotehan tak bermakna itu.


Yogyakarta, 23 Mei 2017

Jumat, 05 Mei 2017

KEPO


Pagi di ruang PLD, tiga mahasiswa Tuli sedang asyik berkomunikasi. Aku menyela sebentar. Meletakkan  jari telunjuk dan jempol yang disatukan. Kemudian diletakkan dekat bibir. Gerakan itu berbunyi “Maaf”. Ini adalah etika ketika menyela perbincangan saat terjadi komunikasi dengan teman-teman Tuli.

Aku menatap salah satu dari mereka.
“Kamu bawa leptop? Boleh saya pinjam sebentar?”
Kataku dalam bahasa isyarat yang diikuti juga dengan gerak bibir mengucapkan kata-kata itu. Cukup pelan.
“Untuk apa?” katanya. Ia mampu berbicara. Hanya saja suaranya ‘gambyang’. Tidak jelas.
“Untuk ngedit tugas sebentar. Komputer di sana lagi dipake,” kataku dengan sedikit gerakan isyarat memperjelas ucapan.

Ia mengangguk lalu mengeluarkan Laptop dari tasnya. Di samping kirinya, mahasiswa Tuli juga, menyapaku dan bertanya apa yang barusan aku bicarakan. Aku teringat mahasiswa Tuli lain yang setiap kali aku bertanya “Lagi ngapain?” “Ngerjain tugas apa?” “Itu buku isinya tentang apa?” Dia dengan sigap membentuk huruf K dengan satu jari lalu diletakkan di jidat. “Kepo” itu bunyinya. Gerakan itu juga diikuti dengan mimik bernada cuek. Duh.

Itulah yang kemudian aku lakukan untuk menjawab pertanyaan dari si dia. Tapi dengan nada bercanda.
“Eh kita itu Tuli. Jadi wajar kalau kita itu kepo. Beda dengan kamu orang dengar,”  
Ia ucapkan dengan kalimat yang begitu cepat. Suara keras yang biasa ia ucapkan membuatku memahami langsung meski tak diikuti gerakan penjelas. Ia hanya meletakkan kelingkingnya di dekat telinga dengan bermaksud mengatakan Tuli. Dia menjelaskan sembari tersenyum. Tanda mengajakku untuk memahami karakteristik yang melekat pada diri mereka.

Yogyakarta
Jum'at, 5 Mei 2017


Jumat, 21 April 2017

Catatan kecil Plettonic

“Lubang di hati itulah yang menurut saya pasti dialami setiap orang. Karena itu carilah apa yang akan mengisi lubang itu,” 

Itulah kalimat terakhir saat praktik dakwah dalam mata kuliah retorika dakwah (20/04) kemarin. Tema yang harus diangkat menyangkut permasalahan sosial. Saya teringat lagu Letto, lubang di hati. Pemaknaan yang multi tafsir karena lagu-lagu Letto berangkat dari sebuah skema. Hal inilah yang membuat saya dengan mudah mengkoneksikan makna ‘Lubang di hati’ pada tema yang saya bawa.
Pemaknaan yang multi tafsir ini juga diungkapkan guru saya di kelas ketika MAN (setara dengan SMA) dulu. Beliau menyatakan ‘Sebelum cahaya’ adalah perumpamaan bumi sebelum kedatangan Nabi Muhammad. Detik-detik kelahiran Rasul menjadi kedamaian yang terselip di bait-bait lagu tersebut. Ada banyak hal lain yang menciptakan rasa cinta dalam benak saya pada bingkaian lirik serta rajutan musik dalam lagu-lagu Letto.

Pengembaraan saya dalam menelusuri makna lagu-lagu Letto bermula ketika sahabat saya, Mbak Meta, mendapat tugas untuk memahami pemikiran salah satu tokoh di Indonesia. Jadilah diambil Cak Nun sebagai pilihan dalam mengejakan tugas di sekolah pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga. Bukan menjadi rahasia lagi jika Cak Nun dan Letto memiliki hubungan erat. Tentu salah satu faktornya vokalis Letto, Mas Sabrang, adalah putra Cak Nun.

Sejak pengenalan itu, saya dan Mbak Meta sering kali membahas makna di setiap lirik lagu-lagu Letto. Hal lain seperti mantengin youtobe Letto di sela-sela jam kuliah, mantau instagram personil Letto dan tentu saja twitter Mas Sabrang menjadi aktivitas yang tak pernah terlewatkan setiap hari.
Selepas maghrib tadi, Mbak Meta  mengirim pesan melalui whatsapp. Isinya berupa pemberitahuan bahwa Letto berulang tahun yang ke 13. Ini diketahuinya melalui postingan Mas Dhedot di Instagramnya.

“Terus mau kasih kado apa?” balasku.
“Kadonya, besok kita ke rumah Maiyah,” balasnya lagi.
Siang tadi setelah saya kontak sekretariat Perpustakaan EAN, ada niatan untuk mengunjungi rumah ke dua Letto itu. Ah membayangkan berbincang dengan Letto saja saya tak punya keberanian. Tapi setidaknya kami dekat dengan mereka di ‘ruang rindu’.

Selamat ulang tahun Letto,
Selamat sudah menjadi musisi hebat di bumi pertiwi.
Mabruk untuk hidupmu, aamiin.




Faroha, Mbak Meta


Mbak Meta, Tika

Foto : Beralih fokus dari tugas kampus ke Youtobe Letto Band. Hahaa


Yogyakarta, 21 April 2017.
Salam
Faroha,








Senin, 27 Maret 2017

Kampung Dolanan dan Remaja itu

Berada tepat di depan sanggar

Sabtu (25/03/2017), saya menyempatkan diri berkunjung ke kampung ini. Bukan yang pertama kali. Sudah berkali-kali. Tahun 2016 lalu saya dan teman-teman satu kelompok melakukan observasi untuk tugas kewirausahaan sosial. Kampung Dolanan merupakan sebutan lain dari Dusun Pandes, Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul. Ada banyak makna dibalik nama kampung dolanan. Mungkin akan saya ceritakan lain waktu. Kali ini, saya berniat untuk mengenal komunitas Diffcom (Difabel and Friends Community). Teman saya, Fahmi, yang juga anggota komunitas tersebut sudah melobi Mas Butong, selaku pendiri Diffcom.

Sekitar pukul 11.00 siang kami sampai di dusun ini. Tepatnya di aula Pojok Budaya. Tidak terlalu sepi. Ada dua perempuan yang duduk di teras dan beberapa ibu-ibu bersama anaknya di dalam ruangan yang berjendela kaca transparan itu. Kami disambut dengan nyanyian merdu seruling (kalau tidak salah ya). Saya tidak tau persis berasal dari mana. Hanya saja suaranya cukup keras. Kami duduk di teras menanti sang narasumber.

Narasumber kali ini seorang difabel daksa sejak lahir. Berjalan dengan menggunakan tongkat. Untuk mobilitasnya, pemilik nama lengkap Sukri Budi Dharma ini  menggunakan sepeda motor yang dimodifikasi beroda empat. Kami terlibat diskusi yang sangat menarik. Membahas isu disabilitas di ranah pendidikan, sosial hingga menyentuh sorotan media. Banyak hal yang saya dapatkan dari beliau. Terutama pandangan psikologis mengenai difabel itu sendiri.

Saat kami terlibat diskusi, tak sedikit warga masyarakat yang berlalu-lalang. Sering kali Mas Butong refleks berhenti berucap dan menyapa setiap orang yang melewati sanggar ini. Salah satu yang membuat saya tertegun adalah saat seorang anak laki-laki mengenakan seragam SMP datang menghampiri kami. Menyalami kami satu persatu. Ia mengatakan mau ke sekolah, sedang ujian. Dari penjelasan Mas Butong, anak itu sedang ujian praktik komputer. Karena terbatas peralatan, jadilah diberlakukan sistem kloter. “Biasanya sepulang sekolah dia ke tempat saya untuk belajar musik. Sore juga begitu. Diusia yang sangat rentan, dia sibuk melakukan hal yang positif,” ungkapnya.

Bagi saya, ini kali pertama bertemu dengan remaja laki-laki di desa yang cukup santun. Sudah berkali-kali saya menemukan momen ironis pada remaja sekarang. Momen terkena lemparan sampah dari remaja putri berseragam MTs misalnya. Dia tepat di depan motor yang saya kendarai. Baru pulang sekolah dan dijemput. Mungkin dia kelaparan hingga makan di perjalanan. Hal yang membuat saya geregetan tentu saja dia yang enggan menyimpan sampah plastik pembungkus makanannya.
Memori kisah dari guru saya sewaktu menimba ilmu di Aliyah terputar otomatis saat itu. Kisah seorang bocah yang menyimpan bungkus permen di saku clananya karena saat itu ia sedang di kenadaraan umum. Tidak kah dia mendengar cerita itu? Atau adakah dari sekian nasehat  gurunya yang ia lakukan?

Kisah lain yang tak kalah ironi saat saya berada di minibus. Mobil itu cukup penuh. Mata saya menyelidik mencari tempat kosong. Saya memilih di belakang laki-laki berseragam SMA itu. Tak lama kemudian anak itu menyetopkan mobil. Ia hendak turun. Tas yang Ia bawa cukup penuh. Hingga mengenai kepala saya. Sontak saya mengaduh. Cukup keras. Apa yang dilakukan anak itu? Ia diam. Cuek dan berlalu begitu saja.
Dari kedua kisah ini muncul pertanyaan. Is there something wrong with your education?

Yogyakarta, 27 Maret 2017

Sabtu, 25 Maret 2017

Bukan menjual disabilitasnya

Saat wawancara dengan pendiri Diffcom, Mas Butong
Difabel masih mengalami pergulatan penerimaan diri sebagai sosok manusia yang memiliki hak berpartisipasi di dalam masyarakat. Stigma negatif masih kuat menempel pada mereka. Ini terjadi karena berbagai faktor. Kaca mata masyarakat dalam memandang difabel serta difabel itu sendiri menjadi sebagian dari faktor tersebut. Kedua hal ini tentu memiliki porsi masing-masing. Tapi terangkum dalam 1 kasus.
Masyarakat sudah “kadung” melihat fakta bahwa ada difabel yang memanfaatkan disabilitasnya untuk meraih empati. Difabel memposisikan dirinya sebagai sosok lemah yang selalu butuh bantuan.

Dari sinilah masyarakat selalu memandang “disability” yang ada pada difabel. Bukan pada “ability” yang pasti dimiliki setiap orang. Tak terkecuali difabel.

Berangkat dari hal inilah komunitas Diffcom (Difabel and Friends Community) memberdayakan difabel serta mengangkat isu ini melalui karya seni. Sebuah karya seni yang bukan menjual “disabilitas”. Fokus pada penciptaan karya seni berkualitas tinggi yang membuktikan difabel sebagai sosok manusia yang juga memiliki kelebihan.


Hal ini juga akan kembali pada pertanyaan “mereka bisa apa?” sebagai syarat penerimaan jika berhasil terjawab. Ini potret sebagian dari masyarakat kita.
Terimakasih Mas @Butong Idar, tabir penghalang pengetahuan itu semakin tersikab saat berdiskusi dengan njenengan.

Nah berikut ini hasil jempretanku. Dulu, pernah penelitian tentang kampung ini. Kampung dolanan. Yup inilah syahdunya udara Pandes, Panggungharjo, Bantul, YK.

Aula Pojok Budaya




Patungnya ngapain itu???




good picture with the good art




Yup, kampung yang menyimpan budaya dengan makna yang sangat deep





Thanks Mas Butong



Yogyakarta, 25 Maret 2017

Dalam dekapan malam berhias hujan