Rumput Liar

Tampilkan postingan dengan label PenaRamadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PenaRamadhan. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Juni 2017

Sajak Bapak

Dia sudah pulang, 
Lalu disusul si tengah pulang. 
Aku pulang. 
Si bungsu juga pulang. 
Kami pulang Pak, Bu . 
Lalu rumah kian ramai, sepi terpaksa menepi. 
Guratan senyum tawa terpatri lepas. 
Mengundang kisah – kisah terungkap ke tepian. 
Kami bahagia.

Nyatanya bahagia selalu diiringi perenungan. 
Bagaimana cara mengembalikan kami? 
Kami berlibur. 
Tidak dengan Bapak. 
Ah apakah ada hari libur untukmu, Pak? 
Sedang kami terus menerus mengganggu pikiranmu.


Dari dulu aku selalu berharap lekas dewasa. 
Lekas menyelesaikan pendidikanku dan segera melangkah jauh. 
Mengarungi lautan lelah yang tak pernah kau keluhkan, Pak. 

Cirebon, 19 Juni 2017

Sabtu, 27 Mei 2017

Pena Ramadhan (2) : Kulo Nderek Panjenengan, Mbah.

Add caption
Tepat hari ini adalah hari kelahiran Mbahku, Muhammad Ainun Nadjib. Masyarakat memanggilnya Cak Nun. Di kalangan masyarakat manapun, beliau akrab duduk bersama mereka. Duduk dalam majlis yang sama untuk belajar melukis manusia yang sebenar-benarnya manusia.

Sayang, saya belum memiliki kesempatan untuk duduk di majlis itu. Mendengar perjuangan anak-anak “Maiyah” untuk datang di majlis membuat saya merinding. Mereka beruntung. Suatu kali di media sosial bertuliskan “Gamelan Kiai Kanjeng” memuat seorang simbah yang duduk di pinggir jalan. Menikmati momen bersama Mbah Nun. Meski terpaut jarak, tapi ada angin yang mengantar pesan-pesan. Sungguh beruntung.

Media sosial saat ini mudah sekali mengantarkan pesan. Memotret momen-momen yang selalu ku rindukan. Pun dapat merekam setiap gerak-gerik penyampaian Mbah Nun hingga saya dapat dengan mudah belajar dari beliau. Tapi kerinduan itu slalu ada.
Semoga suatu saat nanti dapat  sowan langsung, aamiin.

Sugeng ambal warsa Mbah,
Selalu sehat lan panjang umur. Aamiin.

Istiqomah di jalan sunyi. Kulo nderek panjenengan, Mbah.

Jumat, 26 Mei 2017

Ramadhan (1) : Rindu

Sore sebelum tarawih, masjid dekat rumahku akan ramai dengan puji-pujian yang dilantunkan anak laki-laki yang semangat menyambut Ramadhan. Bergantian memegang mikrofon dan terkadang terdengar gelak tawa.
“Allahumma innaka...............................”
Gimana di Jogja?

Telinga saya masih kering puji-pujian itu. Huh merindu juga.
Besok bimbingan untuk penelitian, nggak bisa nulis panjang kali lebar. (alaaah. alesan !)