Rumput Liar

Senin, 09 Januari 2017


Saya tidak bermaksud untuk mengeluh disini,
tapi ada rasa yang harus aku taburkan
hingga menjadi serpihan debu yang terbawa angin
Sungguh betapa Allah maha pengasih,
aku menjadi hambanya yang lalai tur dholim
detik begitu cepat berputar, tapi aku masih tetap berdiam diri dalam roda yang sama.
aku ingin berlari ke ujung dunia, namun jarak belum sampai
ijinkan aku menemui titik-titik menuju ke abadian itu lebih cepat
bukan karena aku tak bersyukur
sungguh aku mencintai-Mu dengan jiwa yang lemah ini
biarkan aku menggapaimu lebih dulu
apakah aku lelah?
mungki itu.
Aku ingin pergi membawa setiap asa itu ke hadapanmu,
membawa segenap keraguan itu
dan berharap kembali dengan segemgam optimisme.


Pusat Layanan Difabel
10 Januari 2017


Kamis, 05 Januari 2017

Bermusik Meski Tak Bercahaya






Membaca, menulis, bermain, bersepeda adalah hal yang biasa dilakukan Tris Munandar. Nandar, sapaan akrabnya, adalah sosok pendiam. Nandar kecil sangat hiperaktif. Sayangnya, menginjak usia 10 tahun fungsi kedua bola matanya semakin menurun. Ia mengalami kesulitan belajar karena tak lagi dapat membaca dan menulis dengan baik.

Penurunan yang dialami oleh kedua matanya, menurut dokter, bukan disebabkan penyakit, virus maupun kerusakan. Melainkan karena kelainan yang dibawanya sejak lahir. Dokter juga mengatakan bahwa ada syaraf penglihatan Nandar yang kurang lengkap.  Karena itu semakin dewasa, fungsi penglihatannya semakin menurun. Penurunan yang berangsur itulah yang membuat Nandar tidak mengalami drop secara psikologis ataupun trauma dengan perubahan pada dirinya. Lingkungan sekitarnya pun tidak mengalami penolakan terhadap perubahan tersebut. Saat ini Nandar masih dapat menangkap cahaya yang terang dan dapat melihat bentuk. Ia masih memiliki sedikit sisa penglihatan. “Perubahannya nggak terasa banget. Baru sadar ada perbedaan itu setelah dibandingkan dari tahun ke tahun.” kisah Nandar.

Karena penurunan fungsi penglihatannya itu, Nandar yang tinggal di Purworejo harus pindah ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikandasarnya di SLB Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam (Yaketunis). Ketika itu Nandar duduk di kelas 3 SD, sayangnya karena alasan belum bisa menulis dengan huruf braille, membuatnya harus kembali duduk di kelas 1 SLB Yaketunis. Dari sinilah awal Nandar mengukir huruf Braille.

Ia berpendapat bahwa huruf braille adalah identik dan identitas tunanetra. Sayangnya, teknologi canggih saat ini membuat tunanetra tak lagi menyentuh huruf braille. Mereka terbiasa menggunakan Job Access Work System (JAWS) atau biasa dikenal sebagai pembaca layar. Menurut Nandar, Braille adalah simbol kemandirian yang harus dilestarikan oleh tunanetra. Meskipun telah ada teknologi yang semakin mudah dan aksesibel bagi tunanetra, tapi braille harus juga dikuasai. “Melalui Braille membuktikan  bahwa tunanetra juga dapat menulis dan membaca seperti orang pada umumnya,”tegasnya.

Menari diatas tuts keyboard

Di Yaketunis ini Nandar juga belajar berbagai alat musik band yang tersedia di asrama Yaketunis. Tidak ada guru yang mengajar. Hanya memulai dari mendengar dari teman-teman yang lebih mahir. Kemudian jari-jari Nandar berkenalan dengan tuts keyboard, memetik gitar, dan mencoba alat musik lainnya seperti drumb dan bass. Pada dasarnya, Nandar menyukai semua alat musik. Hanya saja ia sering diposisikan bermain keyboard yang akhirnya membawa pada bidang keahlian. Nandar tidak mengenal teori ataupun fingering dalam bermain keyboard. “awalnya ya menghafal posisi tuts, tapi lama-lama hafal dan otomatis saat bermain,”kata Nandar.

Ketika duduk di bangku SMA, Nandar sempat membuat video clip bersama teman-temannya yang tergabung dalam grup band bernama Kenyocho. Di Yaketunis, Nandar bersama Anang dan Panca, yang juga tunnetra mendapat kesempatan untuk membuat rekaman video berjudul “Ayah”. Kedua Video tersebut sudah beredar di Youtube dan dapat dinikmati oleh citizen.

Meskipun banyak orang yang mengakui kemahiran jemarinya, Nandar yang tak pernah mengeyam pendidikan musik, merasa apa yang dilakukannya masih sekedar hobi saja dan belum menginjak pada taraf profesional. Kendati demikian, Nandar masih sering tampil dari panggung ke panggung untuk melengkapi posisi keyboard. Tawaran untuk mengsisi posisi keyboard pun sampai di dapur rekaman. “Kalau tawaran itu hanya minta mengisi di posisi keyboard aja. Bagiku itu ya sekedar membantu,”kata Nandar.

Tahun 2013 Nandar berhasil menyelesaikan jenjang SMAnya dengan nilai tertinggi di sekolahnya, MAN Maguwoharjo. Selanjutnya Ia berusaha mendaftar di beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta. Sayangnya, nasib baik belum berpihak pada Nandar. Ia terpaksa harus menyimpan keinginannya untuk kuliah lantaran belum lolos seleksi. “Rasanya frustasi waktu itu. Aku memilih pulang ke Purworejo” ungkapnya

Barulah pada tahun 2014, Nandar melanjutkan jenjang pendidikannya dengan mengambil jurusan Bimbingan Konseling Islam (BKI) yang merupakan salah satu jurusan di Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Nergeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di sinilah Nandar merasakan manis pahitnya menempuh pendidikan dengan dunia yang gelap.

Bagi Nandar, Pusat Layanan Difabel (PLD) sangat membantu sebagai support system bagi  mahasiswa difabel. Aksesibilitas, seperti Jaws, sudah tersedia. Baik di kantor PLD, Difabel Corner (DC) yang terletak di lantai 1 Perpustakaan dan akses lainnya. Meskipun demikian kendala yang dihadapi Nandar tetap ada. Ada beberapa mata kuliah yang memaksanya untuk membaca dalam waktu singkat. Seperti adanya kuis di kelasnya yang mewajibkan jawaban disertai dengan menyebutkan argumen beserta nomer halaman terkait jawaban yang disebutkan. Secara tidak langsung dapat diartikan Nandar harus menghafal  materi serta no halaman dalam buku tersebut. Untuk mengatasi hal itu, Nandar telah menyiapkan diri terlebih dahulu. “Biasanya aku tanya teman, materi ini di halaman berapa. Jadi aku bisa jawab dengan teori yang ada di buku,”ungkap Nandar.

Kampus UIN Sunan Kalijaga sebagai pelopor kampus inklusif memberikan peluang untuk difabel dapat melanjutkan pendidikan di jenjang perguruan tinggi. Tercatat 55 mahasiswa difabel yang masih aktif dalam proses belajar dengan disabilitas yang berbeda-beda. Penerimaan difabel di tengah masyarakat kampus tentu tergantung pada sikap difabel itu sendiri. Itulah yang disinggung oleh Nandar. Ia berpendapat bahwa difabel harus dituntut untuk lebih pro aktif dalam berbagai aspek kegiatan di kampus. Sehingga penerimaan tersebut berdampak pada kegiatan-kegiatan yang mendukung difabel. “Saya harap kampus UIN menjadi contoh dalam penerimaan mahasiswa difabel. Tak perlu ada kuota khusus, tapi lebih selektif dalam melihat difabel yang dapat survive dan dapat mendorong keinklusifitas itu sendiri. Bukan hanya peran dari PLD dan difabel hanya menikmati,” tandasnya. (faroha)





Nandar dalam lagu ayah
https://www.youtube.com/watch?v=AAbDU6uCgaU





Nandar dalam Kenyocho Band
https://www.youtube.com/watch?v=QpdMNrgRJFo&feature=youtu.be






Rabu, 04 Januari 2017

Manusia asing memanusiakan manusia

Momen saat berlatih bahasa isyarat. Bentu dakri upaya memanusiakan manusia.


Filosofi yang dibawa bapak Dr GSSJ Ratulangi "Si Tou Timou Tumou Tou" yang artinya manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia, mengingatkan saya tentang bagaimana sosok difabel dimata orang lain dan perlakuan yang diberikan. Penerimaan difabel seharusnya bukan dilihat dari prestasi atau seolah-olah diperlakukan dengan wajar jika telah terjawab pertanyaan "kamu bisa apa?". Lha wong yang bukan difabel saja ada kok yang tidak berprestasi. Seperti yang dikatakan guru saya, Ibu Ro'fah Makin, "Kita menghargai mereka bukan karena prestasi. Ya karena mereka seperti kita, manusia juga". Nyatanya memang konsep "memanusiakan manusia" masih asing implementasinya ditengah manusia.

Pusat Layanan Difabel
05 Januari 2017

Senin, 26 Desember 2016

Pelepas Penat


Tertawa bersama anak-anak adalah salah satu cara saya menghibur diri. Aktivitas yang padat merayap dari pagi hingga malam hari. Satu tahun pertama di pesantren ini, saya dikelilingi oleh anak-anak. Sayangnya menginjak tahun ke 2, saya dipindah tugas di pondok cabang. Tak lagi mendengar celoteh ataupun tawa anak-anak lagi.
Saya rindu dengan dek Aik yang sudah boyong dari pondok.  Dek Ikoh yang pendiam. Meskipun masih 1 lembaga tapi kami jarang bertemu. Karena berbeda wilayah. Sama seperti Gus Reihan yang jauh, Biasanya sore setelah Aa Husen, Mbak Icha dan Dek Hanif mandi, mereka duduk di sekitar mushala. Peluhku dari kampus hilang seketika melihat tawa mereka. Sayang, mereka pindah ke Cirebon.
Sekarang ada dek Ina, putri bungsu guruku, Bapak Arif Maftuhin. Biasanya aku menemuinya di PLD. Lucu, manis, cantik, imut dan menggemaskan. Foto diatas, menjelaskan pertemuan kedua kami. Saat itu kepalaku cenat-cenut. Masuk PLD liat dia sedang nonton film barbie. Jadilah kami berdialog sebentar. Dia seperti malaikat kecil yang megusap penatku hari itu.

Piyungan, menjelang tengah malam
26 desember 2016

Sabtu, 24 Desember 2016

Kuota 1% untuk Difabel belum terpenuhi

Press Release
Oleh  Faroha
24 Desember 2016

Kuota 1% untuk Difabel belum terpenuhi

Menurut menteri ketenagakerjaan M.Hanif Dhakiri mengatakan bahwa jumlah perusahaan di Indonesia yang mempekerjakan difabel masih sangat minim. Hal ini dapat dilihat dari jumlah Difabel usia kerja yang masih menganggur. Difabel (different ability) adalah istilah yang digunaan untuk menyebut seseorang dengan keterbatasan secara fisik, mental dan sensorik.
Data dari WHO, Bank Dunia, dan ILO menunjukan bahwa saat ini jumlah difabel di dunia diperkirakan sebesar 15 persen dari jumlah penduduk dunia atau sebesar satu miliar orang. Dari jumlah itu, sedikitnya terdapat 785 juta difabel masuk dalam usia kerja. Di Indonesia, berdasarkan data Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Sosial (Kemensos), jumlah difabel sampai 2010 mencapai 11.580.117 orang.
Sedangkan, data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) merekam, jumlah tenaga kerja difabel pada 2010 mencapai 7.126.409 orang. Angka itu terdiri atas tunanetra 2.137.923 orang, tunadaksa 1.852.866 orang, tunarungu 1.567.810 orang, cacat mental 712.641 orang, dan cacat kronis sebanyak 855.169 orang. Untuk itu, Kemenaker berencana mendorong dan meningkatkan jumlah kuota pekerjaan bagi pekerja difabel.

Pemerintah Indonesia telah mengesahkan undang-undang no 8 tahun 2016 bulan april lalu. Dalam undang-undang tersebut telah menjamin difabel memiliki kuota 1% di setiap perusahaan. Artinya perusahaan semestinya mempekerjakan 1 orang Difabel untuk setiap 100 orang pekerja. Sayangnya, hal tersebut belum diindahkan oleh pihak terkait. Karena itu Kementrian Ketenagakerjaan memberikan penghargaan kepada perusahaan yang peduli dan memperkerjakan difabel secara layak.
Upaya tersebut alangkah lebih baik jika diiringi dengan usaha peningkatan skill bagi difabel. Rendahnya penyerapan tenaga kerja difabel salah satunya disebabkan oleh pandangan masyarakat bahwa difabel tidak bisa melakukan pekerjaan dengan baik. Sungguh ironi, seseorang dianggap tidak bisa melakukan suatu hal sebelum diberi kesempatan. Pemerintah juga seharusnya memberikan sanksi kepada pihak-pihak yang tidak mengimplemtasikan undang – undang yang menjamin hak-hak difabel di segala bidang, khususnya di bidang ketenagakerjaan.

http://www.republika.co.id/berita/koran/hukum-koran/15/03/12/nl37g822-perusahaan-pekerjakan-difabel-masih-minim

Jumat, 02 Desember 2016

Saya Difabel


Sebagian icon difabel


Berikut ini saya tulis, kisah yang saya alami sendiri. Saya kira, pantas untuk kita renungkan.

Scene 1
Peringatan Hari Tongkat Putih (White Cane Safety Day) yang dilakukan pusat Layanan Difabel (PLD) 14 Oktober lalu memberi kesempatan bagi saya untuk mencicipi hidup dalam kegelapan. Berjalan dengan mata tertutup dari Gedung PAU yang berada di kampus barat menuju PLD  di kampus timur. Rasa kaget dengan dunia tanpa cahaya. Khawatir menabrak, terjatuh atau nyasar ke tempat yang berbahaya. Saya difabel netra.

Scene 2
Menunggu pergantian jam perkuliahan membawa saya memilih berkunjung ke PLD. Awalnya saya menyapa salah satu teman Tuli saya. Menanyakan perkuliahan dan aktifitas kampus dengan sedikit bahasa isyarat yang saya bisa. Beberapa waktu kemudian, datanglah satu demi satu teman-teman Tuli lainnya. Gerakan tangan mereka sangat cepat dan disertai dengan ekspresi muka yang memperjelas maksud percakapan. Tapi saya tak mampu memahami bahasa mereka. Bekal bahasa isyarat saya sangat minim. Wal hasil saya pun menjadi penonton setia dari percakapan bahasa isyarat yang terjadi di depan saya. Saya Tuli.

Scene 3
Saat itu lutut kaki kiri saya tak sengaja terbentur meja. Awalnya hanya nyeri akibat benturan. Tapi malamnya, mulai terasa membengkak. Ketika menjelang shubuh, saya merasakan kaki saya tak bisa ditekuk. Akhirnya shalatpun saya jalani dengan duduk selonjor. Resikonya, saya maenjadi pusat perhatian anak-anak di pesantren. Untuk berjalan pun menjadi semakin sulit. Ditambah lagi saya harus naik turun tangga menuju masjid milik pesantren. Aktifitas lainpun sama. Saya harus menahan nyeri dan menjaga agar kaki kiri saya tetap dalam keadaan tegak. Sekitar 3 hari, saya merasakan sulitnya mobilitas. Disitu, saya difabel daksa.
Difabel bisa terjadi pada siapa saja. Karena itu sebuah keniscayaan bahwa pada akhirnya kita akan mengalami manjadi difabel.  So, keep care to others !
Yogyakarta, 03 Desember 2016



Dokumentasi 14 Oktober 2016

Jumat, 25 November 2016

Penghibur hati


Kok kitab yang dipake nggak kompak ya :)

Saya bukan ustadzah, apalagi seorang guru. Saya hanya seorang yang kebetulan ditugaskan untuk mendampingi proses belajar  mereka. Selama 2 tahun saya berkecimpung di dunia Pesantren Al Mumtaz, mendampingi berbagai karakter santri, baru merekalah yang lebih dekat dengan saya.
Tulisan ini tidak lain untuk menarasikan sebagian kecil kisahku dengan mereka. Yang namanya kisah, tentu ada pahitnya. Biarlah itu menjadi kenangan di hati saya dan mereka. Tanpa perlu saya publikasi di lembar putih ini.
Maghrib itu, menjadi maghrib yang berat bagi saya. Kedua kaki saya serasa terasa nyeri. Ta'lim pun saya lakoni dengan selonjoron. Seperti maghrib sebelumnya, mereka duduk mengelilingiku. Tak disangka mereka yang duduk diposisi yang tepat untuk memijat segera menyentuh lengan dan kaki saya. ahh harunya maghrib itu.
Rasanya nyaman bersama mereka, bercanda tawa untuk mengusir lelah. Walau terkadang saya harus bekerja keras untuk "mengingatkan" mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak.
Tapi itulah  mereka, dengan segala keunikannya, adalah titipan dari Allah untuk mengajari saya apa itu 'sabar'.
Sebagai seorang manusia biasa, saya tidak akan terlepas dari kesalahan. Karena itu ijinkan saya bertutur kata maaf untuk setiap salah saya.
Berdo'a seperti jembatan sebagai pendamping kalian.
Untuk Dek Feti, Hana, Nunik, Nurul, Fitri, Fatimah, Indah dan Mila, temukanah duniamu yang akan mengantarkanmu pada Allah.


Piyungan, 25 November 2016