Rumput Liar
Senin, 21 November 2016
Sunyi tapi Penuh Karya I 30 September 2016
"Tingkatkan skillmu sampai idolamu menjadi rivalmu." Itulah prinsip hidup seorang Tuli bernama Dhomas Erika Ratnasari. Baginya, keterbatasan tidak menghalanginya untuk berprestasi. Ia tak dapat mendengar; namun, berkat ketekunan berlatih ia pun mampu berbicara. Hanya saja suaranya kecil.
Ketika usianya menginjak bulan kesepuluh, Dhomas mengalami sakit panas yang terus menerus. “Usia 3 tahun, aku divonis tidak dapat mendengar,” ungkapnya. Kedua orang tua Dhomas menerima dengan lapang dada kondisi putri semata wayangnya itu. Terapi wicara menjadi alternatif untuk dapat terbiasa berkomunikasi dengan baik. Karena itulah Dhomas mampu memahami apa yang dikatakan lawan bicaranya dengan membaca gerakan bibir (oral).
Perempuan kelahiran 1 September 1995 ini memiliki hobi menggambar. Memasuki Sekolah Dasar di SLB 2 Bantul (dulu SLB 4 Sewon), orangtua Dhomas mendorongnya untuk mengikuti berbagai ajang perlombaan. Hasilnya sangat menggembirakan. Ia menyabet juara kabupaten hingga provinsi untuk kategori SD. Dhomas sempat bersekolah di Cottingley Primary School di Inggris selama 3 tahun. Hal tersebut dilakukan karena mengikuti Ayahnya yang menyelesaikan PhD di Inggris. Ia sempat kesulitan dalam berkomunikasi karena menggunakan Bahasa Inggris. Seiring berjalannya waktu ia mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang baru.
Ketika bersekolah di SMP 2 Sewon Bantul, ia sempat belajar privat dengan seorang guru lukis. Sayangnya ia tidak lagi mendapatkan informasi seputar ajang perlombaan menggambar. “Aku hanya ikut lomba mengarang cerita. Alhamdulillah, Juara 1 tingkat provinsi dapat aku raih”, kenangnya.
Meskipun memiliki keterbatasan dalam pendengaran, orang tua Dhomas memilih menyekolahkan Dhomas di sekolah umum. Hanya di sekolah dasar saja ia berada di sekolah dengan siswa berkebutuhan khusus.
“Sejak SMP dan SMA tidak ada fasilitas penerjemah bahasa isyarat. Tapi teman-teman dan guru-guru di sekolah bisa menyesuaikan dengan keterbatasanku. Mereka berbicara pelan denganku. Yang terpenting aku dapat memahami ilmu yang disampaikan di sekolah,” tuturnya.
Menginjak bangku SMA, prestasinya semakin gemilang dengan menyabet juara 1 melukis tinggat Provinsi, dua kali berturut-turut. Ketika itu juga Dhomas mulai melirik anime (kartun Jepang) dan belajar menekuni bidang tersebut dengan serius. Usai SMA, ia melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan mengambil prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS).
“Aku memilih kuliah di UIN Sunan Kalijaga ini karena ada Pusat Layanan Difabel (PLD) yang di dalamnya terdapat fasilitas penerjemah bahasa isyarat. Tidak semua penjelasan dari dosen bisa aku pahami melalui gerakan bibir. Karena itu aku butuh notetaker,” jelasnya lagi.
Di semester 3 perkuliahannya, Ia mulai memberanikan diri membuka jasa menggambar anime untuk para penggemar anime. Mayoritas penggemarnya berasal dari luar negeri. Dalam menawarkan jasa menggambar anime, Dhomas menggunakan website DevianArt. Karya-karyanya juga terdapat di akun Facebooknya.
Dari sinilah bisnis online dimulai. Awal pendapatannya hanya berkisar antara 100 sampai 300 ribu rupiah setiap bulannya. Untuk masing-masing gambar dihargai sesuai dengan tingkat kesulitan gambar yang diinginkan oleh pelanggan. Semakin hari hasil goresan tangan Dhomas diminati banyak pelanggan hingga ia dapat mengantongi 800 ribu setiap bulannya.
“Sekarang aku sedang mencoba inovasi baru dari gambar yang biasa aku buat. Bagus atau tidaknya sebuah karya bisa dilihat dari seberapa banyak pelanggan yang memminta jasa kita. Karena itu aku fokus mengembangkan gaya baru ini,” jelasnya.
Motivasi dan dukungan dari keluarga, kerabat dan teman-temannya membuat Dhomas tumbuh dengan semangat menggapai mimpi-mimpinya. Ia memiliki mimpi untuk dapat membangun suatu bidang usaha. Sehingga ia mampu membantu teman-teman berkebutuhan khusus lainnya dengan memberikan kesempatan berkarya bersaamnya.
“Aku terinspirasi oleh idolaku. Anggie Yudistia dan Dian Inggrawati yang mampu mencapai kesuksesan pada bidangnya masing-masing. Mereka bisa sukses dengan kelebihannya. Aku pun pasti bisa, Aku juga ingin membuat bangga orang tuaku dengan kesuksesanku tentunya” jelasnya lagi.
25 September lalu adalah Hari Tuli Internasional (World Deaf Day). Pusat Layan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan acara pawai simpati berkeliling kampus dengan menyeruakan pendidikan yang setara pada Jumat (30/9). Pendidikan yang setara artinya tidak ada diskriminasi terhadap difabel terutama Tuli. Dhomas berharap Tuli dapat diakui dan diterima di masyarakat.
“Kalau bisa, tiap sekolah dan universitas memiliki layanan juru bahasa isyarat. Karena itu sangat membantu aku dan difabel Tuli lainnya,” tutupnya (faroha).
Merekam Narasi berPLD
Screenshot dari page PLD, komentar dan foto Bapak Arif Maftuhin
Pertama kalinya saya hanya menulis beberapa paragraf mengenai persiapan Hari Tuli Internasional. Isinya tidak bermutu sama sekali, Duh
Hari berikutnya saya menulis tentang sahabat saya, Dhomas Erika Ratnasari. Hasilnya diluar dugaan, respon sangat positif dari masyarakat kampus.
Alhamdulillah...
Sampai saat ini saya sudah menulis 8 artikel mengenai PLD dan masyarakat di dalamnya. Beragai respon positif saya rasakan, walaupun tidak sedikit juga yang memberi komentar kurang memuaskan. Tapi apapun itu saya jadikan sebuah pembelajaran.
Yup, dibawah bimbingan bapak guru saya, Bapak Arif, semoga melahirkan tulisan yang lebih bermutu. Berguru dengan beliau adalah salah satu keberuntungan bagi saya. Semoga beliau senantiasa diberkahi Allah serta diberikan kesabaran dalam mengahadapi kelemotan saya dalam memahami apa yang dimaksud bapak.
Alhamdulillah, Allah selalu menuntun saya bertemu dengan orang-orang hebat.
Selanjutnya, saya akan mempos ulang artikel yang sudah terbit di PLD ke dalam blog pribadi saya.
Kedepannya, saya akan melakukan hal ini setiap kali tulisan saya termuat di laman web ini pld.uin-suka.ac.id. Yang tentunya telah masuk ke editor, Bapak Arif.
Hal ini saya lakukan sebagai draft selama saya menulis.
Piyungan, 21 November 2016
Rabu, 16 November 2016
Mengenal Sosok Teguh, Abdullah Fikri
Dokumentasi sesi wawancara
Tahun 2008 adalah masa generasi kedua Pusat Studi Layanan Difabel (PSLD)
atau yang sekarang berganti nama menjadi Pusat Layanan Difabel (PLD). Pada
tahun inilah Abdullah Fikri memulai menempuh pendidikan di UIN Sunan
Kalijaga dengan Prodi Jinayah Siyasah. Fikri, panggilan akrabnya,
memiliki keterbatasan dalam penglihatan. Tetapi hal tersebut bukanlah
menjadi penghalang baginya untuk menggali ilmu pengetahuan. Di awal masa
kuliahnya, Ia harus bekerja keras untuk dapat mengenali lingkungan sekitarnya.
"Kalau ada temen yang ada keperluan ke tempat perpustakaan atau
sekitar kampus, saya minta diajak juga. Itu agar kenal lingkungan
sekitar,"ungkapnya.
Untuk memahami materi kuliahnya, Fikri harus membaca berlebar-lembar buku
referensi yang sebelumnya discan terlebih dahulu. Ketika itu, Perpustakaan
belum menyediakan koleksi Elektronik Book (E-Book). Melalui aplikasi Job Access
With Speech (JAWS), Fikri dapat membaca teks melalui layar
monitornya. Selain itu, untuk menambah wawasannya, Fikri memilih untuk banyak
berdiskusi dengan teman-teman dari berbagai komunitas. Selain itu Fikri aktif
di Pusat Studi Konsultasi Hukum (PSKH) dan aktif pula di Pusat Studi Syari'ah
dan Konstitusi dengan fokus masalah debat Konstitusi.
"Kalau musim ujian, saya lebih memilih didampingi oleh relawan dari
luar PLD," ujarnya saat ditanya mengenai pendampingan ujian.
Sikapnya yang terbuka dengan orang laian, membuat banyak orang yang
mengenalnya. Karena itu tidak sulit untuk mencari relawan baru saat ujian berlangsung.
Fikri juga menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan salah satu cara untuk
mensosialisasikan bentuk-bentuk pengenalan struktur pendampingan tuna netra di
kalangan kampus. Hal tersebut juga dilakukan ketika Ia mengerjakan skripsinya.
Pada tahun 2012, gelar S.H.I telah disandang Fikri. Setelah itu, Fikri
melanjutkan pendidikannya dengan mengambil prodi Studi Politik dan Pemerintahan
dalam Islam di UIN Sunan Kalijaga.
Dalam
bidang akademik, Fikri mengaku sangat ketat terhadap intervensi dari orang
lain.
“Relawan
hanya membantu hal-hal teknis saja. Secara subtansi saya melakukannya sendiri.
Sama seperti ketika belajar hal-hal baru. Saya hanya mau diajari, tidak mau
didikte”paparnya.
Menurutnya,
ilmu pengetahuan didapatkan dari pengembangan informasi yang telah diterima
dari orang lain.
Tahun
2015, Fikri telah berhasil menyelesaikan
pendidikan masternya. Tidak sedikit rintangan yang dialami Fikri selama masa
perkuliahannya. Seperti membutuhkan waktu yang cukup banyak untuk mencari orang
yang dapat membacakan buku-buku terkait tugas kuliah.
“Beda
dengan pendampingan saat ujian. Itu lebih mudah. Kalau pas butuh bantuan
dadakan, itu sulit. Jadi banyak waktu yang terbuang untuk hal seperti itu,”
kisahnya.
Kiprah
Fikri di dunia akademik tidak berhenti sampai di pintu wisuda. Berbekal ilmu pengetahuan yang didapatnya,
Fikri seringkali diminta untuk menjadi narasumber seminar di beberapa kampus.
Tak hanya itu, Ia pun diminta menjadi asisten dosen.
“
Kesibukan lainnya ya membantu PLD dan tergabung dengan tim peneliti,” paparnya.
Kampus
Inklusi
Kampus
UIN Sunan Kalijaga mendapat penghargaan sebagai kampus Inklusi yang diberikan
oleh dinas Pendidikan. Menyambung akan hal tersebut, Fikri memaparkan
pandangannya dari pengalaman yang dialaminya. Menurutnya, parameter yang tepat
untuk mengukur kampus inklusi dapat dilihat dari dua sisi yaitu aksesibilitas
dan acceptibilitas.
Mengenai
aksesibilitas kampus, Fikri merasa sudah cukup bagus saat ini. Ia membandingkan
dengan masa kuliahnya dulu yang cukup menguji kemandirian. Dilihat dari PLD
yang semakin banyak membantu dan melayani kebutuhan Difabel. Seperti, koleksi
E-Book yang dimiliki perpustakaan serta didirikannya Difabel Corner (DC). DC
merupakan produk dari kerja sama perpustakaan dengan PLD yang bertempat
di lantai 1 perpustakaan.
“Itu
dari segi disabilitas yang saya alami. Tapi untuk disabilitas yang lain masih
perlu banyak pembenahan lagi. Kalaupun ada kebijakan, tapi belum
terimplementasi dengan baik,”ungkapnya.
Acceptibilitas
merupakan gambaran penerimaan difabel di tengah masyarakat kampus. Namun hal
yang terjadi saat ini, masih belum menyeluruh. Terbukti dengan masih adanya
prodi yang menolak difabel dengan alasan teknis yang seharusnya dapat diatasi
oleh pihak kampus.
Dilihat
dari kedua hal itu, UIN Sunan Kalijaga masih dalam tahap menuju inklusi. Artinya
belum menjadi kampus yang inklusi. Fikri juga memaparkan tentang pengamatannya
mengenai idealnya kampus inklusi. Ada dua faktor yang harus diperhatikan. Melihat
struktur kampus dan difabel itu sendiri.
Dari
struktur kampus, sikap inklusi masih belum merata di kalangan mahasiswa dan
staff . selain itu kebijakan afirmatif
seperti beasiswa untuk difabel belum ada.
“Kebutuhan
untuk media pembelajaran bagi difabel tentu berbeda dengan mahasiswa lain. Lebih
banyak uang yang dikeluarkan untuk scan materi. Belum lagi uang yang harus
dikeluarkan untuk mobilitas dari tempat tinggal ke kampus. Itu yang saya alami
dulu,”kenangnya.
Dari
segi difabel sendiri harus lebih proaktif dalam melaksanakan kewajibannya
sebagai mahasiswa. Difabel harus konsekuen terhadap hak dan kewajibannya.
“Nggak
cuma nuntut fasilitas aja tapi hal fasilitas yang sudah tersedia harusnya.mampu
mendorong Difabel untuk lebih meningkatkan kapasitasnya sebagai personal. Megembangkan
potensi diri dalam proses pembelajaran,” jelas Fikri.
Mengakhiri
sesi wawancara, Fikri menegaskan bahwa UIN Sunan Kalijaga sebagai universitas
yang pertama kali menginisiasi kampus inklusi, harusnya menyadari bahwa lebel tersebut harus didukung dengan power
yang kuat. Power tersebut berupa dan a yang harus dipersiapkan serta keinklusian
di masyarakat kampus itu sendiri. (faroha)
Senin, 14 November 2016
Target penerjemah
Dia masih asik menjelaskan tentang acara tadi. Diskusi tentang Kota Inklusi bersama teman-teman Tuli dan pihak pemerintahan Kota Yogyakarta. Itulah Dhomas, si cerdas dari Yogyakarta. Karena dia asli Kota Yogyakarta ini maka dia diundang untuk mengikuti diskusi tersebut sebagai salah satu wakil Tuli dari mahasiswa PLD. Belum selesai penjelasan darinya, seseorang memanggilku dari belakang. Rupanya Rahma.
"Sebentar ya," ucapku sambil menyerahkan tanganku dipangkuannya. Aku masih tetap fokus menatap Dhomas yang masih meneruskan penjelasannya. Selang beberapa saat, mataku beralih pada Rahma. Dia salah satu relawan di Pusat Layanan Difabel (PLD) ini, sama sepertiku.
"Mbak, Lia sekarang presentasi. Tapi aku ga bisa bahasa isyarat, sedangkan dia maunya sama yang udah lancar bahasa isyarat," kisahnya.
Deg, aku aja belum bisa. Gumanku. Lia sama seperti Dhomas, Mahasiswa Tuli. Bedanya Dhomas masih mampu memahami bahasa oral sedangkan Lia full memakai bahasa isyarat. Aku bertanya tentang bagaimana sikap Lia dan persiapan yang dilakukan Rahma. Dari penjelasannya aku memahami tentang perjuangan Rahma selama satu minggu untuk memahami makalah yang akan dipresentasikan Lia.
"Aku udah minta untuk diajari bahasa isyarat sama dia. Tapi Dia bilang waktu seminggu ngga cukup," ungkapnya lagi.
Aku dan Lia kebetulan satu jurusan. Rahma menjelaskan mata kuliah dan dosennya. Pak Arif ternyata dengan mata kuliah Fiqih Sosial. Sudah kujelaskan Rahma. Aku belum lancar menerjemahkan bahasa isyarat. Apalagi bahasa isyarat Lia. Aaah aku belum bisa memahami.
"Tapi mbak lebih bisa dari aku, ayolah mbak,"
Akhirnya aku iyakan untuk mencoba menggantikan peran Rahma. Aaah itupun kalau dia mau. Pikirku.
Sampai di lantai 4 Fakultas Dakwah, Lia masih berbincang dengan temannya. Dosennya belum masuk. Awalnya Rahma meminta maaf dan menjelaskan pergantian pendamping. Tapi sayang dari ekspresi wajahnya aku bisa menangkap kalau aku juga ditolak olehnya.
Aku mencoba menjelaskan dengan bahasa isyarat perihal masalah yang dihadapi kami.
"Aku tidak mau didampingi sama yang belum bisa bahasa isyarat. Khawatir nanti salah saat menjelaskan," ungkapnya melalu gerakan jari-jemari.
Aku menegaskan padanya. Tidak ada pendamping di PLD. Dia harus lebih memilih untuk didampingi oleh salah satu dari kita atau lebih baik presentasi sendirian.
"Aku tidak mau. Kamu harus belajar lagi," Itu lah kalimat terakhirnya setelah menjelaskan keinginannya untuk didampingi oleh relawan senior yang tak ada wujudnya di PLD saat ini. Huh.
Yaaaah, target tahun ini mampu menerjemahkan bahasa isyarat.
Terimkasih Lia telah menembak tepat dititik kelemahanku.
Pusat Layanan Difabel,
15 Oktober 2016
Kamis, 10 November 2016
Arti Sebuah Penelitian
"Kalau hasil akhirnya hanyalah sebuah buku terus disimpen di perpustakan, ya siapa juga yang mau baca," ungkap Mbak Irma.
Hujan sudah reda. Kami duduk di teras rumah Mbak Irma. Tak kuasa menolak ajakan tuan rumah untuk ngeteh membuat saya berkesempatan ngobrol banyak dengan Mbak Irma.
"Berarti peneliti isu difabel itu harusnya mengubah pandangan sosial terhadap difabel secara berkelanjutan ya mbak ?" tanyaku.
Pembahasan Mbak Irma meluas hingga proses perubahan pandangan di masyarakat dan mengungkit difabel yang hanya sebagai "objek" penelitian. Seorang peneliti harusnya tidak hanya mandeg disebuah peneliti kemudian berkata "ini loh bukti kalau difabel itu mampu berdaya. Bisa kuliah, bisa bekerja dan bisa melakukannya seperti orang non difabel,"
Setelah itu sudah. Tutup buku. Masyarakat memahami atau tidak sepertinya bukan lagi menjadi tanggung jawab peneliti. Dimanakah perubahannya? Tidak ada.
Difabel hanya dijadikan objek penelitian setelah itu penelitian hanya berhenti pada lembaran kertas. Hasilnya difabel harus tetap berjuang mandiri untuk melalui hambatan-hambatan sosialnya.
Hujan sudah reda. Kami duduk di teras rumah Mbak Irma. Tak kuasa menolak ajakan tuan rumah untuk ngeteh membuat saya berkesempatan ngobrol banyak dengan Mbak Irma.
"Berarti peneliti isu difabel itu harusnya mengubah pandangan sosial terhadap difabel secara berkelanjutan ya mbak ?" tanyaku.
Pembahasan Mbak Irma meluas hingga proses perubahan pandangan di masyarakat dan mengungkit difabel yang hanya sebagai "objek" penelitian. Seorang peneliti harusnya tidak hanya mandeg disebuah peneliti kemudian berkata "ini loh bukti kalau difabel itu mampu berdaya. Bisa kuliah, bisa bekerja dan bisa melakukannya seperti orang non difabel,"
Setelah itu sudah. Tutup buku. Masyarakat memahami atau tidak sepertinya bukan lagi menjadi tanggung jawab peneliti. Dimanakah perubahannya? Tidak ada.
Difabel hanya dijadikan objek penelitian setelah itu penelitian hanya berhenti pada lembaran kertas. Hasilnya difabel harus tetap berjuang mandiri untuk melalui hambatan-hambatan sosialnya.
Senin, 07 November 2016
Mengikuti Jejak Langkahmu
Menulis adalah nadiku. Itu terdengar klise atau
biasa disebut sok puitis. Tapi apapun
namanya yang jelas saya suka menulis. Karakter tulisannya pun bisa
bermacam-macam. Misalnya cerpen, berita, opini atau tulisan ringan yang pernah saya alami. Biasanya, orang yang suka menulis cenderung berawal dari suka membaca. Ya itulah yang saya alami.
Ketika Aliyah dulu, saya menulis sebagai wartawan sekolah di sebuah koran swast a di tempat asal saya, Cirebon.Beberapa kali menulis cerpen dan terbit di koran lokal Cirebon. Hingga saya memasuki bangku kuliah, saya masih suka menulis. Hanya saja berbeda lembaran putihnya. Saya mulai menulis di blog. Itupun baru di semester 3 perkuliahan. Saya bertemu dengan tokoh-tokoh dalam hidup saya yang suka ngeblog. Jadilah saya terbiasa menularkan segala isi kepala ke dalam blog ini.
Blog yang saya kelola ini hampir semuanya bercirikan kisah lalu. Masih menulis apa yang telah terjadi. Ah malu rasanya jika dibandingkan temen-teman saya yang sudah mahir menulis ilmiah. Dari sinilah projec menulis berdasarkan ilmu yang saya terima di perkuliahan akan saya mulai. Satu minggu satu tulisan. Semoga saja bisa. Aamiin.
Salah satu tokoh yang membuat saya gemar menulis adalah guru saya saat ini. Beliau yang mendorong saya untuk terbiasa memaksakan jari-jemari saya menari diatas keyboard. Sosok guru yang sangat berpengaruh dalam perubahan mindset saya. Dulu, saya pernah menarasikan beliau di dalam blog ini. Tulisan beliau menjadi makanan sehari-hari. Mungkin ini cara Allah mengajari saya bagaimana menulis itu.
Piyungan,
07 Nopember 2016
Jumat, 04 November 2016
Mematahkan Disengagement Theory
Mbah Uti, Saya dan Mbah Kakung
Selesai Ta'lim, saya langsung tancap gas ke ndalem simbah untuk melakukan permintaan Mbah Uti, menemani belanja ke pasar. Karena moment ini adalah first time, saya sampai bertanya pada salah satu santri putri yang biasa mbonceng Mbah Uti ke pasar. Terutama untuk rute yang nyaman. Bukannya tidak bisa, tapi khawatir saya melakukan tindakan yang kurang nyaman. Ibu Saya sering menepuk pundak saya saat menyetir motor. Mungkin dulu saya keterlaluan :).
Belum juga bertemu dengan simbah, pikiran saya lari pada pertanyaan bagaimana perjalanan pulangnya ini. "Ora usah naik motor. Bareng Yazid wae. Mengko angel le nggowo barang akeh," aah lega rasanya. Mbah Uti selalu pengerten. Pak Yazid salah satu putra Mbah Uti yang tinggal tepat di depan rumah simbah. Kali ini memang akan belanja besar untuk acara ahad kliwon besok.
Mobil kami berhenti di belakang pasar Piyungan. Ini agar lebih mudah bolak balik menyimpan barang di mobil. Saya dan simbah memasuki pintu paling ujung pasar. Disini kami disambut oleh ibu-ibu penjual Pisang. Saya yang masih belum fasih berbahasa jawa Jogja hanya diam memperhatikan. Maklum saja jawa Cirebon sangat jauh berbeda dengan bahasa disini.
Mata saya beredar keseluruh sudut pasar. Ini bukan pertama kalinya saya kesini. Sudah terbiasa berhadapan dengan penghuni pasar yang mayoritas ibu-ibu ini. Setelah saya perhatikan, dari penjual kerupuk di ujung kiri hingga penjual pisang diujung kanan adalah ibu-ibu Lansia. Mereka masih terlihat lihai dalam tawar menawar. Kondisi fisik mereka sudah mendeskripsikan usianya. Tapi saya tidak melihat hambatan mereka saat berintraksi dengan para pembeli. Begitupun dengan Mbah Uti yang masih ingat letak-letak penjual ini dan itu. Tubuhnya masih sigap dalam melakukan banyak aktifitas. Namun namanya Lansia, pasti mengalami beberapa penurunan kondisi fisik. Beliau pernah bercerita tentang penurunan daya tahan tubuhnya.
Memperhatikan mereka mengingatkan saya dengan beberapa teori yang pernah didiskusikan di mata kuliah Lansia dan Disabilitas semester 4 lalu. Seperti ketika saya membatah Disengagement Theory yang dipresentasikan oleh kelompok lain, Lansia dapat diberdayakan. Saat itu, saya juga memaparkan tentang aktivitas Mbah Kakung yang masih aktif berdakwah di masyarakat dan mengajar santri-santri disini. Bahkan saya harus berkali-kali minta maaf atas kesalahan saya karena masalah miskomunikasi yang terjadi. "Kita itu belajar tidak hanya di sekolah atau di kampus. Tapi juga diulang kahanan," Artinya terkadang kita belajar dari lingkungan sekitar. Begitulah Simbah selalu bijak dalam mengahadapi anak-anak disini.
Disengagement Theory cenderung memarginalkan Lansia. Seolah-olah melihat dengan satu mata yang terfokus dengan satu hal. Teori tersebut mendeskripsikan bahwa ketika seseorang pada tahap lansia, ia akan memisahkan diri dengan dunia sosial. Karena itulah lahir konsep pensiun. Melihat aktifitas ibu-ibu lansia di pasar dan kedua simbah tercinta saya ini, saya mengakui adanya fakta dari Activity Theory. Aktifitas yang dilakukan lansia berperan penting terhadap kondisi fisik dan psikologis lansia. Teori tersebut juga menjelaskan bahwa konsep diri yang baik akan lahir jika lansia beraktifitas di dunia sosial.
Masih banyak hal yang ingin saya tulis disini. Ah tapi waktu tak mengijinkan. Saya tidak yakin selepas duhur hingga ahad sore memiliki waktu menulis.
Bantul 05 November 2016
Langganan:
Postingan (Atom)



