Rumput Liar

Rabu, 04 Januari 2017

Manusia asing memanusiakan manusia

Momen saat berlatih bahasa isyarat. Bentu dakri upaya memanusiakan manusia.


Filosofi yang dibawa bapak Dr GSSJ Ratulangi "Si Tou Timou Tumou Tou" yang artinya manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia, mengingatkan saya tentang bagaimana sosok difabel dimata orang lain dan perlakuan yang diberikan. Penerimaan difabel seharusnya bukan dilihat dari prestasi atau seolah-olah diperlakukan dengan wajar jika telah terjawab pertanyaan "kamu bisa apa?". Lha wong yang bukan difabel saja ada kok yang tidak berprestasi. Seperti yang dikatakan guru saya, Ibu Ro'fah Makin, "Kita menghargai mereka bukan karena prestasi. Ya karena mereka seperti kita, manusia juga". Nyatanya memang konsep "memanusiakan manusia" masih asing implementasinya ditengah manusia.

Pusat Layanan Difabel
05 Januari 2017

Senin, 26 Desember 2016

Pelepas Penat


Tertawa bersama anak-anak adalah salah satu cara saya menghibur diri. Aktivitas yang padat merayap dari pagi hingga malam hari. Satu tahun pertama di pesantren ini, saya dikelilingi oleh anak-anak. Sayangnya menginjak tahun ke 2, saya dipindah tugas di pondok cabang. Tak lagi mendengar celoteh ataupun tawa anak-anak lagi.
Saya rindu dengan dek Aik yang sudah boyong dari pondok.  Dek Ikoh yang pendiam. Meskipun masih 1 lembaga tapi kami jarang bertemu. Karena berbeda wilayah. Sama seperti Gus Reihan yang jauh, Biasanya sore setelah Aa Husen, Mbak Icha dan Dek Hanif mandi, mereka duduk di sekitar mushala. Peluhku dari kampus hilang seketika melihat tawa mereka. Sayang, mereka pindah ke Cirebon.
Sekarang ada dek Ina, putri bungsu guruku, Bapak Arif Maftuhin. Biasanya aku menemuinya di PLD. Lucu, manis, cantik, imut dan menggemaskan. Foto diatas, menjelaskan pertemuan kedua kami. Saat itu kepalaku cenat-cenut. Masuk PLD liat dia sedang nonton film barbie. Jadilah kami berdialog sebentar. Dia seperti malaikat kecil yang megusap penatku hari itu.

Piyungan, menjelang tengah malam
26 desember 2016

Sabtu, 24 Desember 2016

Kuota 1% untuk Difabel belum terpenuhi

Press Release
Oleh  Faroha
24 Desember 2016

Kuota 1% untuk Difabel belum terpenuhi

Menurut menteri ketenagakerjaan M.Hanif Dhakiri mengatakan bahwa jumlah perusahaan di Indonesia yang mempekerjakan difabel masih sangat minim. Hal ini dapat dilihat dari jumlah Difabel usia kerja yang masih menganggur. Difabel (different ability) adalah istilah yang digunaan untuk menyebut seseorang dengan keterbatasan secara fisik, mental dan sensorik.
Data dari WHO, Bank Dunia, dan ILO menunjukan bahwa saat ini jumlah difabel di dunia diperkirakan sebesar 15 persen dari jumlah penduduk dunia atau sebesar satu miliar orang. Dari jumlah itu, sedikitnya terdapat 785 juta difabel masuk dalam usia kerja. Di Indonesia, berdasarkan data Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Sosial (Kemensos), jumlah difabel sampai 2010 mencapai 11.580.117 orang.
Sedangkan, data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) merekam, jumlah tenaga kerja difabel pada 2010 mencapai 7.126.409 orang. Angka itu terdiri atas tunanetra 2.137.923 orang, tunadaksa 1.852.866 orang, tunarungu 1.567.810 orang, cacat mental 712.641 orang, dan cacat kronis sebanyak 855.169 orang. Untuk itu, Kemenaker berencana mendorong dan meningkatkan jumlah kuota pekerjaan bagi pekerja difabel.

Pemerintah Indonesia telah mengesahkan undang-undang no 8 tahun 2016 bulan april lalu. Dalam undang-undang tersebut telah menjamin difabel memiliki kuota 1% di setiap perusahaan. Artinya perusahaan semestinya mempekerjakan 1 orang Difabel untuk setiap 100 orang pekerja. Sayangnya, hal tersebut belum diindahkan oleh pihak terkait. Karena itu Kementrian Ketenagakerjaan memberikan penghargaan kepada perusahaan yang peduli dan memperkerjakan difabel secara layak.
Upaya tersebut alangkah lebih baik jika diiringi dengan usaha peningkatan skill bagi difabel. Rendahnya penyerapan tenaga kerja difabel salah satunya disebabkan oleh pandangan masyarakat bahwa difabel tidak bisa melakukan pekerjaan dengan baik. Sungguh ironi, seseorang dianggap tidak bisa melakukan suatu hal sebelum diberi kesempatan. Pemerintah juga seharusnya memberikan sanksi kepada pihak-pihak yang tidak mengimplemtasikan undang – undang yang menjamin hak-hak difabel di segala bidang, khususnya di bidang ketenagakerjaan.

http://www.republika.co.id/berita/koran/hukum-koran/15/03/12/nl37g822-perusahaan-pekerjakan-difabel-masih-minim

Jumat, 02 Desember 2016

Saya Difabel


Sebagian icon difabel


Berikut ini saya tulis, kisah yang saya alami sendiri. Saya kira, pantas untuk kita renungkan.

Scene 1
Peringatan Hari Tongkat Putih (White Cane Safety Day) yang dilakukan pusat Layanan Difabel (PLD) 14 Oktober lalu memberi kesempatan bagi saya untuk mencicipi hidup dalam kegelapan. Berjalan dengan mata tertutup dari Gedung PAU yang berada di kampus barat menuju PLD  di kampus timur. Rasa kaget dengan dunia tanpa cahaya. Khawatir menabrak, terjatuh atau nyasar ke tempat yang berbahaya. Saya difabel netra.

Scene 2
Menunggu pergantian jam perkuliahan membawa saya memilih berkunjung ke PLD. Awalnya saya menyapa salah satu teman Tuli saya. Menanyakan perkuliahan dan aktifitas kampus dengan sedikit bahasa isyarat yang saya bisa. Beberapa waktu kemudian, datanglah satu demi satu teman-teman Tuli lainnya. Gerakan tangan mereka sangat cepat dan disertai dengan ekspresi muka yang memperjelas maksud percakapan. Tapi saya tak mampu memahami bahasa mereka. Bekal bahasa isyarat saya sangat minim. Wal hasil saya pun menjadi penonton setia dari percakapan bahasa isyarat yang terjadi di depan saya. Saya Tuli.

Scene 3
Saat itu lutut kaki kiri saya tak sengaja terbentur meja. Awalnya hanya nyeri akibat benturan. Tapi malamnya, mulai terasa membengkak. Ketika menjelang shubuh, saya merasakan kaki saya tak bisa ditekuk. Akhirnya shalatpun saya jalani dengan duduk selonjor. Resikonya, saya maenjadi pusat perhatian anak-anak di pesantren. Untuk berjalan pun menjadi semakin sulit. Ditambah lagi saya harus naik turun tangga menuju masjid milik pesantren. Aktifitas lainpun sama. Saya harus menahan nyeri dan menjaga agar kaki kiri saya tetap dalam keadaan tegak. Sekitar 3 hari, saya merasakan sulitnya mobilitas. Disitu, saya difabel daksa.
Difabel bisa terjadi pada siapa saja. Karena itu sebuah keniscayaan bahwa pada akhirnya kita akan mengalami manjadi difabel.  So, keep care to others !
Yogyakarta, 03 Desember 2016



Dokumentasi 14 Oktober 2016

Jumat, 25 November 2016

Penghibur hati


Kok kitab yang dipake nggak kompak ya :)

Saya bukan ustadzah, apalagi seorang guru. Saya hanya seorang yang kebetulan ditugaskan untuk mendampingi proses belajar  mereka. Selama 2 tahun saya berkecimpung di dunia Pesantren Al Mumtaz, mendampingi berbagai karakter santri, baru merekalah yang lebih dekat dengan saya.
Tulisan ini tidak lain untuk menarasikan sebagian kecil kisahku dengan mereka. Yang namanya kisah, tentu ada pahitnya. Biarlah itu menjadi kenangan di hati saya dan mereka. Tanpa perlu saya publikasi di lembar putih ini.
Maghrib itu, menjadi maghrib yang berat bagi saya. Kedua kaki saya serasa terasa nyeri. Ta'lim pun saya lakoni dengan selonjoron. Seperti maghrib sebelumnya, mereka duduk mengelilingiku. Tak disangka mereka yang duduk diposisi yang tepat untuk memijat segera menyentuh lengan dan kaki saya. ahh harunya maghrib itu.
Rasanya nyaman bersama mereka, bercanda tawa untuk mengusir lelah. Walau terkadang saya harus bekerja keras untuk "mengingatkan" mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak.
Tapi itulah  mereka, dengan segala keunikannya, adalah titipan dari Allah untuk mengajari saya apa itu 'sabar'.
Sebagai seorang manusia biasa, saya tidak akan terlepas dari kesalahan. Karena itu ijinkan saya bertutur kata maaf untuk setiap salah saya.
Berdo'a seperti jembatan sebagai pendamping kalian.
Untuk Dek Feti, Hana, Nunik, Nurul, Fitri, Fatimah, Indah dan Mila, temukanah duniamu yang akan mengantarkanmu pada Allah.


Piyungan, 25 November 2016


Senin, 21 November 2016

Sunyi tapi Penuh Karya I 30 September 2016





"Tingkatkan skillmu sampai idolamu menjadi rivalmu." Itulah prinsip hidup seorang Tuli bernama Dhomas Erika Ratnasari. Baginya, keterbatasan tidak menghalanginya untuk berprestasi. Ia tak dapat mendengar; namun, berkat ketekunan berlatih ia pun mampu berbicara. Hanya saja suaranya kecil. 

Ketika usianya menginjak bulan kesepuluh, Dhomas mengalami sakit panas yang terus menerus. “Usia 3 tahun, aku divonis tidak dapat mendengar,” ungkapnya. Kedua orang tua Dhomas menerima dengan lapang dada kondisi putri semata wayangnya itu. Terapi wicara menjadi alternatif untuk dapat terbiasa berkomunikasi dengan baik. Karena itulah Dhomas mampu memahami apa yang dikatakan lawan bicaranya dengan membaca gerakan bibir (oral).

Perempuan kelahiran 1 September 1995 ini memiliki hobi menggambar. Memasuki Sekolah Dasar di SLB 2 Bantul (dulu SLB 4 Sewon), orangtua Dhomas mendorongnya untuk mengikuti berbagai ajang perlombaan. Hasilnya sangat menggembirakan. Ia  menyabet juara kabupaten hingga provinsi untuk kategori SD. Dhomas sempat bersekolah di Cottingley Primary School di Inggris selama 3 tahun. Hal tersebut dilakukan karena mengikuti Ayahnya yang menyelesaikan PhD di Inggris. Ia sempat kesulitan dalam berkomunikasi karena menggunakan Bahasa Inggris.  Seiring berjalannya waktu ia mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang baru.

Ketika bersekolah di SMP 2 Sewon Bantul, ia sempat belajar privat dengan seorang guru lukis. Sayangnya ia tidak lagi mendapatkan informasi seputar ajang perlombaan menggambar. “Aku hanya ikut lomba mengarang cerita. Alhamdulillah, Juara 1 tingkat provinsi dapat aku raih”, kenangnya.
Meskipun memiliki keterbatasan dalam pendengaran, orang tua Dhomas memilih menyekolahkan Dhomas di sekolah umum. Hanya di sekolah dasar saja ia berada di sekolah dengan siswa berkebutuhan khusus. 
“Sejak SMP dan SMA tidak ada fasilitas penerjemah bahasa isyarat. Tapi teman-teman dan guru-guru di sekolah bisa menyesuaikan dengan keterbatasanku. Mereka berbicara pelan denganku. Yang terpenting aku dapat memahami ilmu yang disampaikan di sekolah,” tuturnya.

Menginjak bangku SMA, prestasinya semakin gemilang dengan menyabet juara 1 melukis  tinggat Provinsi, dua kali berturut-turut. Ketika itu juga Dhomas mulai melirik anime (kartun Jepang)  dan belajar menekuni bidang tersebut dengan serius. Usai SMA, ia melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan mengambil prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS).
“Aku memilih kuliah di UIN Sunan Kalijaga ini karena ada Pusat Layanan Difabel (PLD) yang di dalamnya terdapat fasilitas penerjemah bahasa isyarat. Tidak semua penjelasan dari dosen bisa aku pahami melalui gerakan bibir. Karena itu aku butuh notetaker,” jelasnya lagi.

Di semester 3 perkuliahannya, Ia mulai memberanikan diri  membuka jasa menggambar anime untuk para penggemar anime. Mayoritas penggemarnya berasal dari luar negeri. Dalam menawarkan jasa menggambar anime, Dhomas menggunakan website DevianArt. Karya-karyanya juga terdapat di akun Facebooknya.
Dari sinilah bisnis online dimulai. Awal pendapatannya hanya berkisar antara 100 sampai 300 ribu rupiah setiap bulannya. Untuk masing-masing gambar dihargai sesuai dengan tingkat kesulitan gambar yang diinginkan oleh pelanggan. Semakin hari hasil goresan tangan Dhomas diminati banyak pelanggan hingga ia dapat mengantongi 800 ribu setiap bulannya.
“Sekarang aku sedang mencoba inovasi baru dari gambar yang biasa aku buat. Bagus atau tidaknya sebuah karya bisa dilihat dari seberapa banyak pelanggan yang memminta jasa kita. Karena itu aku fokus mengembangkan gaya baru ini,” jelasnya.

Motivasi dan dukungan dari keluarga, kerabat dan teman-temannya membuat Dhomas tumbuh dengan semangat menggapai mimpi-mimpinya. Ia memiliki mimpi untuk dapat membangun suatu bidang usaha. Sehingga ia mampu membantu teman-teman berkebutuhan khusus lainnya dengan memberikan kesempatan berkarya bersaamnya.
“Aku terinspirasi oleh idolaku. Anggie Yudistia dan Dian Inggrawati yang mampu mencapai kesuksesan pada bidangnya masing-masing. Mereka bisa sukses dengan kelebihannya. Aku pun pasti bisa, Aku juga ingin membuat bangga orang tuaku dengan kesuksesanku tentunya” jelasnya lagi.

25 September lalu adalah Hari Tuli Internasional (World Deaf Day). Pusat Layan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan acara pawai simpati berkeliling kampus dengan menyeruakan pendidikan yang setara pada Jumat (30/9). Pendidikan yang setara artinya tidak ada diskriminasi terhadap difabel terutama Tuli. Dhomas berharap Tuli dapat diakui dan diterima di masyarakat.
“Kalau bisa,  tiap sekolah  dan universitas memiliki layanan juru bahasa isyarat. Karena itu sangat membantu aku dan difabel Tuli lainnya,” tutupnya (faroha). 

Merekam Narasi berPLD


Screenshot dari page PLD, komentar dan foto Bapak Arif Maftuhin

 Rabu, 28 September 2016 saya mendapat mandat untuk menjadi kontributor menulis untuk Pusat Layanan Difabel (PLD). Mandat tersebut diberikan langsung oleh Kepala PLD, Bapak Arif Maftuhin ke pada saya :)
Pertama kalinya saya hanya menulis beberapa paragraf mengenai persiapan Hari Tuli Internasional. Isinya tidak bermutu sama sekali, Duh
Hari berikutnya saya menulis tentang sahabat saya, Dhomas Erika Ratnasari. Hasilnya diluar dugaan, respon sangat positif dari masyarakat kampus.
Alhamdulillah...
Sampai saat ini saya sudah menulis 8 artikel mengenai PLD dan masyarakat di dalamnya. Beragai respon positif saya rasakan, walaupun tidak sedikit juga yang memberi komentar kurang memuaskan. Tapi apapun itu saya jadikan sebuah pembelajaran.
Yup, dibawah bimbingan bapak guru saya, Bapak Arif, semoga melahirkan tulisan yang lebih bermutu. Berguru dengan beliau adalah salah satu keberuntungan bagi saya. Semoga beliau senantiasa diberkahi Allah serta diberikan kesabaran dalam mengahadapi kelemotan saya dalam memahami apa yang dimaksud bapak.
Alhamdulillah, Allah selalu menuntun saya bertemu dengan orang-orang hebat.
Selanjutnya, saya akan mempos ulang artikel yang sudah terbit di PLD ke dalam blog pribadi saya.
Kedepannya, saya akan melakukan hal ini setiap kali tulisan saya termuat di laman web ini pld.uin-suka.ac.id. Yang tentunya telah masuk ke editor, Bapak Arif.
Hal ini saya lakukan sebagai draft selama saya menulis.


Piyungan, 21 November 2016