Rumput Liar

Sabtu, 24 Desember 2016

Kuota 1% untuk Difabel belum terpenuhi

Press Release
Oleh  Faroha
24 Desember 2016

Kuota 1% untuk Difabel belum terpenuhi

Menurut menteri ketenagakerjaan M.Hanif Dhakiri mengatakan bahwa jumlah perusahaan di Indonesia yang mempekerjakan difabel masih sangat minim. Hal ini dapat dilihat dari jumlah Difabel usia kerja yang masih menganggur. Difabel (different ability) adalah istilah yang digunaan untuk menyebut seseorang dengan keterbatasan secara fisik, mental dan sensorik.
Data dari WHO, Bank Dunia, dan ILO menunjukan bahwa saat ini jumlah difabel di dunia diperkirakan sebesar 15 persen dari jumlah penduduk dunia atau sebesar satu miliar orang. Dari jumlah itu, sedikitnya terdapat 785 juta difabel masuk dalam usia kerja. Di Indonesia, berdasarkan data Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Sosial (Kemensos), jumlah difabel sampai 2010 mencapai 11.580.117 orang.
Sedangkan, data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) merekam, jumlah tenaga kerja difabel pada 2010 mencapai 7.126.409 orang. Angka itu terdiri atas tunanetra 2.137.923 orang, tunadaksa 1.852.866 orang, tunarungu 1.567.810 orang, cacat mental 712.641 orang, dan cacat kronis sebanyak 855.169 orang. Untuk itu, Kemenaker berencana mendorong dan meningkatkan jumlah kuota pekerjaan bagi pekerja difabel.

Pemerintah Indonesia telah mengesahkan undang-undang no 8 tahun 2016 bulan april lalu. Dalam undang-undang tersebut telah menjamin difabel memiliki kuota 1% di setiap perusahaan. Artinya perusahaan semestinya mempekerjakan 1 orang Difabel untuk setiap 100 orang pekerja. Sayangnya, hal tersebut belum diindahkan oleh pihak terkait. Karena itu Kementrian Ketenagakerjaan memberikan penghargaan kepada perusahaan yang peduli dan memperkerjakan difabel secara layak.
Upaya tersebut alangkah lebih baik jika diiringi dengan usaha peningkatan skill bagi difabel. Rendahnya penyerapan tenaga kerja difabel salah satunya disebabkan oleh pandangan masyarakat bahwa difabel tidak bisa melakukan pekerjaan dengan baik. Sungguh ironi, seseorang dianggap tidak bisa melakukan suatu hal sebelum diberi kesempatan. Pemerintah juga seharusnya memberikan sanksi kepada pihak-pihak yang tidak mengimplemtasikan undang – undang yang menjamin hak-hak difabel di segala bidang, khususnya di bidang ketenagakerjaan.

http://www.republika.co.id/berita/koran/hukum-koran/15/03/12/nl37g822-perusahaan-pekerjakan-difabel-masih-minim

Jumat, 02 Desember 2016

Saya Difabel


Sebagian icon difabel


Berikut ini saya tulis, kisah yang saya alami sendiri. Saya kira, pantas untuk kita renungkan.

Scene 1
Peringatan Hari Tongkat Putih (White Cane Safety Day) yang dilakukan pusat Layanan Difabel (PLD) 14 Oktober lalu memberi kesempatan bagi saya untuk mencicipi hidup dalam kegelapan. Berjalan dengan mata tertutup dari Gedung PAU yang berada di kampus barat menuju PLD  di kampus timur. Rasa kaget dengan dunia tanpa cahaya. Khawatir menabrak, terjatuh atau nyasar ke tempat yang berbahaya. Saya difabel netra.

Scene 2
Menunggu pergantian jam perkuliahan membawa saya memilih berkunjung ke PLD. Awalnya saya menyapa salah satu teman Tuli saya. Menanyakan perkuliahan dan aktifitas kampus dengan sedikit bahasa isyarat yang saya bisa. Beberapa waktu kemudian, datanglah satu demi satu teman-teman Tuli lainnya. Gerakan tangan mereka sangat cepat dan disertai dengan ekspresi muka yang memperjelas maksud percakapan. Tapi saya tak mampu memahami bahasa mereka. Bekal bahasa isyarat saya sangat minim. Wal hasil saya pun menjadi penonton setia dari percakapan bahasa isyarat yang terjadi di depan saya. Saya Tuli.

Scene 3
Saat itu lutut kaki kiri saya tak sengaja terbentur meja. Awalnya hanya nyeri akibat benturan. Tapi malamnya, mulai terasa membengkak. Ketika menjelang shubuh, saya merasakan kaki saya tak bisa ditekuk. Akhirnya shalatpun saya jalani dengan duduk selonjor. Resikonya, saya maenjadi pusat perhatian anak-anak di pesantren. Untuk berjalan pun menjadi semakin sulit. Ditambah lagi saya harus naik turun tangga menuju masjid milik pesantren. Aktifitas lainpun sama. Saya harus menahan nyeri dan menjaga agar kaki kiri saya tetap dalam keadaan tegak. Sekitar 3 hari, saya merasakan sulitnya mobilitas. Disitu, saya difabel daksa.
Difabel bisa terjadi pada siapa saja. Karena itu sebuah keniscayaan bahwa pada akhirnya kita akan mengalami manjadi difabel.  So, keep care to others !
Yogyakarta, 03 Desember 2016



Dokumentasi 14 Oktober 2016

Jumat, 25 November 2016

Penghibur hati


Kok kitab yang dipake nggak kompak ya :)

Saya bukan ustadzah, apalagi seorang guru. Saya hanya seorang yang kebetulan ditugaskan untuk mendampingi proses belajar  mereka. Selama 2 tahun saya berkecimpung di dunia Pesantren Al Mumtaz, mendampingi berbagai karakter santri, baru merekalah yang lebih dekat dengan saya.
Tulisan ini tidak lain untuk menarasikan sebagian kecil kisahku dengan mereka. Yang namanya kisah, tentu ada pahitnya. Biarlah itu menjadi kenangan di hati saya dan mereka. Tanpa perlu saya publikasi di lembar putih ini.
Maghrib itu, menjadi maghrib yang berat bagi saya. Kedua kaki saya serasa terasa nyeri. Ta'lim pun saya lakoni dengan selonjoron. Seperti maghrib sebelumnya, mereka duduk mengelilingiku. Tak disangka mereka yang duduk diposisi yang tepat untuk memijat segera menyentuh lengan dan kaki saya. ahh harunya maghrib itu.
Rasanya nyaman bersama mereka, bercanda tawa untuk mengusir lelah. Walau terkadang saya harus bekerja keras untuk "mengingatkan" mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak.
Tapi itulah  mereka, dengan segala keunikannya, adalah titipan dari Allah untuk mengajari saya apa itu 'sabar'.
Sebagai seorang manusia biasa, saya tidak akan terlepas dari kesalahan. Karena itu ijinkan saya bertutur kata maaf untuk setiap salah saya.
Berdo'a seperti jembatan sebagai pendamping kalian.
Untuk Dek Feti, Hana, Nunik, Nurul, Fitri, Fatimah, Indah dan Mila, temukanah duniamu yang akan mengantarkanmu pada Allah.


Piyungan, 25 November 2016


Senin, 21 November 2016

Sunyi tapi Penuh Karya I 30 September 2016





"Tingkatkan skillmu sampai idolamu menjadi rivalmu." Itulah prinsip hidup seorang Tuli bernama Dhomas Erika Ratnasari. Baginya, keterbatasan tidak menghalanginya untuk berprestasi. Ia tak dapat mendengar; namun, berkat ketekunan berlatih ia pun mampu berbicara. Hanya saja suaranya kecil. 

Ketika usianya menginjak bulan kesepuluh, Dhomas mengalami sakit panas yang terus menerus. “Usia 3 tahun, aku divonis tidak dapat mendengar,” ungkapnya. Kedua orang tua Dhomas menerima dengan lapang dada kondisi putri semata wayangnya itu. Terapi wicara menjadi alternatif untuk dapat terbiasa berkomunikasi dengan baik. Karena itulah Dhomas mampu memahami apa yang dikatakan lawan bicaranya dengan membaca gerakan bibir (oral).

Perempuan kelahiran 1 September 1995 ini memiliki hobi menggambar. Memasuki Sekolah Dasar di SLB 2 Bantul (dulu SLB 4 Sewon), orangtua Dhomas mendorongnya untuk mengikuti berbagai ajang perlombaan. Hasilnya sangat menggembirakan. Ia  menyabet juara kabupaten hingga provinsi untuk kategori SD. Dhomas sempat bersekolah di Cottingley Primary School di Inggris selama 3 tahun. Hal tersebut dilakukan karena mengikuti Ayahnya yang menyelesaikan PhD di Inggris. Ia sempat kesulitan dalam berkomunikasi karena menggunakan Bahasa Inggris.  Seiring berjalannya waktu ia mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang baru.

Ketika bersekolah di SMP 2 Sewon Bantul, ia sempat belajar privat dengan seorang guru lukis. Sayangnya ia tidak lagi mendapatkan informasi seputar ajang perlombaan menggambar. “Aku hanya ikut lomba mengarang cerita. Alhamdulillah, Juara 1 tingkat provinsi dapat aku raih”, kenangnya.
Meskipun memiliki keterbatasan dalam pendengaran, orang tua Dhomas memilih menyekolahkan Dhomas di sekolah umum. Hanya di sekolah dasar saja ia berada di sekolah dengan siswa berkebutuhan khusus. 
“Sejak SMP dan SMA tidak ada fasilitas penerjemah bahasa isyarat. Tapi teman-teman dan guru-guru di sekolah bisa menyesuaikan dengan keterbatasanku. Mereka berbicara pelan denganku. Yang terpenting aku dapat memahami ilmu yang disampaikan di sekolah,” tuturnya.

Menginjak bangku SMA, prestasinya semakin gemilang dengan menyabet juara 1 melukis  tinggat Provinsi, dua kali berturut-turut. Ketika itu juga Dhomas mulai melirik anime (kartun Jepang)  dan belajar menekuni bidang tersebut dengan serius. Usai SMA, ia melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan mengambil prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS).
“Aku memilih kuliah di UIN Sunan Kalijaga ini karena ada Pusat Layanan Difabel (PLD) yang di dalamnya terdapat fasilitas penerjemah bahasa isyarat. Tidak semua penjelasan dari dosen bisa aku pahami melalui gerakan bibir. Karena itu aku butuh notetaker,” jelasnya lagi.

Di semester 3 perkuliahannya, Ia mulai memberanikan diri  membuka jasa menggambar anime untuk para penggemar anime. Mayoritas penggemarnya berasal dari luar negeri. Dalam menawarkan jasa menggambar anime, Dhomas menggunakan website DevianArt. Karya-karyanya juga terdapat di akun Facebooknya.
Dari sinilah bisnis online dimulai. Awal pendapatannya hanya berkisar antara 100 sampai 300 ribu rupiah setiap bulannya. Untuk masing-masing gambar dihargai sesuai dengan tingkat kesulitan gambar yang diinginkan oleh pelanggan. Semakin hari hasil goresan tangan Dhomas diminati banyak pelanggan hingga ia dapat mengantongi 800 ribu setiap bulannya.
“Sekarang aku sedang mencoba inovasi baru dari gambar yang biasa aku buat. Bagus atau tidaknya sebuah karya bisa dilihat dari seberapa banyak pelanggan yang memminta jasa kita. Karena itu aku fokus mengembangkan gaya baru ini,” jelasnya.

Motivasi dan dukungan dari keluarga, kerabat dan teman-temannya membuat Dhomas tumbuh dengan semangat menggapai mimpi-mimpinya. Ia memiliki mimpi untuk dapat membangun suatu bidang usaha. Sehingga ia mampu membantu teman-teman berkebutuhan khusus lainnya dengan memberikan kesempatan berkarya bersaamnya.
“Aku terinspirasi oleh idolaku. Anggie Yudistia dan Dian Inggrawati yang mampu mencapai kesuksesan pada bidangnya masing-masing. Mereka bisa sukses dengan kelebihannya. Aku pun pasti bisa, Aku juga ingin membuat bangga orang tuaku dengan kesuksesanku tentunya” jelasnya lagi.

25 September lalu adalah Hari Tuli Internasional (World Deaf Day). Pusat Layan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan acara pawai simpati berkeliling kampus dengan menyeruakan pendidikan yang setara pada Jumat (30/9). Pendidikan yang setara artinya tidak ada diskriminasi terhadap difabel terutama Tuli. Dhomas berharap Tuli dapat diakui dan diterima di masyarakat.
“Kalau bisa,  tiap sekolah  dan universitas memiliki layanan juru bahasa isyarat. Karena itu sangat membantu aku dan difabel Tuli lainnya,” tutupnya (faroha). 

Merekam Narasi berPLD


Screenshot dari page PLD, komentar dan foto Bapak Arif Maftuhin

 Rabu, 28 September 2016 saya mendapat mandat untuk menjadi kontributor menulis untuk Pusat Layanan Difabel (PLD). Mandat tersebut diberikan langsung oleh Kepala PLD, Bapak Arif Maftuhin ke pada saya :)
Pertama kalinya saya hanya menulis beberapa paragraf mengenai persiapan Hari Tuli Internasional. Isinya tidak bermutu sama sekali, Duh
Hari berikutnya saya menulis tentang sahabat saya, Dhomas Erika Ratnasari. Hasilnya diluar dugaan, respon sangat positif dari masyarakat kampus.
Alhamdulillah...
Sampai saat ini saya sudah menulis 8 artikel mengenai PLD dan masyarakat di dalamnya. Beragai respon positif saya rasakan, walaupun tidak sedikit juga yang memberi komentar kurang memuaskan. Tapi apapun itu saya jadikan sebuah pembelajaran.
Yup, dibawah bimbingan bapak guru saya, Bapak Arif, semoga melahirkan tulisan yang lebih bermutu. Berguru dengan beliau adalah salah satu keberuntungan bagi saya. Semoga beliau senantiasa diberkahi Allah serta diberikan kesabaran dalam mengahadapi kelemotan saya dalam memahami apa yang dimaksud bapak.
Alhamdulillah, Allah selalu menuntun saya bertemu dengan orang-orang hebat.
Selanjutnya, saya akan mempos ulang artikel yang sudah terbit di PLD ke dalam blog pribadi saya.
Kedepannya, saya akan melakukan hal ini setiap kali tulisan saya termuat di laman web ini pld.uin-suka.ac.id. Yang tentunya telah masuk ke editor, Bapak Arif.
Hal ini saya lakukan sebagai draft selama saya menulis.


Piyungan, 21 November 2016

Rabu, 16 November 2016

Mengenal Sosok Teguh, Abdullah Fikri



Dokumentasi sesi wawancara


Tahun 2008 adalah masa generasi kedua Pusat Studi Layanan Difabel (PSLD) atau yang sekarang berganti nama menjadi Pusat Layanan Difabel (PLD). Pada tahun inilah Abdullah Fikri memulai menempuh  pendidikan di UIN Sunan Kalijaga dengan Prodi Jinayah Siyasah. Fikri, panggilan akrabnya,  memiliki keterbatasan dalam penglihatan. Tetapi hal tersebut bukanlah menjadi penghalang baginya untuk menggali ilmu pengetahuan. Di awal masa kuliahnya, Ia harus bekerja keras untuk dapat mengenali lingkungan sekitarnya.
"Kalau ada temen yang ada keperluan ke tempat perpustakaan atau sekitar kampus, saya minta diajak juga. Itu agar kenal lingkungan sekitar,"ungkapnya.

Untuk memahami materi kuliahnya, Fikri harus membaca berlebar-lembar buku referensi yang sebelumnya discan terlebih dahulu. Ketika itu, Perpustakaan belum menyediakan koleksi Elektronik Book (E-Book). Melalui aplikasi Job Access With Speech (JAWS), Fikri dapat membaca teks melalui layar monitornya. Selain itu, untuk menambah wawasannya, Fikri memilih untuk banyak berdiskusi dengan teman-teman dari berbagai komunitas. Selain itu Fikri aktif di Pusat Studi Konsultasi Hukum (PSKH) dan aktif pula di Pusat Studi Syari'ah dan Konstitusi dengan fokus masalah debat Konstitusi.
"Kalau musim ujian, saya lebih memilih didampingi oleh relawan dari luar PLD," ujarnya saat ditanya mengenai pendampingan ujian.

Sikapnya yang terbuka dengan orang laian, membuat banyak orang yang mengenalnya. Karena itu tidak sulit untuk mencari relawan baru saat ujian berlangsung. Fikri juga menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan salah satu cara untuk mensosialisasikan bentuk-bentuk pengenalan struktur pendampingan tuna netra di kalangan kampus. Hal tersebut juga dilakukan ketika Ia mengerjakan skripsinya.

Pada tahun 2012, gelar S.H.I telah disandang Fikri. Setelah itu, Fikri melanjutkan pendidikannya dengan mengambil prodi Studi Politik dan Pemerintahan dalam Islam di UIN Sunan Kalijaga. 
Dalam bidang akademik, Fikri mengaku sangat ketat terhadap intervensi dari orang lain.
“Relawan hanya membantu hal-hal teknis saja. Secara subtansi saya melakukannya sendiri. Sama seperti ketika belajar hal-hal baru. Saya hanya mau diajari, tidak mau didikte”paparnya.
Menurutnya, ilmu pengetahuan didapatkan dari pengembangan informasi yang telah diterima dari orang lain.

Tahun 2015,  Fikri telah berhasil menyelesaikan pendidikan masternya. Tidak sedikit rintangan yang dialami Fikri selama masa perkuliahannya. Seperti membutuhkan waktu yang cukup banyak untuk mencari orang yang dapat membacakan buku-buku terkait tugas kuliah.
“Beda dengan pendampingan saat ujian. Itu lebih mudah. Kalau pas butuh bantuan dadakan, itu sulit. Jadi banyak waktu yang terbuang untuk hal seperti itu,” kisahnya.

Kiprah Fikri di dunia akademik tidak berhenti sampai di pintu wisuda.  Berbekal ilmu pengetahuan yang didapatnya, Fikri seringkali diminta untuk menjadi narasumber seminar di beberapa kampus. Tak hanya itu, Ia pun diminta menjadi asisten dosen.
“ Kesibukan lainnya ya membantu PLD dan tergabung dengan tim peneliti,” paparnya.

Kampus Inklusi

Kampus UIN Sunan Kalijaga mendapat penghargaan sebagai kampus Inklusi yang diberikan oleh dinas Pendidikan. Menyambung akan hal tersebut, Fikri memaparkan pandangannya dari pengalaman yang dialaminya. Menurutnya, parameter yang tepat untuk mengukur kampus inklusi dapat dilihat dari dua sisi yaitu aksesibilitas dan acceptibilitas.

Mengenai aksesibilitas kampus, Fikri merasa sudah cukup bagus saat ini. Ia membandingkan dengan masa kuliahnya dulu yang cukup menguji kemandirian. Dilihat dari PLD yang semakin banyak membantu dan melayani kebutuhan Difabel. Seperti, koleksi E-Book yang dimiliki perpustakaan serta didirikannya Difabel Corner (DC).  DC  merupakan produk dari kerja sama perpustakaan dengan PLD yang bertempat di lantai 1 perpustakaan.

“Itu dari segi disabilitas yang saya alami. Tapi untuk disabilitas yang lain masih perlu banyak pembenahan lagi. Kalaupun ada kebijakan, tapi belum terimplementasi dengan baik,”ungkapnya.
Acceptibilitas merupakan gambaran penerimaan difabel di tengah masyarakat kampus. Namun hal yang terjadi saat ini, masih belum menyeluruh. Terbukti dengan masih adanya prodi yang menolak difabel dengan alasan teknis yang seharusnya dapat diatasi oleh pihak kampus.

Dilihat dari kedua hal itu, UIN Sunan Kalijaga masih dalam tahap menuju inklusi. Artinya belum menjadi kampus yang inklusi. Fikri juga memaparkan tentang pengamatannya mengenai idealnya kampus inklusi. Ada dua faktor yang harus diperhatikan. Melihat struktur kampus dan difabel itu sendiri.

Dari struktur kampus, sikap inklusi masih belum merata di kalangan mahasiswa dan staff . selain itu  kebijakan afirmatif seperti beasiswa untuk difabel belum ada.
“Kebutuhan untuk media pembelajaran bagi difabel tentu berbeda dengan mahasiswa lain. Lebih banyak uang yang dikeluarkan untuk scan materi. Belum lagi uang yang harus dikeluarkan untuk mobilitas dari tempat tinggal ke kampus. Itu yang saya alami dulu,”kenangnya.

Dari segi difabel sendiri harus lebih proaktif dalam melaksanakan kewajibannya sebagai mahasiswa. Difabel harus konsekuen terhadap hak dan kewajibannya.
“Nggak cuma nuntut fasilitas aja tapi hal fasilitas yang sudah tersedia harusnya.mampu mendorong Difabel untuk lebih meningkatkan kapasitasnya sebagai personal. Megembangkan potensi diri dalam proses pembelajaran,” jelas Fikri.


Mengakhiri sesi wawancara, Fikri menegaskan bahwa UIN Sunan Kalijaga sebagai universitas yang pertama kali menginisiasi kampus inklusi, harusnya menyadari bahwa  lebel tersebut harus didukung dengan power yang kuat. Power tersebut berupa dan a yang harus dipersiapkan serta keinklusian di masyarakat kampus itu sendiri. (faroha)

Senin, 14 November 2016

Target penerjemah

Dia masih asik menjelaskan tentang acara tadi. Diskusi tentang Kota Inklusi bersama teman-teman Tuli dan pihak pemerintahan Kota Yogyakarta. Itulah Dhomas, si cerdas dari Yogyakarta. Karena dia asli Kota Yogyakarta ini maka dia diundang untuk mengikuti diskusi tersebut sebagai salah satu wakil Tuli dari mahasiswa PLD. Belum selesai penjelasan darinya, seseorang memanggilku dari belakang. Rupanya Rahma.
"Sebentar ya," ucapku sambil menyerahkan tanganku dipangkuannya. Aku masih tetap fokus menatap Dhomas yang masih meneruskan penjelasannya. Selang beberapa saat, mataku beralih pada Rahma. Dia salah satu relawan di Pusat Layanan Difabel (PLD) ini, sama sepertiku. 
"Mbak, Lia sekarang presentasi. Tapi aku ga bisa bahasa isyarat, sedangkan dia maunya sama yang udah lancar bahasa isyarat," kisahnya. 
Deg, aku aja belum bisa. Gumanku. Lia sama seperti Dhomas, Mahasiswa Tuli. Bedanya Dhomas masih mampu memahami bahasa oral sedangkan Lia full memakai bahasa isyarat. Aku bertanya tentang bagaimana sikap Lia dan persiapan yang dilakukan Rahma. Dari penjelasannya aku memahami tentang perjuangan Rahma selama satu minggu untuk memahami makalah yang akan dipresentasikan Lia.
"Aku udah minta untuk diajari bahasa isyarat sama dia. Tapi Dia bilang waktu seminggu ngga cukup," ungkapnya lagi.
Aku dan Lia kebetulan satu jurusan. Rahma menjelaskan mata kuliah dan dosennya. Pak Arif ternyata dengan mata kuliah Fiqih Sosial. Sudah kujelaskan Rahma. Aku belum lancar menerjemahkan bahasa isyarat. Apalagi bahasa isyarat Lia. Aaah aku belum bisa memahami. 
"Tapi  mbak lebih bisa dari aku, ayolah mbak,"
Akhirnya aku iyakan untuk mencoba menggantikan peran Rahma. Aaah itupun kalau dia mau. Pikirku.
Sampai di lantai 4 Fakultas Dakwah, Lia masih berbincang dengan temannya. Dosennya belum masuk. Awalnya Rahma meminta maaf dan menjelaskan pergantian pendamping. Tapi sayang dari ekspresi wajahnya aku bisa menangkap kalau aku juga ditolak olehnya.
Aku mencoba menjelaskan dengan bahasa isyarat perihal masalah yang dihadapi  kami.
"Aku tidak mau didampingi sama yang belum bisa bahasa isyarat. Khawatir nanti salah saat menjelaskan," ungkapnya melalu gerakan jari-jemari.
Aku menegaskan padanya. Tidak ada pendamping di PLD. Dia harus lebih memilih untuk didampingi oleh salah satu dari kita atau lebih baik presentasi sendirian.
"Aku tidak mau. Kamu harus belajar lagi," Itu lah kalimat terakhirnya setelah menjelaskan keinginannya untuk didampingi oleh relawan senior yang tak ada wujudnya di PLD saat ini. Huh.

Yaaaah, target tahun ini mampu menerjemahkan bahasa isyarat.
Terimkasih Lia telah menembak tepat dititik kelemahanku.



Pusat Layanan Difabel,
15 Oktober 2016