Rumput Liar

Rabu, 16 November 2016

Mengenal Sosok Teguh, Abdullah Fikri



Dokumentasi sesi wawancara


Tahun 2008 adalah masa generasi kedua Pusat Studi Layanan Difabel (PSLD) atau yang sekarang berganti nama menjadi Pusat Layanan Difabel (PLD). Pada tahun inilah Abdullah Fikri memulai menempuh  pendidikan di UIN Sunan Kalijaga dengan Prodi Jinayah Siyasah. Fikri, panggilan akrabnya,  memiliki keterbatasan dalam penglihatan. Tetapi hal tersebut bukanlah menjadi penghalang baginya untuk menggali ilmu pengetahuan. Di awal masa kuliahnya, Ia harus bekerja keras untuk dapat mengenali lingkungan sekitarnya.
"Kalau ada temen yang ada keperluan ke tempat perpustakaan atau sekitar kampus, saya minta diajak juga. Itu agar kenal lingkungan sekitar,"ungkapnya.

Untuk memahami materi kuliahnya, Fikri harus membaca berlebar-lembar buku referensi yang sebelumnya discan terlebih dahulu. Ketika itu, Perpustakaan belum menyediakan koleksi Elektronik Book (E-Book). Melalui aplikasi Job Access With Speech (JAWS), Fikri dapat membaca teks melalui layar monitornya. Selain itu, untuk menambah wawasannya, Fikri memilih untuk banyak berdiskusi dengan teman-teman dari berbagai komunitas. Selain itu Fikri aktif di Pusat Studi Konsultasi Hukum (PSKH) dan aktif pula di Pusat Studi Syari'ah dan Konstitusi dengan fokus masalah debat Konstitusi.
"Kalau musim ujian, saya lebih memilih didampingi oleh relawan dari luar PLD," ujarnya saat ditanya mengenai pendampingan ujian.

Sikapnya yang terbuka dengan orang laian, membuat banyak orang yang mengenalnya. Karena itu tidak sulit untuk mencari relawan baru saat ujian berlangsung. Fikri juga menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan salah satu cara untuk mensosialisasikan bentuk-bentuk pengenalan struktur pendampingan tuna netra di kalangan kampus. Hal tersebut juga dilakukan ketika Ia mengerjakan skripsinya.

Pada tahun 2012, gelar S.H.I telah disandang Fikri. Setelah itu, Fikri melanjutkan pendidikannya dengan mengambil prodi Studi Politik dan Pemerintahan dalam Islam di UIN Sunan Kalijaga. 
Dalam bidang akademik, Fikri mengaku sangat ketat terhadap intervensi dari orang lain.
“Relawan hanya membantu hal-hal teknis saja. Secara subtansi saya melakukannya sendiri. Sama seperti ketika belajar hal-hal baru. Saya hanya mau diajari, tidak mau didikte”paparnya.
Menurutnya, ilmu pengetahuan didapatkan dari pengembangan informasi yang telah diterima dari orang lain.

Tahun 2015,  Fikri telah berhasil menyelesaikan pendidikan masternya. Tidak sedikit rintangan yang dialami Fikri selama masa perkuliahannya. Seperti membutuhkan waktu yang cukup banyak untuk mencari orang yang dapat membacakan buku-buku terkait tugas kuliah.
“Beda dengan pendampingan saat ujian. Itu lebih mudah. Kalau pas butuh bantuan dadakan, itu sulit. Jadi banyak waktu yang terbuang untuk hal seperti itu,” kisahnya.

Kiprah Fikri di dunia akademik tidak berhenti sampai di pintu wisuda.  Berbekal ilmu pengetahuan yang didapatnya, Fikri seringkali diminta untuk menjadi narasumber seminar di beberapa kampus. Tak hanya itu, Ia pun diminta menjadi asisten dosen.
“ Kesibukan lainnya ya membantu PLD dan tergabung dengan tim peneliti,” paparnya.

Kampus Inklusi

Kampus UIN Sunan Kalijaga mendapat penghargaan sebagai kampus Inklusi yang diberikan oleh dinas Pendidikan. Menyambung akan hal tersebut, Fikri memaparkan pandangannya dari pengalaman yang dialaminya. Menurutnya, parameter yang tepat untuk mengukur kampus inklusi dapat dilihat dari dua sisi yaitu aksesibilitas dan acceptibilitas.

Mengenai aksesibilitas kampus, Fikri merasa sudah cukup bagus saat ini. Ia membandingkan dengan masa kuliahnya dulu yang cukup menguji kemandirian. Dilihat dari PLD yang semakin banyak membantu dan melayani kebutuhan Difabel. Seperti, koleksi E-Book yang dimiliki perpustakaan serta didirikannya Difabel Corner (DC).  DC  merupakan produk dari kerja sama perpustakaan dengan PLD yang bertempat di lantai 1 perpustakaan.

“Itu dari segi disabilitas yang saya alami. Tapi untuk disabilitas yang lain masih perlu banyak pembenahan lagi. Kalaupun ada kebijakan, tapi belum terimplementasi dengan baik,”ungkapnya.
Acceptibilitas merupakan gambaran penerimaan difabel di tengah masyarakat kampus. Namun hal yang terjadi saat ini, masih belum menyeluruh. Terbukti dengan masih adanya prodi yang menolak difabel dengan alasan teknis yang seharusnya dapat diatasi oleh pihak kampus.

Dilihat dari kedua hal itu, UIN Sunan Kalijaga masih dalam tahap menuju inklusi. Artinya belum menjadi kampus yang inklusi. Fikri juga memaparkan tentang pengamatannya mengenai idealnya kampus inklusi. Ada dua faktor yang harus diperhatikan. Melihat struktur kampus dan difabel itu sendiri.

Dari struktur kampus, sikap inklusi masih belum merata di kalangan mahasiswa dan staff . selain itu  kebijakan afirmatif seperti beasiswa untuk difabel belum ada.
“Kebutuhan untuk media pembelajaran bagi difabel tentu berbeda dengan mahasiswa lain. Lebih banyak uang yang dikeluarkan untuk scan materi. Belum lagi uang yang harus dikeluarkan untuk mobilitas dari tempat tinggal ke kampus. Itu yang saya alami dulu,”kenangnya.

Dari segi difabel sendiri harus lebih proaktif dalam melaksanakan kewajibannya sebagai mahasiswa. Difabel harus konsekuen terhadap hak dan kewajibannya.
“Nggak cuma nuntut fasilitas aja tapi hal fasilitas yang sudah tersedia harusnya.mampu mendorong Difabel untuk lebih meningkatkan kapasitasnya sebagai personal. Megembangkan potensi diri dalam proses pembelajaran,” jelas Fikri.


Mengakhiri sesi wawancara, Fikri menegaskan bahwa UIN Sunan Kalijaga sebagai universitas yang pertama kali menginisiasi kampus inklusi, harusnya menyadari bahwa  lebel tersebut harus didukung dengan power yang kuat. Power tersebut berupa dan a yang harus dipersiapkan serta keinklusian di masyarakat kampus itu sendiri. (faroha)

Senin, 14 November 2016

Target penerjemah

Dia masih asik menjelaskan tentang acara tadi. Diskusi tentang Kota Inklusi bersama teman-teman Tuli dan pihak pemerintahan Kota Yogyakarta. Itulah Dhomas, si cerdas dari Yogyakarta. Karena dia asli Kota Yogyakarta ini maka dia diundang untuk mengikuti diskusi tersebut sebagai salah satu wakil Tuli dari mahasiswa PLD. Belum selesai penjelasan darinya, seseorang memanggilku dari belakang. Rupanya Rahma.
"Sebentar ya," ucapku sambil menyerahkan tanganku dipangkuannya. Aku masih tetap fokus menatap Dhomas yang masih meneruskan penjelasannya. Selang beberapa saat, mataku beralih pada Rahma. Dia salah satu relawan di Pusat Layanan Difabel (PLD) ini, sama sepertiku. 
"Mbak, Lia sekarang presentasi. Tapi aku ga bisa bahasa isyarat, sedangkan dia maunya sama yang udah lancar bahasa isyarat," kisahnya. 
Deg, aku aja belum bisa. Gumanku. Lia sama seperti Dhomas, Mahasiswa Tuli. Bedanya Dhomas masih mampu memahami bahasa oral sedangkan Lia full memakai bahasa isyarat. Aku bertanya tentang bagaimana sikap Lia dan persiapan yang dilakukan Rahma. Dari penjelasannya aku memahami tentang perjuangan Rahma selama satu minggu untuk memahami makalah yang akan dipresentasikan Lia.
"Aku udah minta untuk diajari bahasa isyarat sama dia. Tapi Dia bilang waktu seminggu ngga cukup," ungkapnya lagi.
Aku dan Lia kebetulan satu jurusan. Rahma menjelaskan mata kuliah dan dosennya. Pak Arif ternyata dengan mata kuliah Fiqih Sosial. Sudah kujelaskan Rahma. Aku belum lancar menerjemahkan bahasa isyarat. Apalagi bahasa isyarat Lia. Aaah aku belum bisa memahami. 
"Tapi  mbak lebih bisa dari aku, ayolah mbak,"
Akhirnya aku iyakan untuk mencoba menggantikan peran Rahma. Aaah itupun kalau dia mau. Pikirku.
Sampai di lantai 4 Fakultas Dakwah, Lia masih berbincang dengan temannya. Dosennya belum masuk. Awalnya Rahma meminta maaf dan menjelaskan pergantian pendamping. Tapi sayang dari ekspresi wajahnya aku bisa menangkap kalau aku juga ditolak olehnya.
Aku mencoba menjelaskan dengan bahasa isyarat perihal masalah yang dihadapi  kami.
"Aku tidak mau didampingi sama yang belum bisa bahasa isyarat. Khawatir nanti salah saat menjelaskan," ungkapnya melalu gerakan jari-jemari.
Aku menegaskan padanya. Tidak ada pendamping di PLD. Dia harus lebih memilih untuk didampingi oleh salah satu dari kita atau lebih baik presentasi sendirian.
"Aku tidak mau. Kamu harus belajar lagi," Itu lah kalimat terakhirnya setelah menjelaskan keinginannya untuk didampingi oleh relawan senior yang tak ada wujudnya di PLD saat ini. Huh.

Yaaaah, target tahun ini mampu menerjemahkan bahasa isyarat.
Terimkasih Lia telah menembak tepat dititik kelemahanku.



Pusat Layanan Difabel,
15 Oktober 2016

Kamis, 10 November 2016

Arti Sebuah Penelitian

"Kalau hasil akhirnya hanyalah sebuah buku terus disimpen di perpustakan, ya siapa juga yang mau baca," ungkap Mbak Irma.
Hujan sudah reda. Kami duduk di teras rumah Mbak Irma. Tak kuasa menolak ajakan tuan rumah untuk ngeteh membuat saya berkesempatan ngobrol banyak dengan Mbak Irma.
"Berarti peneliti isu difabel itu harusnya mengubah pandangan sosial terhadap difabel secara berkelanjutan ya mbak ?" tanyaku.
Pembahasan Mbak Irma meluas hingga proses perubahan pandangan di masyarakat dan mengungkit difabel yang hanya sebagai "objek" penelitian. Seorang peneliti harusnya tidak hanya mandeg disebuah peneliti kemudian berkata "ini loh bukti kalau difabel itu mampu berdaya. Bisa kuliah, bisa bekerja dan bisa melakukannya seperti orang non difabel,"
Setelah itu sudah. Tutup buku. Masyarakat memahami atau tidak sepertinya bukan lagi menjadi tanggung jawab peneliti. Dimanakah perubahannya? Tidak ada.
Difabel hanya dijadikan objek penelitian setelah itu penelitian hanya berhenti pada lembaran kertas. Hasilnya difabel harus tetap berjuang mandiri untuk melalui hambatan-hambatan sosialnya.

Senin, 07 November 2016

Mengikuti Jejak Langkahmu

Menulis adalah nadiku. Itu terdengar klise atau biasa disebut sok puitis. Tapi apapun namanya yang jelas saya suka menulis. Karakter tulisannya pun bisa bermacam-macam. Misalnya cerpen, berita, opini atau tulisan ringan yang pernah saya alami. Biasanya, orang yang suka menulis cenderung berawal dari suka membaca. Ya itulah yang saya alami.

Ketika Aliyah dulu, saya menulis sebagai wartawan sekolah di sebuah koran swast a di tempat asal saya, Cirebon.Beberapa kali menulis cerpen dan terbit di koran lokal Cirebon. Hingga saya memasuki bangku kuliah, saya masih suka menulis. Hanya saja berbeda lembaran putihnya. Saya mulai menulis di blog. Itupun baru di semester 3 perkuliahan. Saya bertemu dengan tokoh-tokoh dalam hidup saya yang suka ngeblog. Jadilah saya terbiasa menularkan segala isi kepala ke dalam blog ini.

Blog yang saya kelola ini hampir semuanya bercirikan kisah lalu. Masih menulis apa yang telah terjadi. Ah malu rasanya jika dibandingkan temen-teman saya yang sudah mahir menulis ilmiah. Dari sinilah projec menulis berdasarkan ilmu yang saya terima di perkuliahan akan saya mulai. Satu minggu satu tulisan. Semoga saja bisa. Aamiin.

Salah satu tokoh yang membuat saya gemar menulis adalah guru saya saat ini. Beliau yang mendorong saya untuk terbiasa memaksakan jari-jemari saya menari diatas keyboard. Sosok guru yang sangat berpengaruh dalam perubahan mindset saya. Dulu, saya pernah menarasikan beliau di dalam blog ini. Tulisan beliau menjadi makanan sehari-hari. Mungkin ini cara Allah mengajari saya bagaimana menulis itu.

Piyungan,
07 Nopember 2016

Jumat, 04 November 2016

Mematahkan Disengagement Theory


Mbah Uti, Saya dan Mbah Kakung

Selesai Ta'lim, saya langsung tancap gas ke ndalem simbah untuk melakukan permintaan Mbah Uti, menemani belanja ke pasar. Karena moment ini adalah first time, saya sampai bertanya pada salah satu santri putri yang biasa mbonceng Mbah Uti ke pasar. Terutama untuk rute yang nyaman. Bukannya tidak bisa, tapi khawatir saya melakukan tindakan yang kurang nyaman. Ibu Saya sering menepuk pundak saya saat menyetir motor. Mungkin dulu saya keterlaluan :).
Belum juga bertemu dengan simbah, pikiran saya lari pada pertanyaan bagaimana perjalanan pulangnya ini. "Ora usah naik motor. Bareng Yazid wae. Mengko angel le nggowo barang akeh," aah lega rasanya. Mbah Uti selalu pengerten. Pak Yazid salah satu putra Mbah Uti yang tinggal tepat di depan rumah simbah. Kali ini memang akan belanja besar untuk acara ahad kliwon besok.

Mobil kami berhenti di belakang pasar Piyungan. Ini agar lebih mudah bolak balik menyimpan barang di mobil. Saya dan simbah memasuki pintu paling ujung pasar. Disini kami disambut oleh ibu-ibu penjual Pisang. Saya yang masih belum fasih berbahasa jawa Jogja hanya diam memperhatikan. Maklum saja jawa Cirebon sangat jauh berbeda dengan bahasa disini. 

Mata saya beredar keseluruh sudut pasar. Ini bukan pertama kalinya saya kesini. Sudah terbiasa berhadapan dengan penghuni pasar yang mayoritas ibu-ibu ini. Setelah saya perhatikan, dari penjual kerupuk di ujung kiri hingga penjual pisang diujung kanan adalah ibu-ibu Lansia. Mereka masih terlihat lihai dalam tawar menawar. Kondisi fisik mereka sudah mendeskripsikan usianya. Tapi saya tidak melihat hambatan mereka saat berintraksi dengan para pembeli. Begitupun dengan Mbah Uti yang masih ingat letak-letak penjual ini dan itu. Tubuhnya masih sigap dalam melakukan banyak aktifitas. Namun namanya Lansia, pasti mengalami beberapa penurunan kondisi fisik. Beliau pernah bercerita tentang penurunan daya tahan tubuhnya.

Memperhatikan mereka mengingatkan saya dengan beberapa teori yang pernah didiskusikan di mata kuliah Lansia dan Disabilitas semester 4 lalu. Seperti ketika saya membatah Disengagement Theory yang dipresentasikan oleh kelompok lain, Lansia dapat diberdayakan. Saat itu, saya juga memaparkan tentang aktivitas Mbah Kakung yang masih aktif berdakwah di masyarakat dan mengajar santri-santri disini. Bahkan saya harus berkali-kali minta maaf atas kesalahan saya karena masalah miskomunikasi yang terjadi. "Kita itu belajar tidak hanya di sekolah atau di kampus. Tapi juga diulang kahanan," Artinya terkadang kita belajar dari lingkungan sekitar. Begitulah Simbah selalu bijak dalam mengahadapi anak-anak disini.

Disengagement Theory cenderung memarginalkan Lansia. Seolah-olah melihat dengan satu mata yang terfokus dengan satu hal. Teori tersebut mendeskripsikan bahwa ketika seseorang pada tahap lansia, ia akan memisahkan diri dengan dunia sosial. Karena itulah lahir konsep pensiun. Melihat aktifitas ibu-ibu lansia di pasar dan kedua simbah tercinta saya ini, saya mengakui adanya fakta dari Activity Theory. Aktifitas yang dilakukan lansia berperan penting terhadap kondisi fisik dan psikologis lansia. Teori tersebut juga menjelaskan bahwa konsep diri yang baik akan lahir jika lansia beraktifitas di dunia sosial.

Masih banyak hal yang ingin saya tulis disini. Ah tapi waktu tak mengijinkan. Saya tidak yakin selepas duhur hingga ahad sore memiliki waktu menulis.

Bantul 05 November 2016

Saya sedang presentasi dengan menggunakan bahasa Inggris

Bahasa Inggris adalah salah satu bahasa yang paling saya suka. Suka mempraktikkan dan belajar tentang bahasanya. Tapi ternyata, modal suka saja tidak cukup untuk dapat menguasai bahasa yang bukan lagi menjadi bahasa asing di Indonesia ini. Ketika saya SD kelas 3, saya dikenalkan dengan Bahasa Inggris. Seperti anak-anak pada umumnya, tau arti I love You, Remember me, dan lain sebagainya, itu saja sudah bangga. Yup, karena saat itu Bhasa Inggris dianggap sesuatu barang yang aneh. Selum terbiasa. Sekarang? Wah jamannya sudah berbeda. Update status facebook saja memakai bahasa inggris. Walaupun sebenernya copas. Duh.
Saya tidak tau mengapa sampai saat ini saya selalu kesulitan dalam berbahasa Inggris. Entah itu tulisan maupun lisan. Aku seperti mewajibkan diriku untuk mampu berbahasa Inggris. Cap, Cip, Cus.. Aaah kapaaan ya................


Yogyakarta
04 Oktober 2016

Jumat, 21 Oktober 2016

"Berada bersama mereka"



Jari jemariku menari-nari diatas toot hitam ini,
apaka aku ingin melahirkan kata-kata hati?
Bukan kata hati tapi kata setiap pikiran yang muncul berlomba-lomba di pikiranku
Apakah ini yang disebut 'curhat'?
Aku lebih suka menyebutnya 'isi pikiran'
Yup, isi pikiran yang tak pernah melihat tempat dan waktu untuk memproduksi hal positif maupun negatif.
Mareka adalah keluargaku, yang mengadakan keberadaanku.
Karenanya 'ada' tak selalu 'berada', Aku tau aku 'berada' disini. Tidak tidak dengan psikologisku.
Terbang ke sisi lain dari dunia ini. Kemana ia? Mencari keberadaan yang tak sepenuhnya 'ada' disini.
Pusat Layanan Difabel (PLD) adalah rumah, misi, sekaligus mimpi bagiku. Disanalah semua itu terjalin. Seperti layaknya benang yang saling mengait untuk menciptakan harmoni warna kain yang indah. Disana, warna-warni dunia berpadu dalam gelak tawa. Bersumber dari individu-individu yang istimewa. Yang berusaha selalu bersyukur menghadap karunia-Nya.
Aku ingin tetap disini. Belajar memaknai hidup yang selalu menjadi pertanyaan dalam diri.
Merajut mimpi hidup inklusif untuk mereka dan untuk duniaku.
Karena Allah mencintai setiap hambaNya.