Rumput Liar

Senin, 07 November 2016

Mengikuti Jejak Langkahmu

Menulis adalah nadiku. Itu terdengar klise atau biasa disebut sok puitis. Tapi apapun namanya yang jelas saya suka menulis. Karakter tulisannya pun bisa bermacam-macam. Misalnya cerpen, berita, opini atau tulisan ringan yang pernah saya alami. Biasanya, orang yang suka menulis cenderung berawal dari suka membaca. Ya itulah yang saya alami.

Ketika Aliyah dulu, saya menulis sebagai wartawan sekolah di sebuah koran swast a di tempat asal saya, Cirebon.Beberapa kali menulis cerpen dan terbit di koran lokal Cirebon. Hingga saya memasuki bangku kuliah, saya masih suka menulis. Hanya saja berbeda lembaran putihnya. Saya mulai menulis di blog. Itupun baru di semester 3 perkuliahan. Saya bertemu dengan tokoh-tokoh dalam hidup saya yang suka ngeblog. Jadilah saya terbiasa menularkan segala isi kepala ke dalam blog ini.

Blog yang saya kelola ini hampir semuanya bercirikan kisah lalu. Masih menulis apa yang telah terjadi. Ah malu rasanya jika dibandingkan temen-teman saya yang sudah mahir menulis ilmiah. Dari sinilah projec menulis berdasarkan ilmu yang saya terima di perkuliahan akan saya mulai. Satu minggu satu tulisan. Semoga saja bisa. Aamiin.

Salah satu tokoh yang membuat saya gemar menulis adalah guru saya saat ini. Beliau yang mendorong saya untuk terbiasa memaksakan jari-jemari saya menari diatas keyboard. Sosok guru yang sangat berpengaruh dalam perubahan mindset saya. Dulu, saya pernah menarasikan beliau di dalam blog ini. Tulisan beliau menjadi makanan sehari-hari. Mungkin ini cara Allah mengajari saya bagaimana menulis itu.

Piyungan,
07 Nopember 2016

Jumat, 04 November 2016

Mematahkan Disengagement Theory


Mbah Uti, Saya dan Mbah Kakung

Selesai Ta'lim, saya langsung tancap gas ke ndalem simbah untuk melakukan permintaan Mbah Uti, menemani belanja ke pasar. Karena moment ini adalah first time, saya sampai bertanya pada salah satu santri putri yang biasa mbonceng Mbah Uti ke pasar. Terutama untuk rute yang nyaman. Bukannya tidak bisa, tapi khawatir saya melakukan tindakan yang kurang nyaman. Ibu Saya sering menepuk pundak saya saat menyetir motor. Mungkin dulu saya keterlaluan :).
Belum juga bertemu dengan simbah, pikiran saya lari pada pertanyaan bagaimana perjalanan pulangnya ini. "Ora usah naik motor. Bareng Yazid wae. Mengko angel le nggowo barang akeh," aah lega rasanya. Mbah Uti selalu pengerten. Pak Yazid salah satu putra Mbah Uti yang tinggal tepat di depan rumah simbah. Kali ini memang akan belanja besar untuk acara ahad kliwon besok.

Mobil kami berhenti di belakang pasar Piyungan. Ini agar lebih mudah bolak balik menyimpan barang di mobil. Saya dan simbah memasuki pintu paling ujung pasar. Disini kami disambut oleh ibu-ibu penjual Pisang. Saya yang masih belum fasih berbahasa jawa Jogja hanya diam memperhatikan. Maklum saja jawa Cirebon sangat jauh berbeda dengan bahasa disini. 

Mata saya beredar keseluruh sudut pasar. Ini bukan pertama kalinya saya kesini. Sudah terbiasa berhadapan dengan penghuni pasar yang mayoritas ibu-ibu ini. Setelah saya perhatikan, dari penjual kerupuk di ujung kiri hingga penjual pisang diujung kanan adalah ibu-ibu Lansia. Mereka masih terlihat lihai dalam tawar menawar. Kondisi fisik mereka sudah mendeskripsikan usianya. Tapi saya tidak melihat hambatan mereka saat berintraksi dengan para pembeli. Begitupun dengan Mbah Uti yang masih ingat letak-letak penjual ini dan itu. Tubuhnya masih sigap dalam melakukan banyak aktifitas. Namun namanya Lansia, pasti mengalami beberapa penurunan kondisi fisik. Beliau pernah bercerita tentang penurunan daya tahan tubuhnya.

Memperhatikan mereka mengingatkan saya dengan beberapa teori yang pernah didiskusikan di mata kuliah Lansia dan Disabilitas semester 4 lalu. Seperti ketika saya membatah Disengagement Theory yang dipresentasikan oleh kelompok lain, Lansia dapat diberdayakan. Saat itu, saya juga memaparkan tentang aktivitas Mbah Kakung yang masih aktif berdakwah di masyarakat dan mengajar santri-santri disini. Bahkan saya harus berkali-kali minta maaf atas kesalahan saya karena masalah miskomunikasi yang terjadi. "Kita itu belajar tidak hanya di sekolah atau di kampus. Tapi juga diulang kahanan," Artinya terkadang kita belajar dari lingkungan sekitar. Begitulah Simbah selalu bijak dalam mengahadapi anak-anak disini.

Disengagement Theory cenderung memarginalkan Lansia. Seolah-olah melihat dengan satu mata yang terfokus dengan satu hal. Teori tersebut mendeskripsikan bahwa ketika seseorang pada tahap lansia, ia akan memisahkan diri dengan dunia sosial. Karena itulah lahir konsep pensiun. Melihat aktifitas ibu-ibu lansia di pasar dan kedua simbah tercinta saya ini, saya mengakui adanya fakta dari Activity Theory. Aktifitas yang dilakukan lansia berperan penting terhadap kondisi fisik dan psikologis lansia. Teori tersebut juga menjelaskan bahwa konsep diri yang baik akan lahir jika lansia beraktifitas di dunia sosial.

Masih banyak hal yang ingin saya tulis disini. Ah tapi waktu tak mengijinkan. Saya tidak yakin selepas duhur hingga ahad sore memiliki waktu menulis.

Bantul 05 November 2016

Saya sedang presentasi dengan menggunakan bahasa Inggris

Bahasa Inggris adalah salah satu bahasa yang paling saya suka. Suka mempraktikkan dan belajar tentang bahasanya. Tapi ternyata, modal suka saja tidak cukup untuk dapat menguasai bahasa yang bukan lagi menjadi bahasa asing di Indonesia ini. Ketika saya SD kelas 3, saya dikenalkan dengan Bahasa Inggris. Seperti anak-anak pada umumnya, tau arti I love You, Remember me, dan lain sebagainya, itu saja sudah bangga. Yup, karena saat itu Bhasa Inggris dianggap sesuatu barang yang aneh. Selum terbiasa. Sekarang? Wah jamannya sudah berbeda. Update status facebook saja memakai bahasa inggris. Walaupun sebenernya copas. Duh.
Saya tidak tau mengapa sampai saat ini saya selalu kesulitan dalam berbahasa Inggris. Entah itu tulisan maupun lisan. Aku seperti mewajibkan diriku untuk mampu berbahasa Inggris. Cap, Cip, Cus.. Aaah kapaaan ya................


Yogyakarta
04 Oktober 2016

Jumat, 21 Oktober 2016

"Berada bersama mereka"



Jari jemariku menari-nari diatas toot hitam ini,
apaka aku ingin melahirkan kata-kata hati?
Bukan kata hati tapi kata setiap pikiran yang muncul berlomba-lomba di pikiranku
Apakah ini yang disebut 'curhat'?
Aku lebih suka menyebutnya 'isi pikiran'
Yup, isi pikiran yang tak pernah melihat tempat dan waktu untuk memproduksi hal positif maupun negatif.
Mareka adalah keluargaku, yang mengadakan keberadaanku.
Karenanya 'ada' tak selalu 'berada', Aku tau aku 'berada' disini. Tidak tidak dengan psikologisku.
Terbang ke sisi lain dari dunia ini. Kemana ia? Mencari keberadaan yang tak sepenuhnya 'ada' disini.
Pusat Layanan Difabel (PLD) adalah rumah, misi, sekaligus mimpi bagiku. Disanalah semua itu terjalin. Seperti layaknya benang yang saling mengait untuk menciptakan harmoni warna kain yang indah. Disana, warna-warni dunia berpadu dalam gelak tawa. Bersumber dari individu-individu yang istimewa. Yang berusaha selalu bersyukur menghadap karunia-Nya.
Aku ingin tetap disini. Belajar memaknai hidup yang selalu menjadi pertanyaan dalam diri.
Merajut mimpi hidup inklusif untuk mereka dan untuk duniaku.
Karena Allah mencintai setiap hambaNya.

Jumat, 09 September 2016

Ekspresiku



Eksperesiku ada dalam hamparan putih ini. Meskipu tak ada respon darinya, tapi ada rasa yang sudah terlepas. Awal september ini adalah hari-hari dengan lembaran baru di kampus. Bertemu dengan kawan-kawan yang super heboh, cipika-cipiki salam peluk dan sebagainya (dengan sesama perempuan pastinya). Tak lupa juga bertemu dengan dosen, uluk salam dan tadzim tersampaikan. Hari-hari ke depan akan banyak waktu yang tersita di kampus meninggal tanggung jawab di pesantren. Mau tak mau, harus seperti itu. Lelah, pasti. Tapi ada pelipur lelah di kampus. Namanya PLD (Pusat Layanan Difabel) tempat berkumpulnya para relawan dan kawan-kawan istimewa. Aku menyebutnya tempat 'tongkronganku'. Karena setiap kali ada jeda waktu yang cukup lama, bersandar di tempat tersebut adalah hal yang mengasyikkan. Berkomunikasi dengan bahasa isyarat, walaupun menjadi bahan tertawaab karena sering terjadi kesalahan pada jemariku. Tapi itu seru. Gelak tawa mereka slalu terekam otomatis di kepalaku, meski tak bersuara. Tapi dapat ku baca dari mimik  (ekspresi wajah) mereka.
Lain lagi dengan mereka yang netra, kami asik bertukar pikiran masalah buku yang telah dibaca melalui komputer yang dapat bersuara atau sumber informasi lain yang dapat di dengar. Jangan salah, bersama mereka justru aku yang terlihat kuper (kurang pergaulan) karena sangat minim dalam membaca. wuuuu
Aktivitas di kelas di awal perkuliahan masih membahas tentang overview materi perkuliahan, kontrak belajar dan sebagainya. Sepertinya membosankan, ya sangat membosankan. Hahahaha
Cara satu-satunya adalah dengan membuat tantangan pada diri sendiri, menjadikan waktu di kelas untuk menguras informasi dari dosen. huh
Kegiatan di pesantren, yaaahhhh dibuat enjoy sebisa mungkin. Waktu mengajar, ta'lim bersama anak-anak, jama'ah, dan segudang kegiatan lainnya. Kemarin, ketika mengajar sempat ada hal yang lucu hingga tawaku pecah di depan anak-anak. Ekspresi mereka ketika mendapatkan bad score dalam ulangan harian, seolah-olah dunia runtuh dan mereka tak terima itu.
Bahkan salah satu dari mengatakan begini "ujiannya di ulang sekarang aja ya, mumpung masih anget ingatannya" hahahha
Anak-anak kelas XI IPS selalu begitu, gelak tawapun pecah di ruangan tersebut.
Hari-hariku seperti berkejaran antara satu waktu dengan waktu yang lain. Berebutan untuk ku kerjakan terlebih dahulu. 
Semoga hal tersebut membawaku pada masa depan yang lebih baik. Dunia dan akhiratku aamiin.
Malem ini akupun merindukan kedua orangtuaku. Pasti sangat kesepian. Tak ada satupun yang menemani mereka di rumah.  Aku dan ketiga adikku merantau menimba ilmu. 
"Bersabarlah Pak, Bu, kami akan berjuang membawa kisah manis untuk Bapak dan Ibu" hatiku berdesir mengingat mereka. Tak dapat ku pungkiri, setiap keberuntugan dan keberhasilan yang aku rasakan sekarang adalah buah dari do'a-do'a mereka. Terimkasih bapak ibu. 



Dalam kerinduan dan rasa syukur,
menjelang tidur,, 23.06
Yogyakarta,
9 september 2016


Minggu, 04 September 2016

Seperti sedarah



Setiap kali aku menetap mereka, ada kasih yang aku rasakan.
Duduk di dibelakang Ibu yang sedangn menyetir, kemudian mendengarkan Ibu yang bercerita tentang pengalaman hidupnya. Perjalanan dari kampus menuju rumahnya tak pernah hening. Ibu selalu memiliki hal yang akan diceritakan padaku.
Aku senang menjadi pendengar baginya. Terkadang aku jawab dengan pertanyaan atau sekedar mengatakan "njih bu".
Ibu yang selalu mengerti keadaanku tanpa aku bercerita. Ibu pasti menanyakan tentang kehidupanku disini. Salah satu hal yang paling aku suka dari Ibu adalah ketika beliau bercerita tentang dinamika sebuah keluarga. "Kita itu harus mengerti tentang keadaan ekonomi orang tua kita. Meskipun kita sudah berkeluarga, tapi kita tidak boleh cuek sama orang tua," ungkap Ibu.
Dan akan dilanjutkan dengan kata "contohnya begini...." maka semua pengalaman hidupnya akan bertumpah ruah menjadi tell story yang penuh hikmah bagiku.
Dibandingkan dengan Bapak, aku lebih sering bertemu dan bertukar pikiran dengan Ibu. Kalau ada kesempatan bersama bapak, aku akan bertanya banyak hal padanya. Beliau yang lulusan dari Leeds University memiliki banyak pengetahuan yang sangat aku butuhkan. 
Terakhir kali bertemu ketika aku pamit akan ke Pare untuk belajar bahasa inggris. Bapak mengajakku berdialog dengan bahasa inggris. Wahh rasanya. Bisa sih menjawab tapi masih belepotan.. hahaha
Ah bapak sepulang dari Pare belum sempat aku berdialog lagi dengan Bapak, padahal aku ingin memamerkan bahwa "I already doing your advice"..
semoga lain kali bisa berdiskusi lagi.
Putri dari keduanya adalah sahabatku yang sudah menjelma menjadi saudaraku. Ah mbak banyak yang ingin aku ceritakan tentangmu.
Memiiki kalian adalah hadiah dari Allah untukku.
Untuk setiap perjuanganku disini.
Alhamdulillah.

Jumat, 02 September 2016

Menulis itu..


Saya ingin menulis.
kalimat itu sederhana. Tapi betapa sulit melaksanakannya. Ketika jemari menggebu untuk mengeluarkan kata dari otak, nyatanya waktu tak mengizinkan. Malu rasaya pada kawan yang telah berkarya, tapi saya masih sibuk bernyanyi bersama mereka. Konsep sudah di tangan, tapi terbentur pada kata saat menatap hamparan putih ini.
Saat ini pun terasa mentok disini.
Ahhhhhh
Saya harus menulis puisi dan cerpen untuk Antologi karya anak-anak Bidikmisi dan ada lomba menulis tentang difabilitas yang telah menunggu.
haduuuhh..
ide oh ide datanglah padaku..
Yang puling sulit itu memang mengalahkan diri sendiri..
Mengalahkan rasa malas yang bejibun di dalam diri,,
Gustiii...