Rumput Liar

Rabu, 27 April 2016

Matkul Lansia meneropong waktu

Prodi yang saya ambil adalah Social Work atau di Indonesia dikenal Pekerjaan sosial yang lulusannya akan menjadi Pekerja Sosial (Peksos) dengan title S.Sos. Ada banyak mata kuliah di prodi ini apa lagi dengan posisi prodi di Kampus UIN Sunan Kalijaga, yang notabene berprinsip integrasi interkoneksi. So, ilmu agama juga dipelajari di setiap prodi tak terkecuali Ilmu Kesejahteraan Sosial ini. Ada satu mata kuliah yang menjadi favoritku dan mungkin akan menjadi fokus bidang yang saya geluti "Lansia dan Disabilitas". Yup, mata kuliah yang langka apa lagi posisi kedua objek itu di Indonesia masih dipandang sebelah .
Di sela-sela kuliah mengenai Lansia pikiranku melayang menerobos waktu, ingat pada simbah yang mulai lupa akan cucunya ketika bertemu denganku. Apa kabar nek? Ketika aku mulai mempelajari mengenai "kekerasan pada lansia" yang disitu memparkan hal yang mungkin "dianggap biasa" seperti "membiarkan apa yang mereka lakukan" padahal mungkin itu menyakiti mereka.. heemm... semoga kita bukan termasuk orang-orang yang dzolim..

Minggu, 17 April 2016


Kebangkitan Enterpeneur Al Mumtaz untuk umat

Terik panas menyorot bumi.  Waktu dhuhur telah usai, santri berbondong-bondong keluar dari Masjid Suherman, milik pondok pesantren Al Mumtaz. Mukenah disingkap, mengangkat agar tak menyeret menyapu lantai. Arah mereka berbeda-beda setelah menuruni tangga. Asrama bawah untuk MTs, asrama atas untuk MA dan MI. Saatnya istirahat telah ditunggu santri putra dan putri. Asrama yang jauh dari masjid membuat pilihan untuk tetap stay di Masjid menutup mata alias tidur bagi beberapa santri putra.
“Assalamu’alaikum untuk seluruh panitia Harlah (hari lahir) dan semua bagian Entherpreneur untuk segera berkumpul di YBM, sekarang. Terimakasih”
Suara dari spiker Masjid menjadi komando untuk santri dan pengurus berbondong menuju YBM (Yayasan Bank Mandiri).  Santri yang disebut disini adalah para kelas XII yang baru saja selesai melaksanakan berbagai ujian. Posisi mereka adalah Khodimin, yaitu para pengabdi pondok pesantren Al Muntaz.
Udara dari AC menjadi penyelimut dalam YBM ini. Tempat terfavorit di Al Mumtaz karena satu-satunya ruang berAC dan desain khusus untuk  acara penting. Seseorang berbicara di depan, Riza. Disampingnya ada seorang assabiqunal Awwalunsebutan bagi generasi pertama Al Mumtaz Imam. Riza memberi pengarahan untuk membenahi Entrepreneur di Al Mumtaz. Ia merupakan perwakilan Abah pengasuh untuk memberi arahan, motivasi dan merefresh semangat para calon pengusaha Al Mumtaz.
“Kita usahakan untuk membesarkan  ekonomi pesantren di Al Mumtaz, gunanya untuk kemanfaatan umat disini. Tapi ingat jangan sampai khubbudunya. Dan juga jangan lupa, dikasih bagian atau tidak kita harus tetap semangat untuk berkarya fi sabilillah di jalan Allah” tegas Riza di dalam forum.
Mata-mata menatap pada pembicara ada yang sayup-sayup merasa lelah karena sejak pagi tak hentinya kegiatan. Namun semangat masih terasa di dalam mata mereka. Terlihat dari cara mereka menyimak dan berusaha melawan kantuk. Tetap semangat Guys untuk Al Mumtaz yang Istimewa....

Kamis, 14 April 2016

Mereka tak melihat dengan mata
Mereka tak berbicara dengan lidah,
Mereka tidak mendengar dengan telinga
tapi mereka melakukannya dengan cara lain
dengan hati
yang lebih tajam dari mata
yang lebih terjaga dari lidah
yang lebih  peka dari telinga,,,

Aku terkesima saat seorang netra bertanya pada netra lainnya "Prim, kemarin baca buku apa? Penulisnya siapa?" Tanya Mas Sen.
"Wah, belum mas. Belum sempet baca buku-buku terbaru" ucap prima.
Mas sen hanya diam.
"Prodi apa mas?" tanyaku memecah keheningan.
"Ilmu Hukum. Disini jarang yang ambil prodi ini. Nggak tau kenapa,"
"Ah nggak juga kok. Temenku ada yang ambil Ilmu Hukum,"
"Maksudnya disini, di PLD,"
"Oh iya mas. Mayoritas di  fakultas dakwah sama tarbiyah," jawabku.
"Kalau mbak denger kata Hukum, apa yang terlintas?"
"emm... Tumpul ke atas dan tajam ke bawah "
"oh itu teori mata pisau" katanya. "Tapi itu perspektif emosional. Kita juga harus melihat dari sisi keilmuan," jelasnya.
Semua mengalir begitu saja, mengeluarkan banyak teori dari sosok dihadapanku. Tentang Das Sein, das sollen, teori mata uang, teori dari Thomas Kuhn, Teori Natural law, dan sebagaimana. 
Hingga membuatku malu, bahwa aku masih sangat minim pengetahuan. Bahkan saat dia menanyakan namaku, Dia menyebutkan arti namaku, dan asal usul dari bahasa arab. Hingga mengungkit tentang ilmu Shorof.
Heemm.. aku berkali-kali menghela nafas. Sungguh aku malu pada sosok dihadapanku. Meski memiliki keterbatasan tapi semangatnya menggali ilmu tak pernah surut. 
Semoga Allah selalu menuntun kita pada arah yang lebih baik dan mendorong kita dari zona aman ini.

Rabu, 13 April 2016


Ketiga putri kecil di dalam foto itu adalah santri Ibtidaiyah Ponpes Al Mumtaz Patuk, Gunung Kidul, Yogyakarta. Sedangkan 2 laki-laki tersebut adalah kakak dari Ai (jilbab putih) yang kebetulan berkunjung di pondok.
Memotret mereka ketika bermain itu,,,,,,
seperti berada di dunia mereka, menciptakan keadaan yang menyenangkan sendiri..
Hiburan tersendiri bersama mereka, melupakan sejenak rutinitas yang menguras tenaga dan pikiran...
Berharap dapat menguprade dan mengupdate semangat dari ikoh,aik,izzah dan sikembar zaka-zaki...
Teruslah semangat dalam belajar dan menghafal Al Qur'an, jadilah generasi Qur'ani yang mumpuni untuk dakwah islam yang menggema dan menjadi manfaat bagi sesamanya...


Aku bersama Mbak Ikoh dan Mas Zaki,
dua anak ini yang selalu menghiburku...
Megingatkanku bahwa dunia itu hanya guyunon belaka...
hihihihi
mari tertawa :D