Rumput Liar

Jumat, 09 September 2016

Ekspresiku



Eksperesiku ada dalam hamparan putih ini. Meskipu tak ada respon darinya, tapi ada rasa yang sudah terlepas. Awal september ini adalah hari-hari dengan lembaran baru di kampus. Bertemu dengan kawan-kawan yang super heboh, cipika-cipiki salam peluk dan sebagainya (dengan sesama perempuan pastinya). Tak lupa juga bertemu dengan dosen, uluk salam dan tadzim tersampaikan. Hari-hari ke depan akan banyak waktu yang tersita di kampus meninggal tanggung jawab di pesantren. Mau tak mau, harus seperti itu. Lelah, pasti. Tapi ada pelipur lelah di kampus. Namanya PLD (Pusat Layanan Difabel) tempat berkumpulnya para relawan dan kawan-kawan istimewa. Aku menyebutnya tempat 'tongkronganku'. Karena setiap kali ada jeda waktu yang cukup lama, bersandar di tempat tersebut adalah hal yang mengasyikkan. Berkomunikasi dengan bahasa isyarat, walaupun menjadi bahan tertawaab karena sering terjadi kesalahan pada jemariku. Tapi itu seru. Gelak tawa mereka slalu terekam otomatis di kepalaku, meski tak bersuara. Tapi dapat ku baca dari mimik  (ekspresi wajah) mereka.
Lain lagi dengan mereka yang netra, kami asik bertukar pikiran masalah buku yang telah dibaca melalui komputer yang dapat bersuara atau sumber informasi lain yang dapat di dengar. Jangan salah, bersama mereka justru aku yang terlihat kuper (kurang pergaulan) karena sangat minim dalam membaca. wuuuu
Aktivitas di kelas di awal perkuliahan masih membahas tentang overview materi perkuliahan, kontrak belajar dan sebagainya. Sepertinya membosankan, ya sangat membosankan. Hahahaha
Cara satu-satunya adalah dengan membuat tantangan pada diri sendiri, menjadikan waktu di kelas untuk menguras informasi dari dosen. huh
Kegiatan di pesantren, yaaahhhh dibuat enjoy sebisa mungkin. Waktu mengajar, ta'lim bersama anak-anak, jama'ah, dan segudang kegiatan lainnya. Kemarin, ketika mengajar sempat ada hal yang lucu hingga tawaku pecah di depan anak-anak. Ekspresi mereka ketika mendapatkan bad score dalam ulangan harian, seolah-olah dunia runtuh dan mereka tak terima itu.
Bahkan salah satu dari mengatakan begini "ujiannya di ulang sekarang aja ya, mumpung masih anget ingatannya" hahahha
Anak-anak kelas XI IPS selalu begitu, gelak tawapun pecah di ruangan tersebut.
Hari-hariku seperti berkejaran antara satu waktu dengan waktu yang lain. Berebutan untuk ku kerjakan terlebih dahulu. 
Semoga hal tersebut membawaku pada masa depan yang lebih baik. Dunia dan akhiratku aamiin.
Malem ini akupun merindukan kedua orangtuaku. Pasti sangat kesepian. Tak ada satupun yang menemani mereka di rumah.  Aku dan ketiga adikku merantau menimba ilmu. 
"Bersabarlah Pak, Bu, kami akan berjuang membawa kisah manis untuk Bapak dan Ibu" hatiku berdesir mengingat mereka. Tak dapat ku pungkiri, setiap keberuntugan dan keberhasilan yang aku rasakan sekarang adalah buah dari do'a-do'a mereka. Terimkasih bapak ibu. 



Dalam kerinduan dan rasa syukur,
menjelang tidur,, 23.06
Yogyakarta,
9 september 2016


Minggu, 04 September 2016

Seperti sedarah



Setiap kali aku menetap mereka, ada kasih yang aku rasakan.
Duduk di dibelakang Ibu yang sedangn menyetir, kemudian mendengarkan Ibu yang bercerita tentang pengalaman hidupnya. Perjalanan dari kampus menuju rumahnya tak pernah hening. Ibu selalu memiliki hal yang akan diceritakan padaku.
Aku senang menjadi pendengar baginya. Terkadang aku jawab dengan pertanyaan atau sekedar mengatakan "njih bu".
Ibu yang selalu mengerti keadaanku tanpa aku bercerita. Ibu pasti menanyakan tentang kehidupanku disini. Salah satu hal yang paling aku suka dari Ibu adalah ketika beliau bercerita tentang dinamika sebuah keluarga. "Kita itu harus mengerti tentang keadaan ekonomi orang tua kita. Meskipun kita sudah berkeluarga, tapi kita tidak boleh cuek sama orang tua," ungkap Ibu.
Dan akan dilanjutkan dengan kata "contohnya begini...." maka semua pengalaman hidupnya akan bertumpah ruah menjadi tell story yang penuh hikmah bagiku.
Dibandingkan dengan Bapak, aku lebih sering bertemu dan bertukar pikiran dengan Ibu. Kalau ada kesempatan bersama bapak, aku akan bertanya banyak hal padanya. Beliau yang lulusan dari Leeds University memiliki banyak pengetahuan yang sangat aku butuhkan. 
Terakhir kali bertemu ketika aku pamit akan ke Pare untuk belajar bahasa inggris. Bapak mengajakku berdialog dengan bahasa inggris. Wahh rasanya. Bisa sih menjawab tapi masih belepotan.. hahaha
Ah bapak sepulang dari Pare belum sempat aku berdialog lagi dengan Bapak, padahal aku ingin memamerkan bahwa "I already doing your advice"..
semoga lain kali bisa berdiskusi lagi.
Putri dari keduanya adalah sahabatku yang sudah menjelma menjadi saudaraku. Ah mbak banyak yang ingin aku ceritakan tentangmu.
Memiiki kalian adalah hadiah dari Allah untukku.
Untuk setiap perjuanganku disini.
Alhamdulillah.

Jumat, 02 September 2016

Menulis itu..


Saya ingin menulis.
kalimat itu sederhana. Tapi betapa sulit melaksanakannya. Ketika jemari menggebu untuk mengeluarkan kata dari otak, nyatanya waktu tak mengizinkan. Malu rasaya pada kawan yang telah berkarya, tapi saya masih sibuk bernyanyi bersama mereka. Konsep sudah di tangan, tapi terbentur pada kata saat menatap hamparan putih ini.
Saat ini pun terasa mentok disini.
Ahhhhhh
Saya harus menulis puisi dan cerpen untuk Antologi karya anak-anak Bidikmisi dan ada lomba menulis tentang difabilitas yang telah menunggu.
haduuuhh..
ide oh ide datanglah padaku..
Yang puling sulit itu memang mengalahkan diri sendiri..
Mengalahkan rasa malas yang bejibun di dalam diri,,
Gustiii...

Sabtu, 20 Agustus 2016

Sudah pulang, kata mereka.


Waktu seperti berlari begitu cepat, tak memangdang keadaan siapapun. Entah suka maupun duka. Aku masih berdiri di depan pintu duka itu. Bukan untuk menyesali kepergiannmu, nek. Tapi menyesal karena tak sempat menjengukmu. Meski begitu, aku masih beruntung  sempat mencium punggung tanganmu dan meminta doa darimu, sesampainya aku di rumah kemarin.
Hari-hari suram di rumah nenek yang bersampingan dengan rumahku, masih aku rasakan, sangat kuat. Mengingatnya sebagai malam duka. Ketika itu, aku masih duduk berbincang dengan tamuku, seorang ibu, wali santri dari pondok dimana aku tinggal sekarang. Salah satu sepupu perempuanku datang, membuka pintu. Tergesa-gesa memberi kabar duka itu. Kaget, pasti. Tapi saat itu hatiku berdesir.
“Nenek sekarang sudah tenang ya, sudah bahagia,”
Tak ada air mata karena sibuk menyiapkan kedatangan nenek dari rumah sakit. Nenek punya banyak cucu, semuanya ikut membantu menyiapkan keperluan nenek. Dari memandikan sampai mengkafani. Nenek akan dishalatkan dan dikuburkan besok pagi. Rumah itu ramai dengan para tetangga yang juga sibuk membantu kami. Saat mengkafani, melihat orang yang sangat dekat dengan kita, terbujur kaku, saat terakhir memandang wajah tenang itu, sangat menyedihkan. Pamanku, si bungsu nenek, keluar dari kamar, menyaksikan wajah nenek yang akan ditutup kain kafan, paman mendekat dan mencium wajah lembut itu. Tak ada yang bisa menahan tangis melihat momen tersebut. Aku dan semua cucu nenek yang mengelilingi ruangan itu, berusaha menahan air mata sekuat tenaga.
“Jangan menangis ! Boleh menangis, tapi jangan disini,”
Suara seorang ibu yang membantu mengkafani nenek, seperti komando untuk segera menghapus air mata dan beralih mendoakan nenek. Karena tak ada yang bersedia kehilangan kesempatan untuk menatap wajah tenang nenek.
Paginya prosesi menyolati dan mengkuburkan nenek berjalan dengan lancar. Kakek terus bercerita kepada saudara jauh yang datang melayad. Katanya, nenek beruntung pergi saat semua cucunya berkumpul di rumah. Dishalati sampai tiga kali rombongan. Yang pertama dari pihak keluarga, kedua dari para pemuda setempat, yang terakhir oleh rombongan Kyai pondok dimana pamanku mengabdi.
Prosesi pemakaman diakhiri dengan tahlil oleh keluarga besarku. Aku beserta beberapa cucu nenek mengantar ke peristirahatan terakhir. Semuanya berusaha tegar di hadapan nenek.
Banyak orang yang datang melayad ke rumah nenek, bertemu salam sapa dan sesekali menceritakan kronologi detik terakhir kepergian nenek. Mereka bilang, nenek sudah pulang. Bukankah konotasi ‘pulang’ adalah bahagia, karena kembali dengan orang-orang terkasih?
Kali pertamanya aku merasakan kepergian seseorang terkasih.

Semoga Allah menempatkan nenek di sisi Allah yang Maha Agung.


Senin, 15 Agustus 2016

Hujan Berkah di Al Mumtaz



Shallu a’lannabii Muhammad..
Allahumma shallu a’laihh...

Beberapa lagu dilantunkan oleh grup hadroh Al Mumtaz mengawali acara malam mujahadah dan pengajian Dzikrul Ghofilin di Pondok Pesantren Al Mumtaz. Paginya, semaan Al Qur’an hingga malam hari dan dilanjutkan dengan pengajian yang diisi oleh Bapak K.H. Henri Sutopo, pengasuh pondok pesantren Krapyak. Acara ini sekaligus Walimatussafar (pamitan haji) Abah Khoiron dan Ibu Zudiati Ulfa, pengasuh pondok pesantren Al Mumtaz. Malam itu, rintik hujan sudah menampakkan kehadirannya sejak acara dimulai. Bak racikan bumbu yang semakin menambah kesyahduan majlis shalawat. Warga dan para santri putra dan putri telah menempati tika-tikar yang tertata rapi di sekitar panggung. Begitupun saya, bersama dengan teman-teman saya menempati posisi kiri depan panggung. Pilihan strategis untuk merekam atau sekedar mengambil gambar.
Sekitar pukul 21.00 mujahadah dimulai. Air langit turun dengan deras memberi ‘berkah’ pada jamaah yang hadir. Mereka yang tidak dalam posisi atap terlindungi mencari tempat untuk berteduh. Beruntungnya kami dalam posisi aman. Namun tidak dengan alas kami. Air mulai merembas masuk ke dalam celah-celah tikar. Kaki kami mulai terasa basah. Tapi nyatanya hal tersebut tidak membuat niat mencari ilmu kami luntur. Begitu juga para jamaah dan santri. Dalam sambutannya Abah Khoiron berkata bahwa setiap Pondok Pesantren Al Mumtaz mengadakan pengajian, hujan turut serta bersama kami.
“Dan itulah yang menjadi berkah dan rejeki bagi kita semua,”  tambah Abah.
Malam semakin merangkak. Acara dilanjutkan dengan tausiyah oleh Bapak K.H. Sukron Jazilan dari Surabaya. Beliau menyampaikan bahwa sebaik-baik orang pasti buruknya dan seburuk-buruk orang pasti ada baiknya.
“seapik-apike wong pasti ono elee lan sa ele-elee wong yo ono apike. Iku jenenge menuso,” begitulah dalam bahasa jawa.
Satu hal lagi yang masih tertinggal di benak saya ketika beliau menyampaikan bahwa hidup itu tidak seharusnya saling merendahkan.
“urip iku ojo merendahkan orang lain. Barangkali dia itu adalah kekasih Allah. Ciri dari kekasih Allah itu rahasia,” pungkasnya.
Hal sederhana yang mungkin biasa kita lakukan, pun saya sendiri. Saya teringat salah satu sohabat Rasullah, kalau tidak salah sohabat Ali. Beliau menjelaskan bagaimana ‘semestinya’ kita memandang orang lain. Meletakkan diri pada posisi yang paling buruk karena kita mengetahui keburukan sifat kita. Serta mengingat selalu kebaikan orang lain. Hal ini mugkin sepele hanya berkisar pada tatanan pola pikir. Tapi dari sinilah awal kita bersikap dan berperilaku dalam menghadapi orang lain.
Dua hari yang singkat ini menampakkan berbagai hal sudut pandang. Berkali-kali saya melihat santri putra, kira-kira anak-anak MTs, berpencar ke setiap sudut tempat pengajian untuk sekedar mengumpulkan sampah ke kantong plastik yang mereka bawa masing-masing. Saya yakin mereka tidak sedang kerja bakti seperti yang biasa mereka lakukan setiap pagi. Karena mereka menggunakan baju putih dan sarung untuk sengaja mengikuti acara. Ada desiran rasa syukur melihat mereka yang terdidik untuk berlaku bersih dan menjaga lingkungannya. Kendati usia mereka masih sangat muda.
Tak hanya itu, kerja keras para santri yang dewasa sangat terlihat ketika hujan ‘menebar’ berkah. Ada yang mengantar para kyai dan pengasuh pesantren dengan tangan memanjang keatas memegang payung sedangkan mereka sendiri basah kuyup. Membagikan nasi untuk para jamaah dengan berjuang melawan genangan air serta tanah yang berubah menjadi seperti lumpur. Tapi tak ada guratan mengeluh yang terlihat di mata mereka. Hujan benar-benar menjadi barokah kala itu.
Esoknya, Ahad 14 agustus 2016 hujan memberi tempat untuk bulan dan langit yang terang. Semaan Al-Qur’an berjalan dengan khidmat. Para hafidz yang berasal dari jawa timur ini semoga menambah semangat para santri untuk istiqomah mengikuti jejak beliau. Acara ini hingga larut malam.

Dua hari yang berkesan semoga menambah iman serta semangat membuka keridhoan Allah. Aamiin.






Jumat, 12 Agustus 2016

Pare is Memorable



Ini kisah yang paling sulit dijelaskan, sudah beberapa kali saya buat narasi awal. Pasti ujungnya saya delete. Entah mau gaya seperti apa tulisan ini saya buat. Melirik pada kawan-kawan seperjuangan telah menuliskannya dalam bentuk berita dan diupload di laman Universitas, saya termenung dan lagi-lagi berpikir gaya seperti apa sehingga isi pikiran ini bisa tertuang dalam goresan penaku. Akhirnya saya tulis mengalir sesuai jari jemariku yang tak sabar untuk menekan keyboard ini. Toh saya hanya ingin tulisan saya mejeng di laman blog saya sendiri dan menjadi kenangan yang akan dibaca oleh putra putiku kelak (merasa tua, jleb banget..hehe)
Menginjakkan kaki di tanah kampung inggris ini adalah keberuntungan bagiku. Terus terang meski hanya 2 minggu, saya merasa sangat menikmati segala aktivitas yang ada. Karena dari segi kesibukan tidak jauh berbeda dengan aktivitas di pondok dimana saya tinggal. Bahkan lebih dari itu, saya belajar banyak hal dari keempat kawan saya. Bersama mereka saya menjaga keistiqomhan rutinitas di pondok. Beruntungnya, kamar kami bersampingan dengan Mushala.
Saya beserta 135 kawan Bidikmisi menimba ilmu bersama di Kresna English Language Institute yang beralamat di Jl. Asparaga No. 13 Tegalsari Tulungrejo Pare Kediri Jawa Timur. Walaupun dari segi akademis, waktu yang sangat sigkat itu hanya cukup untuk memahami apa itu Bahasa Inggris dan kemudian meraba struktur kalimat dan pengucapannya. Tetapi belajar dengan lingkungan baru, teman-teman yang sebagian baru dikenal dan tentu saja dengan para tutor yang baru, tentu memiliki sensasi tersendiri. Kami terbagi menjadi 5 kelas. Saya masuk ke dalam kelas E dengan nama ‘Galileo Class’. Jujur, saya merasa tidak pantas masuk ke kelas ini. Beberepa dari mereka pernah menimba ilmu sebelumnya di Pare. Ada juga yang sudah persiapan untuk tes Toefl. Wah kebayang, kualitas English saya kacangan sekali ini. Yup, benar saja. Ketika masuk kelas speaking, dengan tutor Mr Adi Kurniawan, terlihat bakat-bakat mereka. Nyali saya sungguh mendadak melempem.
Ada 3 tutor lagi selain Mr. Adi. Yaitu Mr. Didik untuk kelas Grammar for speaking, Mr. Adzim untuk kelas Grammar for writing dan Mr. Farid untuk Vocab. Nah yang terakhir ini, temen-temen biasa memanggilnya Mr. Kokoh dan sampai sekarang saya tidak tau apa alasan mereka menempelkan nama baru pada beliau. Menjadi yang paling awal keluar dari kelas pagi dan terakhir menjelang maghrib adalah ciri khas dari kelas ini. Yang paling berkesan adalah proyek presentasi untuk kelas speaking. Temanya bebas. Kami diwajibkan berbicara dengan berbahasa inggris.
“Paham atau tidak paham gunakan bahasa inggris.” Pesan Mr. Adi.
Jadilah tugas ini menjadi tugas paling memakan waktu dan pikiran karena menjadi final examination. Dimana hasilnya akan termuat di dalam sertifikat. Jumat minggu kemarin kelompok saya presentasi dengan tema “Right and Left Brain”. Setau saya kelompok kami yang paling minim persiapan dengan tema yang sangat saintis. Jadilah tampil dengan modal kata “sebisanya”. Presentasi diakhiri dengan senam otak sebagai hiburan dan tentu saja foto bersama.
Suatu ketika ada kelompok lain yang presentasi dengan tema ‘Blood Type’. Yang menarik adalah ketika sesi tanya jawab. Kelompok tersebut merasa kualahan dengan pertanyaan dari sang tutor. Hingga salah satu dari mereka, seorang perempuan, yang menjawab setiap pertanyaan tiba pada titik lelah. Wajar saja hal itu terjadi karena harus berpikir menjawab pertanyaan sekaligus menerjemahkan dalam bahasa inggris plus menyampaikannya pula.
“Can I answer you’re question with Indonesia Language?” tanya dengan nada terengah-engah.
“No, Can’t. Oke Thanks,” ucapnya menutup kelas yang telah melewati jam pulang tersebut.
Tempat belajar kami cukup jauh dari camp tempat kita menginap. Jadilah kita menyewa sepeda untuk mobilitas sehari-hari selama 2 minggu di Pare. Sepeda itulah yang menjadi ‘sapu terbang’ untuk menjelajahi Kediri. Dari taman KiliSuci, masjid An Nur, Candi Banyunibo hingga Simpang Lima Gumul (SLG), telah mereka kunjungi. Itupun bagi mereka yang ‘seterong’. Karena jarak yang berkilo-kilo jauhnya. Diakhir perjalanan di pare, kami beserta rombongan mengunjungi Gunung Kelud dan Tugu SLG. Saya menyebut SLG sebagai Arc’ De Triomphe-nya kediri. Tugu ini terinspirasi dengan bangunan Arc’ De Triomphe, Prancis. Dulu ketika di Aliyah, saat belajar bahasa Perancis mengugkit tentang icon dari negara Prancis tersebut. Salah satunya ya Arc’ De Triomphe ini. Bedanya, Tugu SLG sebagai jalan simpang lima sehingga kendaraan melewati atau memutar Tugu tersebut. Sedangkan Arc’ De Triomphe, arus kendaraan melewati terowongan icon Prancis itu. Harapan untuk mengunjungi icon Prancis itupun terpatri.
Setelah masa belajar di Pare itu berakhir, ternyata bukan hanya saya yang tidak bisa move on, atau bahkan tidak mau move on, dari kenangan di Pare. Hingga tulisan ini saya buat, Grup Whats Up Galileo Class masih ramai dikunjungi para anggotanya. Terlebih para tutorpun ikut ‘menjenguk’ anak-anaknya yang jauh dari jangkauan mata ini.

. Sungguh saat itu saya tidak bisa berucap ‘say goodbye’ saya hanya mau mengucapkan ‘see you next time and see you at the top’.
Terimaksaih untuk seluruh panitia, kawan serta para tutor dari Kresna English Language Institute. Mengenal kalian adalah keberuntungan bagi saya.



Ket. masa tegang saat presentasi


Ket. hari terakhir di kelas.


Ket. Kelompok 2


Ket.  Tugu SLG (Arc De Triomphe-nya Kediri)

Kamis, 11 Agustus 2016

Serpihan Kisah Keistiqomahan si Supir Bus


Jumat siang ini terasa sangat panas. Perjalanan dari Gunungkidul menuju Piyungan cukup ramai. Saya melihat Bus jogja-wonosari yang juga menuju turun ke bawah berada di barisan depan motor yang saya kendarai. Soal Bus, saya jadi teringat suatu peristiwa. Dulu, ketika saya tinggal di pondok cabang di Jalan Ring Road Timur Banguntapan, saat itu hari jum’at sekitar jam 11 siang saya bersama adik saya menuju pondok pusat di Gunungkidul dengan  menaiki Bus. Keadaan di dalamnya sangat ramai. Dari anak sekolah hingga pedagang yang hendak kembali ke ataspun ada. Terik matahari sangat menyengat, bus melaju dengan kencang. Mendekati  lampu merah terakhir menuju ke atas, tepatnnya di daerah Piyungan, Bus tiba-tiba berhenti, mesin dimatikan. Supir dan kernetnya keluar dari Bus. Penumpang gundah, karena banyak dari mereka yang mengejar waktu sampai tujuan. Udara panas masuk ke dalam Bus menambah keresahan para penumpang. Dari perbincangan mereka, usut punya usut, ternyata kernet dan supir Bus, melaksanakan Shalat Jum’at di Masjid sekitar daerah tersebut.
Subhanallah mereka masih menjaga keistiqomahan Shalat Jum’at. Kemudian terlontar begitu saja dalam pikiran saya. Kenapa ndak ngajak penumpangnya sekalian pak, kan banyak tuh yang bapak-bapak? Hanya berpikir positif, mungkin malah takut diminta tancap gas lagi.
Hal seperti ini pernah saya alami di tempat asal saya, Cirebon. Waktu itu saya masih duduk di kelas XI MA, kalau tidak salah. Setiap hari jumat, saya mempunyai aktivitas rutin untuk pergi ke kota. Karena saya tinggal di ujung barat Cirebon, perbatasan dengan kabupaten lain. Tujuannya untuk mengedit dan menyetorkan hasil berita yang saya dapatkan  selama semingu ke salah satu koran swasta dimana saya magang. Sebenarnya saya berangkat dari rumah seperti biasa jam 10 pagi, hanya saja angkatan umum yang biasa saya gunakan tak kunjung datang. Sekali datang, kondisi Bus mini (saya biasa menyebutnya bus Elep) sangat memprihatinkan. Terlintas dalam pikiran saya, wah pasti bakal lama sampai tujuan ini. Karena prediksi kecepatan Bus bisa dilihat dari kondisi fisik Bus, analisa saya bagitu. Belum setengah dari perjalanan saya,  isi Bus mulai berkurang. Menyisakan saya dengan seorang remaja perempuan. Bus berhenti tepat di seberang jalan masjid. Kami hanya saling menatap bingun, karena tak ada  calon penumpang di luar yang memberhentikan bus.
“Maaf mbak sampai sini saja, silahkan cari bus lain. Saya mau jumatan dulu,” ucap bapak supir santun.
Kamipun terpaksa turun. Ketika saya akan memberikan ongkos Bus, supir itu menolak dengan halus.
“Ndak usah mbak, buat ongkos Bus yang lain saja,” ucapnya.
Ya memang benar jika saya menggunakan Bus lain, akan terkena ongkos double. Kecuali jika menggunakan sistem oper dari supir.
Sungguh pengalaman tersebut membuat saya memahami akan keistiqomahan seseorang. Dalam kondisi apapun, seharusnya tidak menggoyahkan apa yang sudah menjadi ‘kebutuhan’ seorang muslim. Semoga kita semua bisa menjaga keistiqomahan tersebut hingga dipetemukan dengan sang Khaliq.