Rumput Liar

Jumat, 12 Agustus 2016

Pare is Memorable



Ini kisah yang paling sulit dijelaskan, sudah beberapa kali saya buat narasi awal. Pasti ujungnya saya delete. Entah mau gaya seperti apa tulisan ini saya buat. Melirik pada kawan-kawan seperjuangan telah menuliskannya dalam bentuk berita dan diupload di laman Universitas, saya termenung dan lagi-lagi berpikir gaya seperti apa sehingga isi pikiran ini bisa tertuang dalam goresan penaku. Akhirnya saya tulis mengalir sesuai jari jemariku yang tak sabar untuk menekan keyboard ini. Toh saya hanya ingin tulisan saya mejeng di laman blog saya sendiri dan menjadi kenangan yang akan dibaca oleh putra putiku kelak (merasa tua, jleb banget..hehe)
Menginjakkan kaki di tanah kampung inggris ini adalah keberuntungan bagiku. Terus terang meski hanya 2 minggu, saya merasa sangat menikmati segala aktivitas yang ada. Karena dari segi kesibukan tidak jauh berbeda dengan aktivitas di pondok dimana saya tinggal. Bahkan lebih dari itu, saya belajar banyak hal dari keempat kawan saya. Bersama mereka saya menjaga keistiqomhan rutinitas di pondok. Beruntungnya, kamar kami bersampingan dengan Mushala.
Saya beserta 135 kawan Bidikmisi menimba ilmu bersama di Kresna English Language Institute yang beralamat di Jl. Asparaga No. 13 Tegalsari Tulungrejo Pare Kediri Jawa Timur. Walaupun dari segi akademis, waktu yang sangat sigkat itu hanya cukup untuk memahami apa itu Bahasa Inggris dan kemudian meraba struktur kalimat dan pengucapannya. Tetapi belajar dengan lingkungan baru, teman-teman yang sebagian baru dikenal dan tentu saja dengan para tutor yang baru, tentu memiliki sensasi tersendiri. Kami terbagi menjadi 5 kelas. Saya masuk ke dalam kelas E dengan nama ‘Galileo Class’. Jujur, saya merasa tidak pantas masuk ke kelas ini. Beberepa dari mereka pernah menimba ilmu sebelumnya di Pare. Ada juga yang sudah persiapan untuk tes Toefl. Wah kebayang, kualitas English saya kacangan sekali ini. Yup, benar saja. Ketika masuk kelas speaking, dengan tutor Mr Adi Kurniawan, terlihat bakat-bakat mereka. Nyali saya sungguh mendadak melempem.
Ada 3 tutor lagi selain Mr. Adi. Yaitu Mr. Didik untuk kelas Grammar for speaking, Mr. Adzim untuk kelas Grammar for writing dan Mr. Farid untuk Vocab. Nah yang terakhir ini, temen-temen biasa memanggilnya Mr. Kokoh dan sampai sekarang saya tidak tau apa alasan mereka menempelkan nama baru pada beliau. Menjadi yang paling awal keluar dari kelas pagi dan terakhir menjelang maghrib adalah ciri khas dari kelas ini. Yang paling berkesan adalah proyek presentasi untuk kelas speaking. Temanya bebas. Kami diwajibkan berbicara dengan berbahasa inggris.
“Paham atau tidak paham gunakan bahasa inggris.” Pesan Mr. Adi.
Jadilah tugas ini menjadi tugas paling memakan waktu dan pikiran karena menjadi final examination. Dimana hasilnya akan termuat di dalam sertifikat. Jumat minggu kemarin kelompok saya presentasi dengan tema “Right and Left Brain”. Setau saya kelompok kami yang paling minim persiapan dengan tema yang sangat saintis. Jadilah tampil dengan modal kata “sebisanya”. Presentasi diakhiri dengan senam otak sebagai hiburan dan tentu saja foto bersama.
Suatu ketika ada kelompok lain yang presentasi dengan tema ‘Blood Type’. Yang menarik adalah ketika sesi tanya jawab. Kelompok tersebut merasa kualahan dengan pertanyaan dari sang tutor. Hingga salah satu dari mereka, seorang perempuan, yang menjawab setiap pertanyaan tiba pada titik lelah. Wajar saja hal itu terjadi karena harus berpikir menjawab pertanyaan sekaligus menerjemahkan dalam bahasa inggris plus menyampaikannya pula.
“Can I answer you’re question with Indonesia Language?” tanya dengan nada terengah-engah.
“No, Can’t. Oke Thanks,” ucapnya menutup kelas yang telah melewati jam pulang tersebut.
Tempat belajar kami cukup jauh dari camp tempat kita menginap. Jadilah kita menyewa sepeda untuk mobilitas sehari-hari selama 2 minggu di Pare. Sepeda itulah yang menjadi ‘sapu terbang’ untuk menjelajahi Kediri. Dari taman KiliSuci, masjid An Nur, Candi Banyunibo hingga Simpang Lima Gumul (SLG), telah mereka kunjungi. Itupun bagi mereka yang ‘seterong’. Karena jarak yang berkilo-kilo jauhnya. Diakhir perjalanan di pare, kami beserta rombongan mengunjungi Gunung Kelud dan Tugu SLG. Saya menyebut SLG sebagai Arc’ De Triomphe-nya kediri. Tugu ini terinspirasi dengan bangunan Arc’ De Triomphe, Prancis. Dulu ketika di Aliyah, saat belajar bahasa Perancis mengugkit tentang icon dari negara Prancis tersebut. Salah satunya ya Arc’ De Triomphe ini. Bedanya, Tugu SLG sebagai jalan simpang lima sehingga kendaraan melewati atau memutar Tugu tersebut. Sedangkan Arc’ De Triomphe, arus kendaraan melewati terowongan icon Prancis itu. Harapan untuk mengunjungi icon Prancis itupun terpatri.
Setelah masa belajar di Pare itu berakhir, ternyata bukan hanya saya yang tidak bisa move on, atau bahkan tidak mau move on, dari kenangan di Pare. Hingga tulisan ini saya buat, Grup Whats Up Galileo Class masih ramai dikunjungi para anggotanya. Terlebih para tutorpun ikut ‘menjenguk’ anak-anaknya yang jauh dari jangkauan mata ini.

. Sungguh saat itu saya tidak bisa berucap ‘say goodbye’ saya hanya mau mengucapkan ‘see you next time and see you at the top’.
Terimaksaih untuk seluruh panitia, kawan serta para tutor dari Kresna English Language Institute. Mengenal kalian adalah keberuntungan bagi saya.



Ket. masa tegang saat presentasi


Ket. hari terakhir di kelas.


Ket. Kelompok 2


Ket.  Tugu SLG (Arc De Triomphe-nya Kediri)

Kamis, 11 Agustus 2016

Serpihan Kisah Keistiqomahan si Supir Bus


Jumat siang ini terasa sangat panas. Perjalanan dari Gunungkidul menuju Piyungan cukup ramai. Saya melihat Bus jogja-wonosari yang juga menuju turun ke bawah berada di barisan depan motor yang saya kendarai. Soal Bus, saya jadi teringat suatu peristiwa. Dulu, ketika saya tinggal di pondok cabang di Jalan Ring Road Timur Banguntapan, saat itu hari jum’at sekitar jam 11 siang saya bersama adik saya menuju pondok pusat di Gunungkidul dengan  menaiki Bus. Keadaan di dalamnya sangat ramai. Dari anak sekolah hingga pedagang yang hendak kembali ke ataspun ada. Terik matahari sangat menyengat, bus melaju dengan kencang. Mendekati  lampu merah terakhir menuju ke atas, tepatnnya di daerah Piyungan, Bus tiba-tiba berhenti, mesin dimatikan. Supir dan kernetnya keluar dari Bus. Penumpang gundah, karena banyak dari mereka yang mengejar waktu sampai tujuan. Udara panas masuk ke dalam Bus menambah keresahan para penumpang. Dari perbincangan mereka, usut punya usut, ternyata kernet dan supir Bus, melaksanakan Shalat Jum’at di Masjid sekitar daerah tersebut.
Subhanallah mereka masih menjaga keistiqomahan Shalat Jum’at. Kemudian terlontar begitu saja dalam pikiran saya. Kenapa ndak ngajak penumpangnya sekalian pak, kan banyak tuh yang bapak-bapak? Hanya berpikir positif, mungkin malah takut diminta tancap gas lagi.
Hal seperti ini pernah saya alami di tempat asal saya, Cirebon. Waktu itu saya masih duduk di kelas XI MA, kalau tidak salah. Setiap hari jumat, saya mempunyai aktivitas rutin untuk pergi ke kota. Karena saya tinggal di ujung barat Cirebon, perbatasan dengan kabupaten lain. Tujuannya untuk mengedit dan menyetorkan hasil berita yang saya dapatkan  selama semingu ke salah satu koran swasta dimana saya magang. Sebenarnya saya berangkat dari rumah seperti biasa jam 10 pagi, hanya saja angkatan umum yang biasa saya gunakan tak kunjung datang. Sekali datang, kondisi Bus mini (saya biasa menyebutnya bus Elep) sangat memprihatinkan. Terlintas dalam pikiran saya, wah pasti bakal lama sampai tujuan ini. Karena prediksi kecepatan Bus bisa dilihat dari kondisi fisik Bus, analisa saya bagitu. Belum setengah dari perjalanan saya,  isi Bus mulai berkurang. Menyisakan saya dengan seorang remaja perempuan. Bus berhenti tepat di seberang jalan masjid. Kami hanya saling menatap bingun, karena tak ada  calon penumpang di luar yang memberhentikan bus.
“Maaf mbak sampai sini saja, silahkan cari bus lain. Saya mau jumatan dulu,” ucap bapak supir santun.
Kamipun terpaksa turun. Ketika saya akan memberikan ongkos Bus, supir itu menolak dengan halus.
“Ndak usah mbak, buat ongkos Bus yang lain saja,” ucapnya.
Ya memang benar jika saya menggunakan Bus lain, akan terkena ongkos double. Kecuali jika menggunakan sistem oper dari supir.
Sungguh pengalaman tersebut membuat saya memahami akan keistiqomahan seseorang. Dalam kondisi apapun, seharusnya tidak menggoyahkan apa yang sudah menjadi ‘kebutuhan’ seorang muslim. Semoga kita semua bisa menjaga keistiqomahan tersebut hingga dipetemukan dengan sang Khaliq.

Minggu, 19 Juni 2016

Beretika dalam Komunikasi Bahasa Isyarat



Beretika dalam Komunikasi Bahasa Isyarat
Berbicara mengenai etika, secara universal berarti attitude atau tingkah laku. Etika memiliki jangkauan yang sangat luas dalam kehidupan sosial manusia. Tanpa etika, hubungan antar individu tidak akan terasa nyaman. Dalam hal ini tentu saja etika yang baik. Karena etika berkonotasi dengan saling menghargai dan menghormati. Setiap berkomunikasi dengan orang lain, pasti memiliki etika yang berbeda bergantung pada siapa lawan bicara. Tak terkecuali etika ketika berkomunikasi dengan mereka yang tuna rungu (Tuli). Bahasa isyarat adalah alternatif untuk menyampaikan maksud dan tujuan agar dapat dimengerti oleh mereka. Maka etika pasti ada di dalam komunikasi tersebut.
Suatu ketika saya berada di Pusat Layanan Difabel dan seperti biasa mencoba untuk berkomunikasi dengan mereka yang berbahasa isyarat.  Saat sedang fokus dengan salah satu dari mereka, seorang relawan PLD memanggil nama saya dan menanyakan tentang charger Handphone. Saya reflek menoleh dan menjawab pertanyaan tersebut. Kemudian beranjak dari tempat duduk saya menuju letak tas yang berada di depan meja. Setelah selesai urusan dengan charger, saya kembali duduk dan mencoba berkomunikasi kembali. Saat itu sedang membahas sebuah foto di facebook. Foto tersebut menggambarkan kegiatan 8 orang Tuli yang berada di Amerika dalam program pertukaran pelajar. Saat itu saya meminta dia menjelaskan ulang apa yang mereka pelajari disana. Respon yang diberikan membuat saya merasa ketakutan untuk menatap mata teman ‘istimewa’ ini. Dengan beberapa gerakan tangan disertai gerakan mulut, ia menjelaskan pada saya sesuatu yang baru saya pahami.
“Kalau kamu berbicara dengan tuna rungu harus fokus, matanya menatap. Kalau tidak begitu, aku harus mengulang terus. Aku capek. Kamu bisa berbicara dengan orang normal dengan mengerjakan hal lain. Matamu bisa kemana-mana. Tapi kalau dengan Tuli, kamu harus fokus. Hati-hati kamu. Ingat dalam berkomunikasi itu ada etikanya !.
Aku terus menatapnya dengan pandangan takut. Kurang lebih 15 menit dia menerangkan dan memberi contoh mengenai etika yang ia maksud. Sesekali aku balas dengan anggukan dan gerakan ibu jari yang menyatu dengan telunjuk membentuk huruf O kemudian diarahkan ke pipi dekat bibir sebelah kanan. Isyarat untuk kata ‘Maaf’.
Etika berkomunikasi dalam bahasa isyarat pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan etika dengan orang pada umumnya. Menatap, fokus dan memperhatikan setiap pembicaraan. Namun alih-alih modernisasi, etika ini semakin memudar.  Semakin terbiasa duduk dan fokus pada android. Pun ketika berkomunikasi secara langsung. Kebiasaan menyambi dengan melakukan pekerjaan lain, dinggap sudah terbiasa. Nah, mereka yang berkomunikasi dengan gerakan tangan tidak akan terima dengan perubahan ini. Karena etika tersebut menjadi faktor pendorong  sampai atau tidaknya suatu penjelasan.
            Ketika melakukan wawancara sekalipun, hentikan kebiasaa untuk mendengarkan sambil menulis. Karena pengalaman yang disampaikan teman saya ini, hasil wawancara dengan kerja seperti itu tidak berhasil. Artinya lawan bicara tidak memahami penjelasan yang telah disampaikan. Maka terapkanlah etika ini !
Ketika tulisan ini akan saya posting di Blog, saya meminta koreksi terlebih dahulu dengan seseorang yang selalu memakai bahasa isyarat, M. Beni Sasongko. Mahasiswa semester akhir jurusan PAI yang sedang menyusun skripsi mengenai bacaan shalat untuk Tuli. Kemudian menulis berikut ini.

Hafidh berasal dari Yogyakarta, kelas 3 SMA. Menurutnya : tuli beda dengan Tuli. Huruf kecil (t) tuli arti bahasa kasar. Sedangkan huruf besar (T) Tuli adalah orang yang bangga berbahasa isyarat.

Awalnya saya pikir itu sama sekali tidak berpengaruh. Tapi bagi sebagian orang tentu  menimbulkan tafsiran yang berbeda. Maka saya tulis dengan rekomendasi di atas.


Salam Inklusi



Ket: Moment latihan bahasa isyarat

Minggu, 12 Juni 2016

Berguru pada sosok sederhana, Bapak Arif Maftuhin.



Berguru pada sosok sederhana, Bapak Arif Maftuhin.
"Bapak, kenapa bapak sangat bersikukuh untuk menerapkan sistem tepat waktu? Padahal orang lain sudah memakai jam karet," pertanyaan yang terlontar dari mulutku ketika memasuki pertemuan kedua kelas Fiqih Sosial.
"Ini tentang bagaimana saya mendidik orang-orang yang akan mendidik anak cucu saya dan orang-orang yang akan menjadi pemimpin bangsa ini," ungkap beliau dengan tegas.
Itulah prinsip yang selalu diterapkan oleh Bapak Arif Maftuhin.
Pernah ada salah satu teman saya yang terlambat 3 menit, jam masuknya 12.30. Padahal sebelum kelas ini satu kelas denganku, artinya posisi dia sudah di Fakultas Dakwah. Tentu saja tidak ada ampun baginya, karena sudah ada perjanjian di pertemuan pertama. Ada dispensasi ketika mahasiswa tersebut menghubungi dosen via sms ataupun whats up. Alasan tersebut juga harus dapat diterima  secara logis.
Saya sangat tertetegun dengan prinsip yang beliau pegang. sangat kuat. Dulu ketika saya menginjak remaja, idealisme untuk memegang prinsip tersebut sangat kuat. Tapi mulai luntur karena melihat situasi dan kondisi yang mulai terbiasa dengan budaya tidak tepat waktu alias jam karet.
Pertama kali saya mengenal Bapak Arif Maftuhin dari selembar koran yang berisi tentang deskripsi Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Sebuah tempat untuk melayani orang-orang berkebutuhan khusus yang sedang menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga ini.
Ketika memasuki pertemuan pertama kuliah fiqih sosial, saya berbisik ke pada teman sebelah kiri saya.
"Bapak itu, kepala PLD loh. Kemaren masuk koran.,"
Salah satu bidang yang beliau geluti adalah advokasi orang dengan disabilitas. Bidang yang sangat menarik hati saya untuk ikut terjun di dalamnya. Salah satu kerebat dari kakek saya mengalami tuna rungu. Tidak dari lahir, ada suatu peristiwa yang membuatnya tidak bisa mendengar dan berbicara. seorang peremuan cantik yang tak pernah mengenyam pendidikan dasar sekalipun. Usianya berbeda 2 tahun dari saya. Kami sering menggunakan bahasa isyarat sekenanya. Bahasa yang diciptakan ia dan keluarganya. Terkadang tidak bisa dipahami oleh lawan bicaranya.
Kakek dari bapak saya juga memiliki seorang kakak yang buta. Meskipun begitu beliau hafal beberapa surat di dalam Al Qur'an. Beliau banyak mendengar kajian Al Qur'an.
Terjun di dunia mereka bukanlah hal yang baru bagi saya. sejak kecil saya berdampingan dengan orang-orang 'istimewa' seperti mereka.
Foto-foto diatas adalah momentum pameran mengenai Lansia dan Disabilitas, Jum'at 10 juni 2016. Dosen pengampu mata kuliah tersebut adalah Ibu Ro'fah, salah satu pendiri PLD. Teman seperjuangan bapak Arif dalam advokasi orang dengan disabilitas.
Mendengar  dan membaca tulisan advokasi dari Bapak Arif Maftuhin membuat saya bertekad untuk menciptakan masyarakat yang inklusi, masyarakat yang menerima setiap perbedaan. Meskipun proses tersebut tidaklah mudah, masih panjang jalan terjal yang harus dilalui. Dan berguru pada Bapak Arif dan Ibu Ro'fah adalah salah satu proses yang harus dilalui.

Salam Inklusi

Minggu, 01 Mei 2016

Memaknai hari pendidikan nasional sebagai suatu moment intropeksi bangsa dan para pendidik dalam melihat problema sosial. Pedidikan dan problema sosial tidak bisa dipisahkan. Keduanya saling mempengaruhi. Pendidikan yang diharapkan dapat menjadi kunci dalam menangani berbagai masalah sosial. Sudahkah pendidikan di Indonesia dapat menjawab problema sosial? Belum lagi jika kita tengok hak pendidikan bagi anak-anak bangsa. Bagaimana pendidikan anak berkebutuhan khusus (ABK)  atau pendidikan bagi mereka para difabel (different able)? Sudahkan menjadi pendidikan inklusi?
Berbicara mengenai pendidikan tidak bisa dipisahkan dengan peran seorang guru. Selama 15 tahun menjadi  seorang peserta didik dengan 2 tahun terakhir menjadi seorang pendidik, memberikan warna-warni karakter sang pendidik serta memahami jasa mereka. Teringat pada guru-guruku di tanah kelahiranku. Kemudian sekarang dalam bimbingan seorang Abah yang tak pernah lelah mendidikku dan teman-teman seperjuanganku di tanah perantauan ini. Hanya kiriman Fatikhah yang dapat ku lakukam untuk membingkai rasa syukurku atas ilmu yang telah diberikan. Semoga Allah menempatkan mereka di tempat yang terbaik di akhirat kelak. Aamiin

Tulisan ini tidak berfokus pada apapun, hanya mengeluarkan isi pikiran setelah membaca tulisan seorang dosen panutanku, mengenai pendidikan inklusi dan membaca tulisan kawan seperjuanganku di Bandung.

Tulisan ini hanya perenungan saja.
Memaknai hari pendidikan nasional sebagai suatu moment intropeksi bangsa dan para pendidik dalam melihat problema sosial. Pedidikan dan problema sosial tidak bisa dipisahkan. Keduanya saling mempengaruhi. Pendidikan yang diharapkan dapat menjadi kunci dalam menangani berbagai masalah sosial. Sudahkah pendidikan di Indonesia dapat menjawab problema sosial? Belum lagi jika kita tengok hak pendidikan bagi anak-anak bangsa. Bagaimana pendidikan anak berkebutuhan khusus (ABK)  atau pendidikan bagi mereka para difabel (different able)? Sudahkan menjadi pendidikan inklusi?
Berbicara mengenai pendidikan tidak bisa dipisahkan dengan peran seorang guru. Selama 15 tahun menjadi  seorang peserta didik dengan 2 tahun terakhir menjadi seorang pendidik, memberikan warna-warni karakter sang pendidik serta memahami jasa mereka. Teringat pada guru-guruku di tanah kelahiranku. Kemudian sekarang dalam bimbingan seorang Abah yang tak pernah lelah mendidikku dan teman-teman seperjuanganku di tanah perantauan ini. Hanya kiriman Fatikhah yang dapat ku lakukam untuk membingkai rasa syukurku atas ilmu yang telah diberikan. Semoga Allah menempatkan mereka di tempat yang terbaik di akhirat kelak. Aamiin

Tulisan ini tidak berfokus pada apapun, hanya mengeluarkan isi pikiran setelah membaca tulisan seorang dosen panutanku, mengenai pendidikan inklusi dan membaca tulisan kawan seperjuanganku di Bandung.

Tulisan ini hanya perenungan saja.
Memaknai hari pendidikan nasional sebagai suatu moment intropeksi bangsa dan para pendidik dalam melihat problema sosial. Pedidikan dan problema sosial tidak bisa dipisahkan. Keduanya saling mempengaruhi. Pendidikan yang diharapkan dapat menjadi kunci dalam menangani berbagai masalah sosial. Sudahkah pendidikan di Indonesia dapat menjawab problema sosial? Belum lagi jika kita tengok hak pendidikan bagi anak-anak bangsa. Bagaimana pendidikan anak berkebutuhan khusus (ABK)  atau pendidikan bagi mereka para difabel (different able)? Sudahkan menjadi pendidikan inklusi?
Berbicara mengenai pendidikan tidak bisa dipisahkan dengan peran seorang guru. Selama 15 tahun menjadi  seorang peserta didik dengan 2 tahun terakhir menjadi seorang pendidik, memberikan warna-warni karakter sang pendidik serta memahami jasa mereka. Teringat pada guru-guruku di tanah kelahiranku. Kemudian sekarang dalam bimbingan seorang Abah yang tak pernah lelah mendidikku dan teman-teman seperjuanganku di tanah perantauan ini. Hanya kiriman Fatikhah yang dapat ku lakukam untuk membingkai rasa syukurku atas ilmu yang telah diberikan. Semoga Allah menempatkan mereka di tempat yang terbaik di akhirat kelak. Aamiin

Tulisan ini tidak berfokus pada apapun, hanya mengeluarkan isi pikiran setelah membaca tulisan seorang dosen panutanku, mengenai pendidikan inklusi dan membaca tulisan kawan seperjuanganku di Bandung.

Tulisan ini hanya perenungan saja.